Sisir?..No, Thx

Think Straight! kampanye yang kerap dipasang beberapa salon di jalan menuju rumahku. Awalnya aku cuek dan tak begitu menanggapi slogan pelurusan rambut yang dulu sempat booming (bahkan sampai saat ini). Sempat berpikir pasti keren punya rambut hitam lurus alami, mudah diatur, dan ga perlu lagi menyikat rambut yang kumel diterpa angin. Apalagi hanya bisa dirapikan dengan jari…wuiihh..pasti asyik, dan ga perlu terlalu sering menyikat rambut yang terlahir ‘bandel’.

Akhirnya tepat Jumat Agung lalu, aku bersiap membuat sebuah perubahan, dengan sedikit konsultasi sana-sini, minta ini itu, dan menghabiskan waktu sekitar empat jam, sampai pantat panas, aku memulai ritual yang aku yakini adalah sebuah penyiksaan pada bagian lain dari tubuhku.

Aku tahu, di balik keinginanku tampil beda, ada bagian dari diriku yang menangis mohon ampun, aku seperti menghukum diriku sendiri, aku tahu, bagaimana rasanya, menerima benda asing yang tak biasa diterimanya. Dari yang tadinya bertekstur bulat, dia dipaksa menjadi tipis dan memanjang beberapa mili…sorry if i make u hurt…:(.

Setelah jepit sana, jepit sini, oles sana, oles sini, tarik sana, tarik sini, dan beberapa ritual lainnya yang membuat kepalaku makin pusing akhirnya aku berhasil membuatnya selicin lantai porselen.

Ada perubahan dalam diriku, meski hanya sebagian kecil dan tak begitu berarti, tapi sesuatu yang baru tetap aja selalu merubah kebiasaan. Aku harus mulai membiasakan diri menahan gerah dan meninggalkan ikat rambutku, entah sampai kapan…yang pasti aku sudah tak perlu lagi menyikat rambut..aku hanya butuh jari-jariku. Sisir? No thanks.

11 thoughts on “Sisir?..No, Thx

  1. #aikmaniskali: wah kalo yg ini kasusnya beda pal….aku mengiklaskan kepalaku untuk diobok-obok, yang dulu itu bener² bad hair day :d

  2. walah mari oleh nos-bu (baca bonus) langsung nyalon mbak iki .. if i would have stay longer, paling saiki wis ‘bancakan’ bareng2 hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published.