My Trip to Yogya (I)

Ini kali kedua aku datang ke Yogya, bukan sekedar jalan-jalan, tapi untuk menghadiri pernikahan rekan kerja yang belum pernah aku temui. Ya gimana mau ketemu, aku di Malang, dia di Jakarta. Awalnya mau pergi seorang diri, tapi opmanku berkeras harus ada seseorang yang menemaniku. Dan akhirnya aku pergi dengan salah satu teman opisku, lumayan juga sih ada teman ngobrol waktu jalanan macet.

Jumat pagi aku masih ngantor seperti biasanya, dan sekitar jam 13.00 baru pulang, siap2 packing, dan nunggu travel yang rencananya akan jemput jam 14.30. Karena sesuatu hal, travel baru jemput jam 14.30, itupun harus muter2 dulu jemput penumpang lain. Belum cukup dibuat mobil yang jalannya lambat, kita juga dihadang kemacetan gara2 lumpur lapindo. Dan akhirnya kita lewat gang2 tikus yang juga jadi jalan alternatif tembus ke lingkar timur menuju sedati, jalan tembus menuju Juanda.

Makin bete aja, karena udah magrib kita masih aja muter2 di jalan2 tikus, dan perut udah kelaparan banget (belum sempat makan siang), sementara jam 18.30 kita harus boarding. Sibuk menggerutu dan pasang muka masam karena sopir yang terlalu lemot dan kondisi jalan yang tak ramah, akhirnya kita sampai di Juanda pukul 18.25 tepat. Its amazing., ternyata pak sopir punya perhitungan lebih jitu daripada yang selama ini kami bayangkan. Sorry buat pak sopir, karena kita udah berpikir jelek :(.

Dengan langkah panjang, kita bergegas menuju area penerbangan domestikl, menunjukkan tiket kami dan menuju loket maskapai Lion Air. Untung loket boardingnya masih buka, dan dengan hati lega kita berdiri di antrian penumpang. Sial datang lagi, saat antrian kurang 7 orang, koko baru sadar kalo dompetnya ketinggalan di travel, gara2 saku celananya yang terlalu lebar. Ya..akhirnya kita keluar dari antrian, aku call pak sopirnya (untung beliau masih di loket penerbangan internasional), Koko mengambil kembali dompetnya, dan akhirnya kita kembali ngantri di urutan terakhir dan dapat seat 35 C dan E., seat paling belakang :(.

Nunggu penerbangan dengan perut lapar, kita berharap bisa segera terbang, membayangkan nasi hangat dan empuknya ranjang hotel. Sial, pesawat delay dan baru fly jam 21.30, sungguh menyebakan, karena kitra harus nunggu 2 jam lebih. Karena udah laper berat, akhirnya kita makan di bandara meski kita sadar harganya sangat tidak manusiawi (bagiku)!!

Dari beberapa cafe yang kita lewati mulai ujung utara sampe selatan, akhirnya pilihan jatuh ke LA Cafe, yang menurut koko dipilih karena lumayan ramah dari asap rokok (tapi tetap aja bagiku ga ramah di kantong..hiks). Dari semua menu yang ditawarkan kita memilih yang termuarh, dan itupu masih 30 ribu per porsi. Aku makan mie bakso (30 ribu), dan lemon tea panas (18rb), sementara Koko makan soto madura (32 rb) dan capucino (22rb), total plus pajak senilai rp105 rb. (makan siang termahalku).

Usai makan kita mampir ke toko buku di depan cafe, lumayan banyak buku-buku dan majalah impor yang bisa dibaca, tapi ga perlu dibeli, karena aku sadar banget harganya akan membuatku bisa tersenyum :d. Lumayan lama kita di sana, sampai akhirnya capek, beranjak cuci muka, duduk2 bengong, dan akhirnya kita terbang….Yogya, I’m coming.

Leave a Reply

Your email address will not be published.