Muntah, Aibkah?

Seperti biasa angkot selalu menjadi armada utamaku beraktivitas dari rumah ke kantor ataupun sebaliknya. Tak ada yang istimewa dengan angkot yang aku naikin, tetap berdesak-desakan dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal, tapi hari ini lain. Ada sesuatu yang membuatku berpikir lebih jauh dari sekedar naik angkot, melewatkan kebiasaan melihat teman seperjalanan, mengamati situasi jalanan, ataupun hanya duduk diam melepas lelah.

Saat itu ada enam orang yang duduk di bagian belakang angkot. Aku, seorang pemuda lumayan cakep tapi masih ijo, satu gadis muda yang sibuk SMS-an, satu bapak2, dan seorang ibu muda dengan anak lelakinya yang masih berusia sekitar lima tahunan.

Awalnya tak ada yang istimewa, biasa aja, tapi keadaan menjadi lain saat di perempatan SKI, tiba2 si anak muntah dan cipratannya mengotori celana dan sebagian bajuku, yang duduk tepat di depannya.

Bekas makanan bercampur cairan lambung membasahi bajuku, aroma khas muntah pun mendominasi angkot kami. Sedikit shock, pegel, dan jijik dengan muntahan itu, tapi yang bikin aku kaget saat si ibu muda itu mencubit dan memarahi anaknya, mengumpatinya dengan kata2 kotor yang tidak pantas diucapkan seorang ibu pada anaknya.

Si kecil yang malang hanya bisa menangis, takut, dan pasrah menerima cubitan, jeweran dan makian ibunya. Kami saksi dari kejadian itu tak bisa berbuat apa2, aku sendiri yang kena imbas hanya bisa berkata,” Ga pp mbak, saya ga marah kok, nanti juga bisa ilang kalo dicuci, memintanya agar tak memarahi anaknya.”

Sayang kata2 ku hanya seperti angin lalu, si ibu terus ngomel dan berkata bahwa si kecil patut mendapat hukuman itu, karena dia telah bikin malu dan bersikap tak sopan.

Oh, Tuhan, hanya sebuah muntahan yang mungkin bukan sebuah niat/keinginan yang sengaja ingin dilakukannya tapi si kecil harus menerima perlakuan seperti layaknya dia telah melakukan kejahatan, padahal itu hanya mabuk perjalanan dan bukan perbuatan dosa. Ironis.

Akhirnya aku hanya bisa menahan diri sambil berusaha membersihkan bekas muntahan dengan tisu dan berharap segera pulang dan mencuci bajuku.

Mmmm, sedikit menyadari mungkin banyak orang menganggap muntah mabuk perjalanan (bicara di luar konteks muntah gara2 masuk angin, keracunan atau hamil muda), sebagai sebuah hal yang menjijikkan, bikin muak dan sangat menganggu orang lain (apalagi yg ada di sekitarnya). Mabuk ini pun bisa dialami di manapun, darat, air, maupun udara, dan menjangkiti semua usia. Penyebabnya? Ya mungkin karena tidak terbiasa naik kendaraan atau kondisi badan yang kurang fit saat bepergian.

Tapi bisakah sedikit menyadari kondisi si ‘pemuntah’, pernah kah kita bayangkan rasa pahit di mulut, kerongkongan kering, mual, perut yang seperti di aduk-aduk, pening, dan segala rasa tak nyaman untuk segera mengeluarkan semua isi perut. Bagi mereka, hal itu akan sangat melegakan dan membuat nyaman, tapi bagi orang di sekitar, sebagian besar justru mengolok-olok, memarahi atau justru merasa direpotkan, dan tak segan segera menutup idung.

Yang jelas jika disuruh memilih mereka ga akan mau mabuk perjalanan, bahkan mereka rela minum bertablet2 anti mabok atau menambal pusar dengan tembakau dan salonpas. Mmm, ribetnya…untung aku bukan termasuk golongan ‘pemabuk’.

2 thoughts on “Muntah, Aibkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.