laris..laris [semoga]

Sebelumnya aku tak pernah memikirkan lokasi jualan akan sangat mempengaruhi laris-manisnya dagangan, asal kita telah memiliki pelanggan tetap, pasti dagangan kita laku. Ternyata aku salah, setelah peristiwa pembersihan oleh satpol pp awal Mei lalu, kami sempat rehat sejenak sambil menunggu situasi tenang.

Sampai akhirnya sekitar akhir Mei lalu kami mulai jualan dan berharap ga lagi kena gusur dan mendapat berkah di tempat baru. Ternyata aku salah, dari yang bisanya hanya jualan 2-3 jam, kini harus molor sampai enam jam, itu pu harus membawa pulang sisa dagangan dan membuang adonan sisa yang ga mungkin bisa digunakan esok harinya.

Sedih..jelas iya, terlebih melihat bapak-ibu yang jarang sekali mengalami situasi fakir pembeli seperti ini. Selain lokasi yang letaknya tusuk sate (tepat di seberang gang rumahku), dan tertutup pohon², kami harus satu lokasi dengan seorang kapitalis yang memungut uang parkir jualan sebesar 3 ribu rupiah setiap harinya, hari aktif ataupun saat libur jualan, dengan total per bulannya 90 ribu rupiah. Sebuah pajak yang lumayan mahal untuk sekedar berjualan singkong goreng. Padahal kami hanya menggunakan trotoar di pinggir jalan saja.

Untuk menghindari dagangan sepi dan menghindari ‘pajak harian’, akhirnya kami memutuskan pindah dan berharap ga akan ada lagi gusuran (karena menurut info ‘pembersihan’ kadang juga dilakukan malam hari). Tapi kami nekat, berbekal keyakinan, doa, dan semangat, Sabtu kemarin kami akhirnya kembali ke lokasi yang lama. Seharusnya rencana ini dilakukan seminggu lalu, namun karena bapak terlalu percaya dengan penanggalan jawa yang menyebutkan Sabtu Pahing adalah hari yang baik, akhirnya baru kemarin kita pindahan.

Dan Alhamdililah, dari yang biasanya selalu menyisakan dagangan dan membuang adonan sisa, kini kamu pulang dengan kemenangan. Kami kembali mendapat berkah, dan yang penting aku tak lagi melihat wajah muram ortuku saat pulang dengan dagangan penuh. Terima kasih atas berkahnya Tuhan 🙂

5 thoughts on “laris..laris [semoga]

  1. dari dulu, relokasi yang digagas oleh pemerintah daerah hanya menimbulkan masalah baru, tidak pernah memberi solusi.

    *ngebayangin musiknya hans zimmer mengalun saat membaca paragraf terakhir*

Leave a Reply

Your email address will not be published.