Basah…basah..basah Lagi

Dengan menyandang dayung kita naik ke truk yang dibagi dalam dua rombongan. Aku ikut dalam rombongan pertama yang membawa kita ke start poin, yaitu ke dusun Angin-angin, desa Ranu Gedang dimana perahu telah menanti kami. Setelah berjalan melewati jalan setapak sekitar 1-2 km dengan suasana murni pedesaan, kami segera sampai ke tepi sungai yang arusnya ga seberapa deras.

Aku, Reyno, Teddy dan Anton Io sampai lebih dulu di tepi sungai meski nafas udah ngos2san, maklum kami dah lama ga jalan jauh, sementara Erlin dan Moniq jauh tertinggal di belakang.

Akhirnya setelah semua tiba di sungai, kami mulai masuk ke perahu kami masing-masing, untung aku mendapat guide yang OK banget. Usmadi namanya, bisa dibilang dia guide yang benar-benar guide. Kenapa aku bilang begitu, karena selain membimbing kami Uus juga mengenalkan nama dan karakter setiap jeram yang kami lewati. Ga seperti guide di tiga perahu lainnya yang sama sekali tak menjelaskan jeram yang mereka arungi, jadi sampai akhir pengarungan mereka sama sekali ga tahu jeram apa yang telah mereka lewati. Dan kenapa mereka juga ga tanya ya? *sigh*

Ini juga terlihat saat kelompok lain tak memiliki nama, tapi kelompok kami memilikinya, dan kami menyebut diri kami macan, ga ada arti khusus, asal sebut aja, karena kami emang ga siap bikin nama, tapi lebih penasaran dengan jeramnya. Tapi paling ga saat Uus berteriak Macan, kami lansung memukul dayung kami ke air, tanda kami siap kembali melarung.

Saat semua perahu sudah siap, kelompokku yang mengawali start dan petualangan dimulai dengan melalui jeram Selamat Datang (welcome). Arusnya deras banget, dengan kelokan tajam dan karang yang menjorok tajam ke arah sungai, saat melewati jeram ini, Uus teriak boom, sayang aku teledor dan kurang sigap, alhasil terbentur karang dan lebam deh lengan sebelah kiri …hehehe..tapi ga bakal bikin kapok, perjalanan tetap lanjut.

Kerjasama yang solid antar kelompok dan guide yang berpengalaman benar-benar membuat derasnya arus tak begitu terasa, apalagi kita disuguhi aneka ragam flora di kanan kiri sungai dan beberapa fauna liar seperti monyet, biawak, kalong, kelelawar ikut menyapa kehadiran kita…cool banget.

Sungai yang bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan ini memiliki ± 50 jeram, dari penjelasaan Uus, aku hanya sempat mengingat jeram welcome, batu jenggot (karena tebing di pinggir sungainya banyak ditumbuhi tumbuhan menjalar, yang jadi sangat mirip jenggot), pandawa, rajawali, xtravaganza, jeram inul (dimana banyak sekali batu kecil2, sehingga kita harus ngebor agar perahu tak nyangkut di bebatuan) tripple ace, the fly (nah, saat melewati jeram ini, seharusnya kita bediri, agar saat perahu terjun dari jeram jadi serasa seperti terbang), Matador (jeram yang ditengahnya ada holenya, yang membuat perahu kita berputar-putar jika kita tak bisa mengendalikannya), hiu, cucak rowo (katanya sering ada burung cucak), long rapid, lumba-lumba, jeram raden, jeram pipis (karena di pinggir tebingnya ada satu celah yang mengeluarkan air, jadi sepintas mirip pancuran air pipis), dan Good bye.

Ga hanya itu, kita juga melewati tujuh air terjun yang sangat mempesona (kalau ga salah hitung), gua-gua kelelawar, stalagtit dan stalagmit indah hasil ukiran alami. Ada satu air terjun berukuran besar, bagus banget, apalagi kalau airnya menimpa badan, wah seperti dipijat rasanya…seneng banget waktu di sini, sayang bau kotoran kalong dan buah busuk bikin ga betah lama-lama berada di sini.

Setelah beberapa saat beraung jeram, kami beristirahat di rest area, tepatnya di Kedung Adem-adem. Di sana kita disuguhi pisang goreng, susu panas dan teh jahe. Beristirahat dan menghangatkan diri sebentar, kita saling bercerita dan berbagi pengalaman. Setelah beberapa menit, kita kembali melanjutkan perjalanan mengingat langit sudah mulai mendung dan jika hujan turun, bisa dipastikan arus akan bertambah deras.

Kita kembali ke perahu masing-masing dan siap mendayung lagi. Tiba di satu kelokan tajam dengan batu besar di sebelah kanan, yang seperti membentuk sebuah kolam dalam ukuran gede banget, kami berhenti (lebar sungainya sih rata-rata 5-20 meter). Guide menepikan perahu kami dan meminta kami naik ke bukit dan melompat dari ketinggian 5-6 meter. Mereka menyebutnya ‘Fantastic Jump’, meski diancam perjalanan ga bakal dilanjutkan kalau belum melompat (tentu saja gertakan doank), namun ada beberapa anak yang keukeuh ga mau melompat, dengan alasan takut dan ga bisa berenang. Karena aku penasaran, akhirnya aku ikutan melompat, dan yakin ga bakal ada apa2, karena dah pake pelampung jadi nekat aja ikutan lompat dari atas tebing, meski aku tahu sungai ini lumayan dalam (sekitar 1-3 meter). Dan akhirnya….hup…byurrrr….blepp…lega deh, ternyata enak juga, seperti terbang dan rasanya ga bisa dijelasin, walo sedikit merasa deg-degan.

Setelah puas melompat, mengapung, dan mainan air, kita kembali ke perahu dan melanjutkan pelarungan, dan sampailah pada jeram terakhir….jeram Goodbye…hikss…ga nyangka kalo kita harus mengakhiri perjalanan indah ini. Rasanya jarak ±12 kilometer yang ditempuh selama ± 3,5 jam ga terasa sama sekali. Kami harus menyudahi petualangan kami di finish point dusun Gembleng, Desa Pesawahan, dan masih harus berjalan melewati jalan setapak sejauh 1-2 km lagi menuju tempat mangkal truk yang akan membawa kami kembali ke base camp Noars.

Tiba di base camp, kami berfoto sejenak, meski aku lebih memilih ga ikut sesi foto karena mules on the way :d. Setelah membersihkan diri, kami makan dengan lauk yang benar-benar sederhana banget, penyet tempe dan iwak pe, sop, sayur lodeh dan urap-urap. Mmmm…lumayan enak buat perut kami yang sudah keroncongan minta diisi.

Sembari menunggu kenyang mereda, ngobrol sana-sini dan menunggu hujan reda deras, akhirnya kami pamit tuan rumah tepat menjelang magrib tiba.

Karena esok harinya kami masih libur kami memutuskan meneruskan liburan ke Pasir Putih dan menginap di sebuah penginapan pinggir pantai. Ga banyak yang kami lakukan di sini, hanya tidur, sebagian main kartu dan yang lainnya ngobrol.

Pas jam enam pagi, aku dah bangun, jalan2 ke Pantai dan lihat suasana pantai yang tak seindah 8 tahun silam.. Ga ada kesan yang berarti disini. Tepat jam 10 kita check out dan mampir makan siang di sebuah resto dan meluncur ke Malang.

Sekitar jam 15.00 kita nyampe kantor, ada yang langsung pulang, ada yg langsung nyalain PC, ngecek mail, ataupun langsung ngejunk. Aku sendiri langsung kirim mail ke bos kecil di Jakarta, sekalian nyelesein gawean sedikit. Tepat jam empat hengkang dari opis bareng seorang teman, yang emang niat aku temenin, biar ga nyasar lagi sekalian nemenin aku beli es campur.

Setelah jam sekian-sekian akhirnya nyampe rumah, melempar ransel ke pojok kamar, bersihin diri dan akhirnya tewas di kasur hangatku…zzzz……..indahnya hari liburku.

7 thoughts on “Basah…basah..basah Lagi

  1. walopun ga ada monas, etc, tapi di sana bisa ketemu saudara kamu Yo, yg lg asyik bergelantungan di pohon sambil lihat kita rafting…

    *lg bayangin parjo makan pisang*

Leave a Reply

Your email address will not be published.