Aku, Istri, Suami, dan Teman

Naik angkot selalu memberi pengalaman tersendiri bagiku. Tadi sore naik angkot yang sopirnya lagi tengkar ma istrinya. Pengennya sih tutup kuping dan ga mau dengar perdebatan mereka, sialnya aku lupa bawa MP3, dan duduk pas di belakang sopir. Ya terpaksa mencerna setiap umpatan dan mendengarkan dengan seksama, karena ga ada pilihan lain, mau turun sayang banget, karena harus buang duit 2 ribu, ya udah milih tetap stay di angkot yang sama dan membiarkan telinga ‘dipaksa’ mendengarkan urusan rumah tangga orang lain.

Awalnya sih kondisi cukup tenang, seperti naik angkot pada umumnya, tapi tepat di per4an Klojen, pak sopir yg usianya sekitar 30thn menyuruh dua teman yang menemaninya nyupir sejak tadi untuk turun dr angkot. Kenapa? Usut punya usut ternyata ada istrinya yang berdiri kaku dengan muka ditekuk di depan Ultras. Ya, kelihatan banget kalau dia lagi marah.

Masuk angkot, dengan emosi, mbak sopir (aka. the driver’s wife), langsung menyerang pak sopir dengan segala umpatan dan kemarahan. Dengan logat bahasa Malangan, dia mulai memarahi suaminya yang masih bergaul dengan si ini dan si itu, dan memberi mereka uang yang tidak patut mereka dapatkan.

“Emang opo’o, arek2 mek jaluk rong ewu, ga masalah, jek nututi setoranku.”
“Rong ewu lek bendino yo kebacut mas, elingo sampean wes due bojo, ga usah dulin karo arek2 iku.”
“J*****, ngatur ae, arek2 iku yo koncoku dewe, masio pengangguran.”….dst (sempat berpikir, berat mana ya antara istri dan teman?)

Aaahh…kupingku sakit, mencoba terus memikirkan hal2 lain, memikirkan menu makan malam, mikirin kamu, mikirin kerjaan, mikirin rencana liburan, membuang perkataan mereka jauh2, tapi ….gagal. Aku tetap dipaksa mendengar hal2 yang tidak aku inginkan, aku berharap segera sampai tujuan dan lepas dari urusan RT ini.

Seandainya aku punya keberanian, ingin rasanya bilang ke pak sopir, dan memintanya menyudahi pertengkarannya , karena kami (red.para penumpang yg senasib dg ku) layak dpt perlakuan baik meski hanya membayar 2 ribu perak, tapi kita tetap pelanggan yang butuh ketenangan utk menikmati perjalanan…sayang aku hanya bisa menahan dalam hati, dan berharap sampai tujuan dan akhirnya berkata ‘Kiri Pak’….thx God…I’m home.

8 thoughts on “Aku, Istri, Suami, dan Teman

  1. klo suruh milih between wife and pren, aku milih pren saat siang, wife saat malem. hehehe, seharusnya mbak sopir tidak memulai pertengkaran di tempat umum, terang saja si sopir mangap2. juga, tentunya si pak sopir punya alasan kenapa kok kasih duwit ke temen2 nya.
    – defensif mode

    btw, nih blog kok ceritanya angkot melulu y???

  2. Kapan sih Rajajowas-Klojen iso duwe jalur sepur underground, dadi umak ga perlu ngerungokno supir tukaran karo bojone 😛

    btw, Ta, programmer-mu kongkon gawe RSS, puyeng ki gano feed e hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.