A Father’s Affair

Sudah hampir sebulan puasa belanja buku, dan minggu lalu akhirnya pergi ke Gramedia book store. Tidak ada niatan untuk membeli tapi hanya survei dan membuat list buku² apa saja yang akan kubeli jika dana mencukupi.

Seperti biasa, menuju bagian New Release, rak Diskon, sastra, baru ke rak² lainnya. Banyak buku baru dan rata² membuat bernafsu untuk membuka segelnya. Tapi ga jadi karena banyak hari itu penjagaan lebih diperketat dibanding hari biasanya, maklum weekend.

Ada satu buku berjudul A Father’s Affair, kalau dibaca dari cover belakangnya ceritanya biasa, tapi ada embel² ‘International Best-Seller.’ Dengan penasaran aku membolak-balik tumpukan buku dan mencari-cari adakah buku yang keluar dari kemasannya. Akhirnya aku menemukannya dan dengan semangat kubuka halaman satu, dua, tiga…dan membacanya sampai dua bab, yang membuatku semakin enggan melepas buku karya Karel Glastra Van Loom ini.

Jalan ceritanya lugas dan ringan, bertutur tentang seorang ayah yang mencari ayah kandung dari seorang bocah berusia 13 tahun yang selama ini dikira sebagai putranya. Membolak-balik halaman yang isinya tentang penyelidikan akan siapa ayah kandung putranya, terasa begitu menyedihkan dan menyakitkan. Apalagi jika membayangkan perasaan Armin Minderhout yang tahu bahwa Bo bukan putra kandungnya, karena dokter telah memvonisnya mandul dan kenyataan itu diketahuinya saat dia berniat menikah lagi. Bertanya pada Monika, ibunya Bo, tak mungkin dilakukan, karena wanita yang pernah menjadi istrinya itu sudah meninggal saat Bo berusia tiga tahun.

Penasaran dengan siapa ayah kandung Bo, dan kaki yang pegel karena berdiri selama sejam lebih, akhirnya aku membalik halaman belakang dan meruntut lagi halaman yang menceritakan siapa ayah kandung si Bo.

Usil memang, tapi aku penasaran, meski segan untuk membelinya. Tapi paling tidak aku bisa keluar dari Gramedia dengan lega karena akhirnya aku tau siapa ayah Bo sebenarnya, dan sungguh diluar dugaan, ternyata Bo dan Armin adalah kakak beradik. (*spoiler warning*)

Ya..pada akhirnya aku memang tak membelinya, tapi aku cukup mengagumi novel karya Karel Glastra Van Loon ini dan mengutip sebuah kalimat yang cukup berkesan dan menulisnya di folder Note Hpku: “Mana yang lebih baik, hidup dengan jawaban yang tidak disukai, atau hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab?”

Jika aku disuruh memilih dua option tersebut, aku tak akan bisa memilihnya tapi aku sangat yakin, pihak gramedia akan memilih pengunjung sepertiku untuk segera keluar dan tokonya.

2 thoughts on “A Father’s Affair

  1. Mana yang lebih baik, hidup dengan jawaban yang tidak disukai, atau hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab?

    Bagi yang suka pilihan pertama, selalu ingin tau belum tentu baik, karena ada quota dalam setiap manusia, belum tentu mampu menampung semua fakta kehidupannya.

    Bagi yang memilih pilihan kedua, terlalu takut pada fakta juga belum tentu baik, karena untuk menentukan langkah ke depan haruslah dengan tau permasalahannya.

    So,

    HEAVY BIRD-DAY !!!!!!!!!!

    Note:
    Eh, judul buku di atas itu wishlist tah? ;))

Leave a Reply

Your email address will not be published.