Winter and Night

Ayahmu itu tidak waras. Dia hampir membunuhmu.
Dia ayahku.
Itu bukan salahmu.
Ternyata tidak berhasil. Adikku tidak pulang.
Tindakanmu tetap benar.
Meskipun tidak berhasil?
Sejak kapan kebenaran diputuskan dengan berhasil atau tidak?

Bill harus hidup dengan semua rasa kebencian itu hampir 30 tahun lamanya. Dan saat dia harus menemukan anak yang hilang, dia seperti terlempar kembali ke masa lalu. Masa di mana orang dewasa mengkhianati anak-anak, yang tak kuasa harus menolak bahkan mereka harus hidup dengan tumpukan kebohongan dan ambisi masa lalu.

Sedikit gambaran tentang novel misteri Winter n Night karya SJ Rozan yang diterbitkan 2006 lalu. Membaca novel yang saya beli dalam edisi hilang akal ini saya seperti melihat film Mystic River. Meski saya tidak pernah membaca novelnya, tapi benang merahnya hampir sepadan, yakni saat dosa masa lalu kembali ditarik ke masa sekarang, dan si tokoh utama harus berhadapan dengan masa lalunya yang kelam. Menyakitkan tapi harus tetap dihadapi.

Dua cerita ini mimiliki kemiripan, tapi jika disuruh memilih saya lebih memilih Winter and Nite yang tak segelap Mystic River.

Bersama partnernya Linda Chin, Bill harus menguak kekerasan yang terjadi pada remaja yang hidup di kota yang sangat mengagungkan futbal lebih dari apa pun, meski nyawa seorang gadis dan seorang bocah (yang mereka sebut tidak keren) harus melayang untuk kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Kota futbal yang tak kenal ampun dengan ‘anak-anak tidak keren’ ini begitu memuja pahlawan mereka. Pahlawan yang berbadan ‘nyaris’ seperti raksasa, pahlawan yang berlatih keras bahkan jika mereka harus merobek otot, meretakkan tulang, dan muntah di lapangan. Mereka adalah pahlawan, dan mereka boleh melakukan apa pun tanpa ada yang menghentikannya. Pahlawan-pahlawan itu adalah anak laki-laki yang dikuasai ambisi, kesombongan & ego untuk membenarkan tindakan mereka.

Bill harus berjuang menghadapi pria-pria dewasa yang memanfaatkan ‘anak-anak raksasa’ itu demi dendam dan ambisi masa lalu. Dendam ini dikemas begitu manis dan rapi meskipun harus menjalani dan merancang misi pembalasan dalam balutan kebencian dan rasa sakit hati selama 23 tahun. Rasa sakit yang dialami anak-anak tidak keren ini akhirnya terbalaskan dalam satu pendidikan yang mencetak pria berkarakter dengan slogan ‘kalau kamu pemain futbal hebat, kamulah pemilik dunia’….slogan yang membuat ayah-ayah di kota gila futbal menitipkan anak lelaki mereka pada sosok yang pernah mereka aniayai 23 tahun lalu.

Rozan menulis penuh karakter, penuh rasa marah dengan sikap orang dewasa yang mengkhianati anak-anak mereka. Bahasanya yang ringan mampu mengikat saya untuk terus membaca buku setebal 617 halaman ini dan mengamati bagaimana pria-pria dewasa tidak pernah beranjak dewasa demi ego sesat mereka. Ya, bisa dibilang Winter and Night menggetarkan dan unpredictable.

Note:
Anak-anak tidak keren adalah mereka yang bertubuh kerempeng, berkaca mata, kutu buku, bertampang culun, tidak populer, jelas-jelas tidak bisa tampil modis. Hobi utamanya pergi ke perpus, membaca, bermain papan luncur dan aktif di dunia maya.

Anak-anak raksasa adalah atlit futbal yang berbadan tinggi besar, berbahu lebar dan berbadan bidang. Rata-rata sikapnya arogan dan hobi bikin kerusuhan, terutama wild party pra/pasca pertandingan akbar. Mereka juga suka menumpahkan coke ke kepala anak-anak tidak keren, menenggelamkan wajah dan kepala anak-anak tidak keren ke toilet, melempari mereka dengan bola basket, mengolok-ngolok mereka dengan nama apa pun yang mereka inginkan, bahkan memaksa mereka makan kotoran anjing.

*Ditulis 15 menit yang lalu by bazzberry sambil nunggu hujan reda dan mendengarkan adzan Isya*

4 thoughts on “Winter and Night

  1. iya neng, kita tetap menjadi orang biasa untuk orang lain, tapi jadi luar biasa untuk diri sendiri.

    ini postingan juga mengukur kelihaian jari2 gemukku di atas papan kibod BB, dan berhasil lo :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *