Telat Nikah Itu Aib?

Mukanya kuyu, ada galur² di pipi tembemnya yang terlihat jelas. Sepertinya dia baru menangis. Dia datang di siang yang terik, mengajakku duduk di kafe tak jauh dari tempatnya mengajar. Sambil menyesap es teh, dia berkata, melajang atau ngoyo cari suami?

Mukanya datar dan menunggu jawabanku, tapi aku belum juga berkomentar. Aku masih asyik dengan kue klepon yang alotnya mengalahkan karet ban. Akhirnya kusudahi pertarunganku dengan kue klepon jahanam itu, meneguk es jeruk dan pelan berkata, ikuti saja kata hatimu.

Terus terang, aku tak bisa membantunya. Ini bukan kali pertama dia curhat masalah yang sama. Usianya 35 tahun. Usia yang ditakuti wanita hanya karena mereka belum menikah. Teror pun datang dari keluarga dan lingkungan yang terlihat peduli dengan status singlenya, tapi sebenarnya mereka justru bikin empet.

Baginya belum menikah itu seperti aib atau dosa yang harus ditanggung sampai jodoh itu datang. Dia tak mencuri, berbuat zinah atau melakukan tindak kriminal, dia hanya belum menikah. Terasa berat ditanggung, karena dia harus ikut takaran masyarakat yang membuat aturan tak tertulis bahwa wanita di atas 35 tahun dan belum menikah itu seperti aib.

Aib karena dianggap tak laku, sementara usia wanita untuk beranak pun ada batasnya sebelum digerus menopuase. Susahnya lagi, teman sepergaulan sudah mulai berkurang, semua sibuk ngurus anak dan keluarga. Jika ada waktu senggang, mereka biasa hangout bareng dan tentu membawa serta si kecil. Otomatis waktu ngrumpi makin berkurang karena semua sibuk dengan si kecil yang kadang rewel dan ujung-ujungnya dia tersisih dan juga iri. Ah…acara hang-out bareng teman pun tak seseru dulu.

Sudah nyoba biro jodoh online? kataku mencoba memberi opsi. Tidak! dia menjawab tegas. Baginya go public di biro jodoh hanya seperti orang putus asa dan benar² tak laku. Dia malu dan tak mau beresiko berhubungan dengan pria dari dunia maya.

“Aku kan tidak mau nikah dengan sembarang orang, cari iman yang bisa membimbingku dunia akhirat. Banyak pria yg sesuai kriteriaku tapi semua sudah laku. Kalau pun belum laku, mereka yang menolakku. Karena kemasanku buruk. Aku pernah mencobanya, dan berakhir dengan penolakan, bahkan berteman pun mereka tak mau, hanya karena mereka khawatir aku sakit hati. Ingin melajang, tapi ibu pasti terluka dengan keputusanku.”

Siang itu tak ada solusi yang bisa kuberikan. Saya cuman mengakhiri obrolan dengan sedikit basa-basi. Katanya jodoh sudah ada yang ngatur tinggal bagaimana kita mencari dan menerima kekurangan diri. Susah memang jika sudah melibatkan masalah hati, tapi sampai kapan mau bertahan dengan hati yang keras dan tak bisa berkompromi dengan situasi? Ujung²nya malah sakit sendiri dan membuat label telat nikah semakin menebal. Coba benahi kemasan, berkompromilah dengan diri, bergaulah, rendahkan ego dan berdoalah. Tuhan pasti sayang umatnya yang tak laku. Bagaimana?

Dan teman saya semakin manyun, berdiri dan berlalu menuju kasir. Saya hanya bisa nyengir, melihatnya mengangkat pantat besarnya beranjak dari kursi dan bergumam, saat ini tak ada solusi untuk jodohnya, entah nanti.

Note: terinpsirasi kegalauan seorang teman

One thought on “Telat Nikah Itu Aib?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *