<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz &#187; mimpi</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/tag/mimpi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 18:25:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Membeli Rumah Second</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/02/membeli-rumah-second/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/02/membeli-rumah-second/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 18:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[akta]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[kpr]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[notaris]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Membeli rumah itu gampang² sulit, butuh nekat dan keyakinan untuk menentukan pilihan area, serta persiapan finansial. Bicara tentang finansial tentu saya belum sekaya itu untuk membeli rumah secara cash dan memutuskan untuk mengambil KPR. Ada beberapa step saat membeli rumah mulai pengurusan admin KPR dan akad rumah. Dan karena saya cukup bosan ditanya beberapa teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membeli rumah itu gampang² sulit, butuh nekat dan keyakinan untuk menentukan pilihan area, serta persiapan finansial. Bicara tentang finansial tentu saya belum sekaya itu untuk <a href="http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/">membeli rumah</a> secara cash dan memutuskan untuk mengambil KPR. Ada beberapa step saat membeli rumah mulai pengurusan admin KPR dan akad rumah. Dan karena saya cukup bosan ditanya beberapa teman bagaimana prosedur apply KPR, akhirnya saya putuskan menulis di blog saja, mumpung lagi nganggur juga :d. <span id="more-310"></span></p>
<p><strong>KPR</strong></p>
<p>Kebetulan saya memilih KPR BTN yang memang lebih umum dan digunakan sejuta umat untuk kredit rumah. Saya beli rumah second, jadi segala hal langsung saya urus sendiri bukan dibantu oleh pengembang seperti halnya saat beli rumah baru. </p>
<p>Keuntungan membeli via KPR adalah jangka waktu yang panjang, jadi angsuran yang dibayar dapat sejalan dengan ekspektasi peningkatan penghasilan dan tentu inflasi&#8230;heheh..kalo yang ini hanya pemikiran pribadi saya, selain buat menenangkan diri jika salary saya akan naik setiap tahunnya :d. *praying*</p>
<p>Berkas-berkas yang harus disiapkan:<br />
- Fotocopy KTP. Bisa KTP gabungan suami dan atau istri jika sudah menikah<br />
- Fotocopy Kartu Keluarga<br />
- Fotocopy NPWP (warga bijak taat pajak kan? *doh*)<br />
- Keterangan penghasilan atau slip gaji (ini bisa dimark-up sesuai kebutuhan kita), tentu diskusikan dengan pihak internal tempat kita bekerja *wink*<br />
- Laporan transkasi rekening bank selama 3/6 bulan. Bank akan meneliti aktifitas finansial kita yang digunakan sebagai persetujuan apakah kita mampu mengambil KPR<br />
- Fotocopy sertifikat SHM &#038; IMB. Fotocopy lebih dari satu, sebagai arsip kita karena aslinya disimpan Bank </p>
<p><strong>Administrasi KPR</strong></p>
<p>Dari hasil ngobrolan dengan kreditur BTN, rata² cicilan rumah maksimal 30-50%% dari penghasilan tetap (bisa gabungan istri &#038; suami), tentu tergantung juga dari rule setiap bank. Biaya yang harus ditanggung di awal membuka KPR:</p>
<p>- Biaya administrasi (besarnya berbeda untuk setiap bank)<br />
- Biaya penilaian (appraisal): rata-rata Rp150 ribu. Biaya ini digunakan untuk membayar officer bank yg menilai kelayakan rumah yg akan kita beli mulai dari kondisi rumah (termasuk usia bangunan), lokasi rumah, dan perkiraan harga rumah jika dijual kembali. Biasanya appraisal officer ini cukup membantu debitur, toh mereka posisinya juga seperti sales yang butuh duit juga.<br />
- Biaya APHT (Akta Pemasangan Hak Tanggungan) antara bank dan kita: biayanya rata-rata sekitar 1-3 jutaan, tergantung juga dengan nominal pencairan plafon KPRnya.<br />
- Provisi bank: 1% dari plafon kredit<br />
- Biaya notaris (di luar pengurusan akta jual beli), istilah bank-nya sih SKMHT: rata2 sekitar Rp150 ribu<br />
- Saldo blokir: Rp50 ribu (berbeda di setiap bank)<br />
- Biaya buka rekening (jika belum jadi nasabah di bank yg bersangkutan)<br />
- Angsuran bulan 1 (angsuran mengendap)<br />
- Asuransi kebakaran<br />
- Asuransi Jiwa: kalau yang ini cukup menguntungkan, jika di tengah kredit kita terkena musibah yg membuat tak bisa lagi membayar KPR, asuransi yg akan membayar lunas hutang kita.<br />
Kalau di BTN saat ini semua asuransi menggunakan asuransi Jiwa Sraya.  </p>
<p><strong>Plafon KPR</strong></p>
<p>Biasanya sekitar 80% dari harga rumah, tapi juga tergantung dari appresiasi dari Bank. Biasanya harga rumah yang kita beli selalu dinilai lebih rendah oleh bank, jadi pastikan siap-siap dana tambahan untuk membayar kekurangan dana yg tidak dipinjami bank.  </p>
<p><strong>Akad Rumah</strong></p>
<p>- Fotocopy IMB, dan juga PBB selama 10 tahun ke belakang<br />
- Fotocopy NPW, KTP, KK<br />
- Biaya balik nama, akta jual beli dan pengecekan sertifikat ke BPN &#038; PPAT: rata-rata biaya notaris untuk rumah medium (ukuran Malang) sekitar Rp1-2 juta. Tentu harga bisa berbeda sesuai dengan lokasi rumah yang dibeli. Semakin elit lokasinya, semakin mahal harganya.<br />
- Biaya pajak pembeli: 5% x [NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) - NPOPTKP (Nilai Peroleh Objek Pajak Tidak Kena Pajak)]</p>
<p>NPOPTKP area Malang rata-rata sekitar Rp20 juta, tergantung lokasi kabupaten atau kotamadya. Nilai ini diurus notaris, jadi kita ga perlu mikir pusing lagi, karena terlalu ribet *sigh*.  </p>
<p>Untuk pajak penjual tentu lebih mahal karena tidak dikurangi NPOPTKP, dan hanya dihitung 5% dari NJOP. NJOP ini sendiri bisa dinego dengan pihak notaris, agar harga pajak jual beli juga tidak terlalu tinggi, tapi juga tetap masuk akal sesuai dengan luas tanahnya. Meski jatuhnya juga tetap saja mahal :d.</p>
<p>Periode waktu pengurusan tetek bengek di atas biasanya sekitar 1-3 bulan, karena antrian pengecekan akta dan balik nama. Jika memang butuh cepat, bisa disiapkan &#8216;dana2&#8242; lain yg memudahkan proses pengurusannya, terutama di BPN. Namun jika ga terlalu buru-buru, lebih baik menggunakan jalur regular saja, lebih halal dan aman di kantong :d. </p>
<p>Jadi, membeli rumah itu cukup mudah kan? yang penting siapkan dana dan waktu, juga mental mengingat dunia perbankan dan notaris benar2 membuat kantong terluka. So, happy home buying <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/02/membeli-rumah-second/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bye Room&#8230;</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/01/bye-room/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/01/bye-room/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 08:22:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya tidur untuk terakhir kalinya di kamar yang sudah 8 tahun saya tinggali. Ada banyak kenangan, pengalaman, rasa takut, keberanian, kekonyolan, dan berbagai kegiatan privasi yang pernah terekam di kamar ini. Bagi saya, kamar ini unik, karena:
- dindingnya hanya dibangun tiga perempat dari tinggi rumah. Jadi saat hujan, rintik air tak jarang masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini saya tidur untuk terakhir kalinya di kamar yang sudah 8 tahun saya tinggali. Ada banyak kenangan, pengalaman, rasa takut, keberanian, kekonyolan, dan berbagai kegiatan privasi yang pernah terekam di kamar ini. Bagi saya, kamar ini unik, karena:</p>
<p>- dindingnya hanya dibangun tiga perempat dari tinggi rumah. Jadi saat hujan, rintik air tak jarang masuk dan membuat basah beberapa bagian kamar termasuk buku &#038; barang² yang ada di lantai.<br />
- dindingnya masih batu bata. Alhasil kadang kaki, siku, dan tangan saya lecet², gara² posisi tidur yang terlalu mepet ke dinding.<br />
- atapnya bukan asbes, tapi triplek (plywood) yang kondisi sudah agak melembung karena tikus yang suka berlarian di atasnya. Bagian sudut triplek juga berlobang gara2 dicemili tikus dan juga soak karena rembesan air hujan.    <span id="more-306"></span><br />
- tanahnya bukan keramik, tapi masih lantai semen yang baru dibuat saat kita pindah rumah. Nah, karena masih semen, jadi cepat sekali berdebu. Dan karena semen biasa, jadi saya ga ragu lagi membuang air bekas cucian softlense dalam sekali lemparan tanpa peduli lantai jadi kotor, karena airnya langsung merembes ke lantai (baca: ini juga karena saya malas keluar kamar :d)<br />
- jika musim panas, ga perlu buka jendela atau pintu saat tidur, karena udara dan angin bebas keluar masuk dari atas dinding yang terbuka di bagian atasnya. Tidur pun jadi lebih nyenyak, meski bangun-bangun, terasa berdebu juga :d</p>
<div id="attachment_307" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2011/01/IMG00038-20110116-17381.jpg" alt="me &#038; my ex-room" title="IMG00038-20110116-17381" width="300" height="225" class="size-full wp-image-307" /><p class="wp-caption-text">di kamar 8 tahun saya</p></div>
<p>Meski terkesan ala kadarnya, tapi saya menyukai kamar ini karena ini kamar pertama di mana saya tak perlu lagi berbagi tempat dengan saudara. Kamar memang bagian dari rumah, tapi kamar bagi saya punya nilai lebih dari ruang-ruang lain dengan beragam fungsinya. Kamar tetap jadi tempat libur paling normal dari segala rutinitas dan tempat di mana segala mimpi dimulai. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/01/bye-room/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memotong keramik</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/12/memotong-keramik/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/12/memotong-keramik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 17:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Kurang dari sebulan, renovasi rumah mulai nampak hasilnya. Dinding ruang yang nantinya jadi kamar mulai diplamir, tanah sudah mulai diratakan untuk dipasang keramik lantai, saklar mulai dipasang sebagai penerangan jika cuaca mendung. Meja dan dinding dapur sudah mulai dipasang keramik dinding warna putih polos yang diselingi inserto (keramik dekoratif yang ukurannya sama dengan keramik utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kurang dari sebulan, renovasi rumah mulai nampak hasilnya. Dinding ruang yang nantinya jadi kamar mulai diplamir, tanah sudah mulai diratakan untuk dipasang keramik lantai, saklar mulai dipasang sebagai penerangan jika cuaca mendung. Meja dan dinding dapur sudah mulai dipasang keramik dinding warna putih polos yang diselingi inserto (keramik dekoratif yang ukurannya sama dengan keramik utama atau base tile-nya) motif kupu-kupu. </p>
<p>Nah, kenapa kupu-kupu? ga ada alasan sih, hanya suka saja, meski sebelumnya sempat kepincut dengan motif apel. Tapi tiga kupu-kupu di keramik ukuran 25 x 33 ini cukup simple dan manis dilihat. </p>
<div id="attachment_298" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0620-1.jpg" alt="Mutholib dan Keramik Kupu2" title="IMG_0620-1" width="300" height="225" class="size-full wp-image-298" /><p class="wp-caption-text">Mutholib dan Keramik Kupu2</p></div><span id="more-301"></span></p>
<p>Pemilihan motif, warna dan kualitas keramik ternyata bukan hal mudah. Tanya sana sini, browsing sana sini, juga tak banyak membantu karena akhirnya semua terserah selera pribadiku juga. Ternyata harga keramik itu mahal, terlebih granit, harga paling murah sekitar 100rb/meter, itu pun kualitas kelas B. </p>
<p>Ada beragam merek, ukuran, jenis materi dengan kualitas beragam, dan semuanya tergantung kemampuan kita. Penggenya sih beli porselen tile/granite tile merk Essenza, tapi di toko material yang ada di area Blimbing, harga termurah ada di kisaran 180ribu/dus. Itupun masuk label SALE yang artinya harga turun karena barang yang dijual bisa jadi beda motif dan ukuran beberapa milimeter. </p>
<p>Nah, karena harus menyesuaikan kondisi kantong, akhirnya pilihan jatuh di keramik merk Roman berukuran 40&#215;40 dengan warna putih polos mengkilat bermotif soft. Keramik dinding dan lantai dapur pun tetap menggunakan merek yang sama, yang menurut sales ataupun sejuta orang di luaran sana, merek pilihanku itu cukup bagus, tahan lama, dan anti gores (khusus untuk barang dengan kode G). Sengaja aku memilih ukuran 40&#215;40 agar terlihat lebih elegan dan cepat pemasangannya. Alasannya lainnya sih, biar ke depannya juga ga susah membersihkan kotoran yang sering nyangkut di nat-nat antar keramik. </p>
<p>Dan hari ini, seharian saya melihat-lihat kerja pak tukang, meski bisa diartikan menganggu mereka karena saya terlalu banyak tanya tentang ini dan itu. Hasilnya saya bisa memotong keramik menggunakan mesin pemotong keramik yang berdecit-decit menyakitkan kuping, sayang hasilnya jauh dari harapan alias tak simetris <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). </p>
<p><div id="attachment_299" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0622.-2jpg.jpg" alt="Alat pemecah keramik elektrik" title="IMG_0622.-2jpg" width="300" height="225" class="size-full wp-image-299" /><p class="wp-caption-text">Alat pemecah keramik elektrik</p></div>
<div id="attachment_300" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/12/IMG_0624-3.jpg" alt="Ini yang manual" title="IMG_0624-3" width="300" height="225" class="size-full wp-image-300" /><p class="wp-caption-text">Ini yang manual</p></div>
<p>Wew&#8230;pelajaran hari ini: ternyata memasang keramik itu bukan hal mudah, harus mempertimbangkan presisi, jadi antara ukuran keramik, dinding, dan border harus seimbang. Kata tukang saya, besar atau kecilnya keramik, yang penting harus presisi dan itu tergantung dari pemasangnya. Dan untuk urusan ini, saya percaya percaya kepada sampean saja Pak! :d </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/12/memotong-keramik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedah Kamar</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/11/bedah-kamar/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/11/bedah-kamar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 11:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[kamar]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menunggu hari baik untuk membangun rumah, akhirnya hari ini tembok bakal kamar saya mulai dibangun. Ruang yang nantinya akan menjadi kamar ini adalah bekas garasi mobil yang dibangun ala kadarnya, dengan pintu dari kayu papan yang sudah reot dan atap fiberglass yang sudah aus dan retak² di beberapa bagian.
Rencananya akan ada jendela menghadap barat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menunggu hari baik untuk membangun rumah, akhirnya hari ini tembok bakal kamar saya mulai dibangun. Ruang yang nantinya akan menjadi kamar ini adalah bekas garasi mobil yang dibangun ala kadarnya, dengan pintu dari kayu papan yang sudah reot dan atap fiberglass yang sudah aus dan retak² di beberapa bagian.</p>
<p>Rencananya akan ada jendela menghadap barat laut tepat di depan pohon mangga, jadi tembok yang awalnya berbentuk menyudut segi empat harus dibongkar membentuk trapesium rusuk sejajar. Rencananya (lagi), di bagian dalam akan ditambahkan kursi dengan posisi sejajar dengan tepi jendela. <span id="more-289"></span></p>
<div id="attachment_288" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/11/IMG00088-20101112-0819-2.jpg" alt="Room Season #222-1" title="IMG00088-20101112-0819-2" width="300" height="225" class="size-full wp-image-288" /><p class="wp-caption-text">Room Season #222-1</p></div>
<p>Entah bagaimana penampakannya nanti, saat ini hanya bisa berkhayal punya kamar berjendela tinggi, dengan bangku panjang tepat di bibir jendela dalam yang panjangnya seselonjoran kaki orang dewasa. Lalu, ada sandaran di kanan kirinya, agar bisa menyandarkan punggung yang sudah mulai menua :d. Sayang ini masih dalam skala khayalan, karena fokus utama adalah mengubah garasi menjadi kamar tidur. </p>
<p>Butuh proses yang cukup panjang, negosiasi ini dan itu dengan Pak Tukang sampai proses finishing selesai dan akhirnya saya siap menempati kamar baru saya :d. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/11/bedah-kamar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya&#8230;.</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 07:52:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[akta]]></category>
		<category><![CDATA[mangga]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[notaris]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;&#8230;lamaran saya pada 26 Juni lalu berakhir dalam proses akad yang berlangsung tak kurang dari 2 jam.  Bukan sebuah pesta perayaan cinta sepasang kekasih, tapi ikatan hati dan materi antara saya dan mimpi saya, yaitu sebuah rumah tinggal setelah sekian lama menjadi kontraktor. 
Senang, lega dan bangga melebur jadi satu saat saya bisa teken [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;&#8230;lamaran saya pada 26 Juni lalu berakhir dalam proses akad yang berlangsung tak kurang dari 2 jam.  Bukan sebuah pesta perayaan cinta sepasang kekasih, tapi ikatan hati dan materi antara saya dan <a href="http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/">mimpi saya</a>, yaitu sebuah rumah tinggal setelah sekian lama menjadi kontraktor. </p>
<p>Senang, lega dan bangga melebur jadi satu saat saya bisa teken akta jual beli di hadapan notaris pada Rabu (20-10-2010), sekitar jam 10:15 WIB. Bukan kesengajaan memilih tanggal cantik yang dipilih sebagian orang untuk menikah, tapi hanya sebuah kebetulan karena pemilik rumah baru bisa datang untuk menyelesaikan transaksi jual beli setelah pending selama 5 bulan lamanya dan baru bisa bertemu muka di minggu ketiga Oktober. <span id="more-285"></span></p>
<p>Tidak hanya rumah yang saya dapat, tapi juga pertemanan antara saya dan pemilik rumah lama. Kita menghabiskan waktu sekitar 3 jam di hari pertama berjumpa, tanpa banyak basa-basi, hanya menyelesaikan berkas dan kembali melanjutkan obrolan detail sekitar 2 jam keesokan harinya, sebelum kembali ke Bandung. Saya menyukai mereka sejak pertama kali bertemu. Nice seller, nice couple, and nice house.</p>
<div id="attachment_286" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/11/IMG00146-20100718-1004-22.jpg" alt="Home - season #222" title="IMG00146-20100718-1004-22" width="300" height="225" class="size-full wp-image-286" /><p class="wp-caption-text">Home - season #222</p></div>
<p>Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 222meter ini, bukanlah rumah gedong beratap pilar. Tapi sebuah rumah kecil dengan pohon mangga berbentuk ketapel raksasa yang memberi kesejukan plus bonus daun² yang rajin berjatuhan. Rumah ini bukan hanya tempat numpang tidur, tapi sebuah realitas mimpi untuk membangun mimpi baru lagi dan tentunya juga pemicu semangat agar makin giat bekerja untuk bayar angsuran selama beberapa tahun ke depan. After all, I make it happen :d.</p>
<p>By Bazzberry<br />
Ruko Soekat &#8211; 20102010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung Pangkal Selamat</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 14:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/</guid>
		<description><![CDATA[Saya memang terlahir dengan bakat rajin menabung, sekecil berapun nilainya pasti akan saya tabung tanpa ada tujuan pasti. Kebiasaan ini berlangsung sampai saat ini dan dengan pedenya saya selalu merasa kaya dengan menabung. Tapi keyakinan itu mulai meluntur dengan turunnya nilai uang dibarengi melonjaknya harga barang dan ga sepadan dengan nilai uang yang saya tabung.
Dulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memang terlahir dengan bakat rajin menabung, sekecil berapun nilainya pasti akan saya tabung tanpa ada tujuan pasti. Kebiasaan ini berlangsung sampai saat ini dan dengan pedenya saya selalu merasa kaya dengan menabung. Tapi keyakinan itu mulai meluntur dengan turunnya nilai uang dibarengi melonjaknya harga barang dan ga sepadan dengan nilai uang yang saya tabung.</p>
<p>Dulu saat masih SD saya selalu menyisihkan Rp5-25rp dari uang saku saya, dan berangkat ke Toko Buku Lengkap jika duitnya cukup untuk membeli buku incaran saya. Saat ini kebiasaan menyimpan receh tetap saja jalani, semua koin yang nyangkut di saku baju selalu berakhir di celengan kaleng susu bekas atau kalau ga berakhir di kantong tukang parkir. <span id="more-266"></span></p>
<p>Selain tabungan receh yang berguna buat kerokan, saya juga berinisiatif menabung sekian kecil persen dari hasil keringat saya di bank, tapi bukan untung yang saya dapat, tapi buntung karena saldo yang ga beranjak naik, justru tergencet potongan admin bank yang juga menelan habis bunga bulanan yang sejatinya jadi hak saya. </p>
<p>Berpikir dengan kondisi yang ada, keyakinan masa kecil saya bahwa menabung pangkal kaya rasanya sudah tak tepat lagi diterapkan. Dengan penghasilan yang dipangkas sana sini untuk melunasi tagihan dan mengerem nafsu konsumtif, di akhir bulan masih tersisa beberapa lembar rupiah dan jika ditabung pun belum tentu membuat saya kaya dalam waktu dekat. </p>
<p>Jadi wajar jika saya berujar menabung tak lagi pangkal kaya, karena saya menabung bukan lagi berniat kaya, tapi lebih sebagai simpanan keselamatan jika sewaktu-waktu saya butuh dana dan tak ada teman yang berbaik hati memberi duit cuma-cuma, jadi saya bisa menyelamatkan diri sendiri dan tak perlu lagi pusing berpikir hutang. </p>
<p>Beda dengan mereka yang menabung dengan digit yang nolnya tak terbatas, mungkin ungkapan menabung pangkal kaya masih sangat masuk akal untuk diterapkan. Dan kapankah saldo rekening saya tertera nol-nol tak terbatas itu?  *daydreaming*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Mimpi Sederhanaku</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 11:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Pohon, jangkrik mengerik, gemericik air adalah romantika masa lalu yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Alangkah nikmatnya bisa memiliki dua hal itu sekaligus dalam satu waktu. Bagi kami, rumah tidak sekedar tempat numpang tidur, tapi juga tempat bertemu keluarga, berbagi cerita, suka dan duka. Rumah juga satu paket dengan alam, lingkungan dan juga tetangga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pohon, jangkrik mengerik, gemericik air adalah romantika masa lalu yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Alangkah nikmatnya bisa memiliki dua hal itu sekaligus dalam satu waktu. Bagi kami, rumah tidak sekedar tempat numpang tidur, tapi juga tempat bertemu keluarga, berbagi cerita, suka dan duka. Rumah juga satu paket dengan alam, lingkungan dan juga tetangga sekitar. </p>
<p>Dan kami sadar menjemput rumah impian dibutuhkan perjuangan yang cukup panjang, setidaknya untuk tinggal di rumah yang baru kita tempati dua bulan yang lalu. Tak hanya memeras keringat, tapi juga memutar otak saat harus mencari pinjaman berbungan lunak untuk DP ngutang ke bank, negosiasi dengan makelar sampai <a href="http://bazzcethol.com/2006/06/x-new-house-tax-and-me/">mengurus tetek bengek</a> berlembar-lembar dokumen hitam di atas putih harus saya lakukan sendiri, tapi semua terbayarkan dengan sebuah rumah yang menjadi impian bapak sejak 20 tahun lalu. </p>
<p>Bukan rumah gedong berpilar tinggi, tapi hanya rumah sederhana dengan halaman cukup luas dengan keteduhan pohon rambutan di sudut kiri rumah. Pohon itu sudah ada di sana sejak kami pindah, dan pemilik rumah lama meminta kami untuk tidak menebang pohon itu, karena banyak kenangan di sana. <span id="more-149"></span></p>
<p>Ya, saya sendiri memang tidak berniat menebangnya, toh puluhan batang dan ratusan daunnya cukup membuat dingin rumah kami, dan kami menyukainya <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Pohon rambutan itu hanya satu dari sekian sudut rumah yang membuat saya jatuh cinta. Halaman belakang seluas 8 x 10 meter cukup memberi tempat beternak selusin bebek untuk menemani bapak menghabiskan waktu senjanya. Sebuah kesibukan yang sangat didambakannya sejak menderita stroke selama 2 tahun lebih.</p>
<p>Masih di halaman belakang, ada sepetak tanah kecil yang bisa dimanfaatkan ibu untuk memupuk beberapa bunga dan tanaman toga yang sudah ditabungnya saat kami menempati rumah kontrakan selama 8 tahun lamanya, dan untunglah rumah baru ini memberi tempat lumayan luas untuk tanaman ibu. </p>
<p>Sementara bagian dalam rumah tak sebagus luarnya, kami masih harus melakukan beberapa perbaikan di sudut langit-langit rumah. Bekas air hujan yang merembes ke dalam tampak membuat noktah yang saling bertautan satu sama lainnya, dan seperti membentuk gugusan rasi bintang. Tentu tidak seindah rasi bintang di kelamnya malam, tapi justru menganggu mata saat menengadah kepala dan melihat kumpulan noda kecoklatan itu. Butuh beberapa polesan semen putih dan memperbaiki genteng retak yang jadi salah satu pemicu noda-noda itu. </p>
<p>Rumah bercat putih yang catnya mulai memudar ini memiliki 4 kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tengah. Dapur cukup besar, dan nantinya akan kami fungsikan menjadi satu paket dengan ruang makannya, toh tidak akan banyak orang yang tinggal di rumah ini, hanya aku, bapak dan ibu. Jadi tidak perlu memiliki ruang makan sendiri, jika kami bisa menyulap dapur menjadi ruang yang multifungsi. Kadang juga buat meja mengiris sayur serta tempat bapak membaca koran dan minum secangkir teh hangat.</p>
<p>Kamarku ada di bagian depan rumah, dengan posisi lebih menjorok dari ruang tamu utama. Ada jendela besar dilengkapi teralis di sudut kiri kamarku, berseberangan langsung dengan pohon rambutan. Yah, pastinya pohon itu akan melindungiku dari sinar matahari saat pagi datang karena kamarku menghadap timur. Setidaknya beberapa rimbun daunnya tak akan mengantarkan sinar matahari langsung ke kamarku dan aku masih bisa menikmati beberapa saat lebih lama meringkuk di selimut hangatku :d.</p>
<p>Sementara kamar bapak dan ibu ada di seberang kamarku, dan tidak ada yang istimewa dari kamar-kamar di rumah ini. Tapi kami sangat menyukainya karena setiap kamar memiliki jendela besar dan ventilasi yang cukup, tak seperti bekas rumah kontrakan kami yang fakir ventilasi. Ya, ciri khas perumahan padat penduduk yang direnovasi total hanya untuk memperluas ruang tinggal tanpa memikirkan sirkulasi udara. </p>
<p>Di halaman depan, di seberang pohon rambutan, masih ada sisa tanah, tidak luas, hanya 5 meter, tapi rencananya nanti akan kita letakkan sebuah pot pendek bermulut lebar. Di dalamnya akan kita isi air, dua daun teratai dan sebuah selang yang akan disambung sedemikian rupa sampai menciptakan pancuran kecil yang bekerja dengan daya listrik. Di sebelahnya, akan kita tempatkan beberapa rimbun tanaman dan satu kursi taman dari kayu dan besi berwarna hitam dan coklat dengan ukiran pada sandaran dan pegangan kursinya. Sebuah kursi manis yang saya lihat seharga 1,5 juta di ace hardware, cukup mahal untuk sebuah kursi taman <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Tapi itu masih jadi angan-angan dan bukan prioritas kami, toh yang harus kami perbaiki masih banyak, seperti memastikan selokan pembuangan kotoran tidak mampet, membuat dua tiang di halaman belakang untuk menjemur baju, mencat pagar dan dinding rumah agar terlihat lebih manis, dan melepas stiker di pintu depan rumah. Hal yang paling aku benci saat pertama kali melihat rumah ini. Semoga dengan bantuan bensin atau alkohol, bekas stiker bandel bergambar singa raksasa itu bisa hilang, sebelum aku mencatnya dengan cat minyak warna coklat muda. </p>
<p>Mungkin setelah melakukan beberapa renovasi kecil di dalam dan luar, waktunya untuk  memikirkan membeli beberapa perabot yang memang sengaja tidak kami beli saat masih mengontrak. Ya, beberapa mebel yang jadi incaranku di lelang barang display masih ada di my wish list, tapi semua harus ngantri, karena budjet bulan ini mulai dialihkan untuk mencicil biaya rumah selama 10 tahun. Waktu yang lama, dan penuh perhitungan untuk mulai berhemat dan berpikir ekonomis. Tapi tak masalah, asal aku bisa melihat ibu menyapu daun-daun jatuh di bawah pohon rambutan dan bapak dengan selusin bebeknya di halaman belakang rumahnya sendiri. Dan itu membuat saya bahagia.</p>
<p>Ya itulah selama lebih dari 10 tahun, yang saat ini belum aku miliki, tapi aku yakin bisa memilikinya dalam waktu dekat ini, entah kapan, karena aku tak bisa meramal nasibku sendiri, tapi aku begitu yakin bisa membuka pintu rumah itu, bersama bapak dan ibu. Amin. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

