June 27th, 2011
435.
Apa yang biasa dilakukan anak-anak saat liburan sekolah? Bisa jadi merayu orang tuanya untuk liburan ke taman rekreasi/hiburan, pergi ke rumah opa/oma, atau hanya ngegame sampai teler. Selain tuntutan hiburan, ada satu aktivitas yang biasa dilakukan saat liburan panjang, yaitu sunat. Sepanjang jalan antara kantor dan rumah, selama satu minggu ini, selalu saja ada hajatan sunatan, mulai perayaan sunat sendirian sampai sunatan masal.
Hari Sabtu lalu, saat kebetulan pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, saya pun turut menikmati acara sunat, bukan diundang sih, lebih tepatnya terjebak kemacetan di salah satu ruas jalan perumahan yang distop karena ada acara sunatan masal. Sunatan ini digelar di pelataran masjid dan diikuti lebih dari 100 anak, bisa dibayangkan betapa ramainya kondisi saat itu, mulai dari para orang tua mengantar anak sunatan, pedagang makanan dadakan, jukir, dan juga hansip.
Read the rest of this note »
Tags: bahasa, manusia, seksi
Noted down in MyDay | Permanent link
May 1st, 2011
392.
Namanya Moerdani, usianya di atas 65 tahun, memiliki 4 anak yang semuanya sudah menikah. Tinggal di Muharto, Malang, meski aslinya adalah orang Tulungagung. Tapi sudah merasa jadi orang Malang karena tinggal di Malang selama lebih dari 20 tahun lebih.
Mengayuh becak adalah profesi yang dijalananinya selama 10 tahun terakhir, sejak tahun 2000 yang kala itu masih menarik becak milik juragannya. Tapi pertengahan tahun 2005, Pak Moerdani sudah bisa memiliki becak sendiri dengan jalan mengangsur selama setahun.
Read the rest of this note »
Tags: becak, manusia
Noted down in Bazzberry, Jalan-Jalan, MyDay | Permanent link
April 27th, 2011
378.
Jalan-jalan ke Blitar tak lengkap rasanya tanpa makan soto selain ngemil uceng dan es pleret. Pekan lalu saya kembali jalan ke Blitar dan tak lupa mampir soto favorit saya, soto Mbok Ireng yang terletak di pojokan perempatan Jalan Kelud, kota Blitar.
Soto yang ditawarkan adalah soto dalam mangkuk kecil, dengan taburan koya, daging sapi dan jerohan dengan irisan cukup gemuk, taoge, irisan daun bawang dan bawang goreng, kecap, dan sambal jika suka pedas. Ya, isinya sih seperti default soto khas Jawa pada umumnya, hanya yang membedakan adalah kuah soto yang lebih ringan dan segar (tidak seperti soto pada umumnya yang kuahnya berlemak), aroma kaldu yang gurih, jeroan dan daging yang easy to chew alias ga alot, membuat soto ini jadi favorit saya.
Read the rest of this note »
Tags: blitar, hobi, ikan, manusia, soto, uceng
Noted down in Jalan-Jalan, MyDay | Permanent link
April 22nd, 2011
356.
Saya bukan skuteris, tapi saya hanya boncenger yang beberapa kali ikut event skuter, dan ternyata para skuteris itu unik, dengan segala atribut antik dan guyonan khas tanpa basa-basi palsu. Mereka penuh warna, beragam dan ajaib. Sayangnya, saya hanya sempat mengabadikan sedikit foto saat event di Pasar Krembangan, Sidoarjo, Sabtu – Minggu (16-17 April) lalu.
Read the rest of this note »
Tags: kaki, malves, manusia, skuter, Vespa
Noted down in Jalan-Jalan, Vespa | Permanent link
April 22nd, 2011
332.
Saya termasuk orang yang ga gemar ganti-ganti status di Messenger, entah di YM, Gtalk, bahkan BBM. Dan, sekalinya online dan ganti status pastinya banyak fans yang nyamper dan bertanya status saya atau sekedar menyapa dan iseng komentar: ‘tumben pake status’.
Nah, pertanyaan di atas cukup banyak saya terima saat Sabtu malam lalu, saya mengganti status BBM saya yang biasanya kosongan, dengan status: Today: Sleep anywhere, under the sky. Beragam komen ditujukan dari yang iseng atau sekedar tanya serius, semuanya hanya bikin BBM saya nge-lag :d.
Read the rest of this note »
Tags: kaki, malves, manusia, pasar, skuter, Vespa
Noted down in Jalan-Jalan, Vespa | Permanent link
April 20th, 2010
245.
Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.
Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya.
Read the rest of this note »
Tags: keponakan, manusia, odong-odong
Noted down in Bazzberry, MyDay | Permanent link
December 7th, 2009
213.
Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita.
Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup. Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri.
Read the rest of this note »
Tags: manusia, pasar
Noted down in MyDay | Permanent link
November 21st, 2009
171.
Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial.
Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.
Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang.
Read the rest of this note »
Tags: kaki, manusia
Noted down in MyDay | Permanent link
November 18th, 2009
164.
Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi.
Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.
Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan ‘manusia belerang’ yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.
Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya.
Read the rest of this note »
Tags: ijen, kawah, manusia
Noted down in Keringetan | Permanent link
October 19th, 2009
161.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 – 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm.
Tapi tidak masalah jika saat saya mengambil sepeda, si tukang parkir membantu menarik sepeda saya yang kadang posisinya terhimpit dengan sepeda² di sebelahnya dan cukup menyulitkan saya. Sayangnya tidak semua tukang parkir memiliki kepedulian kepada pelangganya. Ada kalanya mereka justru duduk ngobrol dengan teman mereka dan membiarkan pelanggan susah payah mengeluarkan sepeda miliknya.
Read the rest of this note »
Tags: manusia, parkir
Noted down in MyDay | Permanent link