Sunatan Masal (#Saru)

Apa yang biasa dilakukan anak-anak saat liburan sekolah? Bisa jadi merayu orang tuanya untuk liburan ke taman rekreasi/hiburan, pergi ke rumah opa/oma, atau hanya ngegame sampai teler. Selain tuntutan hiburan, ada satu aktivitas yang biasa dilakukan saat liburan panjang, yaitu sunat. Sepanjang jalan antara kantor dan rumah, selama satu minggu ini, selalu saja ada hajatan sunatan, mulai perayaan sunat sendirian sampai sunatan masal.

Hari Sabtu lalu, saat kebetulan pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, saya pun turut menikmati acara sunat, bukan diundang sih, lebih tepatnya terjebak kemacetan di salah satu ruas jalan perumahan yang distop karena ada acara sunatan masal. Sunatan ini digelar di pelataran masjid dan diikuti lebih dari 100 anak, bisa dibayangkan betapa ramainya kondisi saat itu, mulai dari para orang tua mengantar anak sunatan, pedagang makanan dadakan, jukir, dan juga hansip.

Saya terjebak di antara keriuhan para orang tua yang mengantar anak-anak mereka pulang, dengan senyum mengembang. Maklum sunatan masal cukup membantu mereka dari sisi ekonomi, tak perlu harus mengeluarkan duit lebih untuk proses yang katanya awal menuju tahap kedewasaan ini. Sementara para bocah pria berjalan tertatih-tatih dengan langkah lebar setelah eksekusi mini di area vital mereka. Hampir semua bocah mengenakan sarung, baju koko dan peci putih. Ekspresi wajah mereka terlihat campur aduk, bisa jadi sakit, senang, tapi juga aneh. Saya jadi penasaran bagaimana rasanya disunat.

Sambil melihat rombongan bocah-bocah, telinga kiri saya mendengar obrolan (#overheard) salah seorang hansip dan jukir, asyik ngobrol masalah sunatan. Selain acara sunatan ini menambah uang saku, mereka juga saling melempar guyonan saru khas orang jalanan. Dari sekian guyonan saru ini, ada yang guyonan yang membuat kuping saya berdiri, dan lidah kelu, saat mereka berujar, jika ada 100 bocah ikut sunatan masal, harusnya kulitnya kita kumpulkan, kulit sebanyak itu bisa dibuat krupuk rambak.

OMG, mendadak saya mual dan membayangkan krupuk rambak berlabel Sapi dengan tulisan: Krupuk Rambak Renyah, yang biasa saya beli ini terasa tak nikmat lagi. Obrolan dua pria ini melenyapkan senyum manis bocah-bocah yang baru saja saya lihat. Saya hanya berharap, kemacetan segera berakhir, saya bisa pulang dan tak memikirkan lagi sampah medis bagian tervital dari bocah-bocah itu. Aduh, tapi ternyata saya masih saja kepikiran hingga saat ini, dan menuliskannya di blog dengan hastag saru :d.

One thought on “Sunatan Masal (#Saru)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *