Seberapa Lenturkah Saya?

Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek.

Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita.

Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup. Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri.

captured by bazzberry - 29.11.09
captured by bazzberry - 29.11.09

Saya prihatin melihat beliau, dengan memakai tanktop pendek warna abu-abu, celana pendek selutut motif doreng yang pangkalnya ditekuk sampai pinggul dan memperlihatkan celana dalam putihnya, dan juga mengenakan sepatu kets putih. Rambut cepaknya dicat coklat kemerahan, wajahnya oriental, dan kerutan mulai muncul di wajahnya. Saya tak bisa melihatnya dengan jelas, karena jaraknya cukup jauh dari posisi saya berdiri, sementara beliau juga banyak bergerak, menari-nari di tengah jalan, kadang juga melompat, dan akhirnya duduk di sepeda yang diparkir di depan kios penjual pisang, bernyanyi lagu mandarin, sesekali juga dangdut sambil mengangkat dua tangannya, mengacungkan kedua ibu jarinya sambil bergoyang.

Saya tidak tahu apa yang dialami beliau, tapi apa yang dialaminya bisa jadi juga dialami orang lain, terbukti dalam tiga mingu terakhir koran Kompas rubrik konsultasi psikologis juga membahas sulitnya menjalani hidup, dan ujung-ujungnya hilang akal karena tidak tahan dengan cobaan hidup dan kemampuan resiliansinya (daya lenting) rendah. Istilah yang cukup awam bagi saya, meski secara kasar bisa diartikan dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan segala problema hidup walaupun keadaan terasa serba salah. Yah, bisa jadi terpelanting seperti ibu yang saya jumpai di pasar atau bisa jadi bertahan dan jadi pemenang. Mmm…kira-kira seberapa lentur saya menghadapi tantangan hidup ya?

Comments