Sebatang Pensil

Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.

Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya.

Si bocah sedang melihat neneknya menulis sebuah surat, dan dengan raut muka penasaran si bocah bertanya pada neneknya, apa yang dia tulis. Sambil masih menulis, si nenek menjawab bahwa dia menulis tentang cucunya, tapi yang lebih penting adalah pensil yang sedang dia gunakan untuk menulis, bukan surat yang sedang dia tulis.

“Mengapa pensil itu begitu penting? Aku lihat sama saja dengan pensil yang lain.”
Dengan senyum bijak, nenek menjawab: tergantung bagaimana kamu melihat sesuatu? pensil ini seperti halnya hidup kita.

1. Selalu ada tangan yang membimbing pensil (kita) untuk menulis dan berkarya, dan tangan itu adalah tangan Tuhan yang menuntun kita sesuai kehendaknya.

2. Pensil butuh diraut untuk menjadi lebih tajam. Sakit dan menguras tenaga, tapi karya terbaik lahir dari rautan yang tajam.
Seperti halnya kita, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi lebih baik lagi.

3. Pensil memberi kebebasan penghapus karet untuk menghapus kesalahan. Begitu juga kita, kita punya hak untuk menghapus kesalahan yang menghalangi jalan kita. Segera setelah kesalahan terhapus kita bisa kembali mengkoreksi dan melanjutkan jalan yang sempat terputus.

4. Bukan kayu pembungkus pensil yang paling utama, tapi granit terbaik yang ada di dalamnya. Pensil dari kayu murahan akan tetap tahan lama dengan granit kualitas terbaik. Seperti halnya kita, yang terpenting adalah apa yang ada dalam diri kita, bukan kain pembungkus raga yang kerap disalah-artikan.

5. Pensil selalu meninggalkan jejak dari apa yang dituliskannya di atas kertas. Sama halnya dengan kita, apa yang kita lakukan selalu meninggalkan jejak, jadi sadarilah dan waspada dengan segala hal pernah/akan kita lakukan.

Filosofi yang cukup menarik, terlebih saat itu saya sedang memegang pensil yang saya ambil dari hotel tempat saya menginap. Pensil dari kayu yang diamplas halus ini terlihat biasa-biasa saja, tapi sejak membaca kisah tadi, pensil ini jadi terlihat mirip saya secara abstrak, tapi secara fisik sangat jauh berbeda, pensilnya langsing sementara saya padat berisi :)).

Ah..sudahlah, saya capek menulis tanpa pensil di Bazzberry, sambil menunggu pesawat yang delay 35 menit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *