Rumah vs Jodoh

Ada yang bilang membeli rumah sama dengan cari jodoh, mulai dari proses hunting, pdkt, negosiasi, sampai proses akad, secara garis besar sama, sama-sama harus melibatkan hati, meski membeli rumah hanya melibatkan hati di satu pihak, beda dengan jodoh yang butuh sinkronisasi dua hati.

Awalnya saya sepakat dengan ungkapan tersebut, tapi setelah beberapa waktu berjalan dan sampai di tahap keruwetan mengurus tetek bengek rumah saya menyimpulkan jika mengurus rumah beda dengan mencari jodoh. Tentu saya punya alasan untuk argumentasi ini.

– beli rumah butuh duit banyak, kalau perlu rela utang melebihi anggaran yang ditetapkan. Nah, cari jodoh ga, karena hanya butuh hati, dan ongkos pacaran ditanggung berdua. Rasanya nikmat tanpa harus bikin kening berkerut.

– beli rumah butuh negosiasi dengan birokrasi yang ruwet. Dari yang kelas teri sampai yang baju rapi dan hobi senyum palsu bertopeng duit. Sementara cari jodoh hanya butuh negosiasi hati, dan birokrasi yang lebih nyaman. Ya paling-paling sebatas camer, ipar dan sekian banyak saudara yang harus mulai dihapal namanya.

– beli rumah butuh memantapkan hati lebih dari jodoh. Bagi saya beli rumah sama dengan memangkas kekayaan instan bulanan, tapi di satu sisi memperkaya saya untuk jangka waktu yang panjang. Nah, jodoh justru memperkaya hati saya setiap hari.

– beli rumah bukan sekedar urusan hati, tapi juga logika dan materi. Dari mikir budget, kondisi fisik bangunan, lingkungan, renovasi, dan finansial beberapa puluh tahun ke depan. Sementara jodoh, lebih banyak main hati, urusan fisik, bobot, bebet, peduli apa kata orang, Gombloh pun bilang tai kucing rasa coklat!

– beli rumah, beli masa depan. Toh, 5-10 tahun atau bertahun-tahun nanti harganya pasti melonjak, dan harus pintar-pintar mengatur kondisi dan juga pilih-pilih lokasi. So, kalau kondisi finansinal kepepet, rumah bisa dijual. Jodoh? mana mungkin saya jual suami saya untuk 15 tahun ke depan? :d.

Jadi bagi saya beli rumah dan jodoh ga bisa disamakan secara utuh, karena perbedaan fisik dan juga tujuan. Tapi apa daya, saya harus tetap mantuk-mantuk dan senyum manis jika bapak-ibu, kerabat tua, tetangga, sampai bapak-bapak yang sudah berbaik hati membantu saya mengurus rumah, tak ada hentinya memberi petuah, beli rumah sama dengan cari jodoh, jadi harus hati-hati, telaten dan jangan grusa-grusu. Saya sepakat dengan tiga hal ini saja, yang lainnya tidak.

6 thoughts on “Rumah vs Jodoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *