Pasar dan Sepasang Kaki

Gatal tak lagi dirasakannya meski beberapa semut berjalan berderet-deret melewati punggung kaki dan beringsut menuju remahan nasi tak jauh dari kakinya. Kaki-kaki kekar tanpa alas berjalan mondar-mandir melangkah di antara sepasang kaki telentang.

Sepasang kaki itu sangat kotor, hitam, penuh bekas luka koreng dan kapalan, tapi terlihat kuat. Kaki itu tak pernah mengeluh meski dini hari tadi harus berjalan puluhan kilometer menuju pangkalan pick-up yang siap mengantarnya ke pasar. 

Malam sebelumnya, sepasang kaki itu harus berjalan lebih dari beberapa ratus meter sekedar untuk mengambil air di belik. Air yang dibutuhkan untuk wudhu, buang hajat atau sekedar memasak air untuk segelas kopi/teh.

Siang sebelumnya, sepasang kaki itu harus berlomba dengan puluhan kaki yang lain. Bukan untuk lomba lari memperebutkan piala Pak Lurah, tapi untuk memetik sayuran sebanyak mungkin, bahkan kalau perlu sampai keranjang sayur tak lagi muat menampungnya.

Pagi sebelumnya, sepasang kaki itu harus berjalan sekian kiloan meter untuk mengantar cucian yang sudah tertata rapi, siap untuk diantar ke pemiliknya. Tak boleh terlambat, karena baju-baju itu dibutuhkan para juragan yang harus tampil necis tanpa cela.

Sepasang kaki itu tak pernah mengeluh, tak pernah menuntut untuk dipijit, direndam air hangat, atau melewati serangkaian proses pedicure dengan kuku-kuku yang dipoles cat warna merah mencolok. Sepasang kaki itu pun tak pernah merajuk minta sandal atau bangkiak yang konon lebih awet dibanding sandal karet buatan China.

Sepasang kaki itu pun tak menuntut. Dia cukup bahagia bisa selonjoran di atas aspal. Berteman dengan semut-semut yang rajin memijit lembut kulitnya, atau sekedar merasa pijakan kecil dan tendangan kasar dari kaki-kaki lain yang rajin melewatinya. Dia acuh dengan semuanya.

Sepasang kaki itu justru senang dengan riuhnya pasar. Hanya di pasar ini dia bisa selonjoran lebih dari dua jam menemani pemiliknya yang sudah mulai menua dan seharusnya tak perlu bekerja sekeras ini. Sepasang kaki berjanji tetap setia berjalan dan menopang tubuh gemuk dan renta ini, setidaknya sampai encok melumpuhkan sendi dan membuatnya tak lagi bisa berjalan jauh.

Siang itu, sepasang kaki sedang tersenyum. Dia bahagia, karena dia tak sendirian. Di pasar itu, ada banyak puluhan, bahkan ratusan pasang kaki yang bernasib sama dengannya. Dia bahagia, terlahir sebagai sepasang kaki pekerja, bukan sepasang kaki cantik yang tak pernah menikmati panasnya aspal, kotornya tanah dan sejuknya air sungai.

Sepasang kaki itu sedang bahagia…

psr-bazz-1782014

Terinspirasi: seorang ibu yang tertidur pulas di pinggir jalan pasar besar Malang (Minggu-17 Agustus 2014).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *