September 5th, 2010
272.
Ada yang bilang membeli rumah sama dengan cari jodoh, mulai dari proses hunting, pdkt, negosiasi, sampai proses akad, secara garis besar sama, sama-sama harus melibatkan hati, meski membeli rumah hanya melibatkan hati di satu pihak, beda dengan jodoh yang butuh sinkronisasi dua hati.
Awalnya saya sepakat dengan ungkapan tersebut, tapi setelah beberapa waktu berjalan dan sampai di tahap keruwetan mengurus tetek bengek rumah saya menyimpulkan jika mengurus rumah beda dengan mencari jodoh. Tentu saya punya alasan untuk argumentasi ini.
Read the rest of this note »
Tags: jodoh, rumah
Noted down in Bazzberry, MyDay | Permanent link
September 3rd, 2010
270.
Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.
Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke untuk menyandang status sebagai seorang istri dan ibu, tapi apa daya sampai saat ini belum ada pria yang berminat meminangnya. Apa yang salah? Teman saya bukan orang pendiam, dia aktif berorganisasi, ramah dan punya banyak teman, beragam cara cari jodoh dari kopdar ringan macam kenalan di SMS nyasar, sampai di FB juga pernah dicobanya tapi semua berakhir gagal.
Read the rest of this note »
Tags: jodoh, teman
Noted down in Bazzberry, Kawan, MyDay | Permanent link
September 1st, 2010
266.
Saya memang terlahir dengan bakat rajin menabung, sekecil berapun nilainya pasti akan saya tabung tanpa ada tujuan pasti. Kebiasaan ini berlangsung sampai saat ini dan dengan pedenya saya selalu merasa kaya dengan menabung. Tapi keyakinan itu mulai meluntur dengan turunnya nilai uang dibarengi melonjaknya harga barang dan ga sepadan dengan nilai uang yang saya tabung.
Dulu saat masih SD saya selalu menyisihkan Rp5-25rp dari uang saku saya, dan berangkat ke Toko Buku Lengkap jika duitnya cukup untuk membeli buku incaran saya. Saat ini kebiasaan menyimpan receh tetap saja jalani, semua koin yang nyangkut di saku baju selalu berakhir di celengan kaleng susu bekas atau kalau ga berakhir di kantong tukang parkir.
Read the rest of this note »
Tags: mimpi, tabungan
Noted down in Bazzberry, MyDay | Permanent link
August 29th, 2010
267.
Pascabajir lokal di kamar saya pada 21 Agustus lalu, ada satu pertanyaan dari ibu yang kala itu membantu saya membersihkan kamar. Kamu ini suka baca buku atau pengumpul buku? Nah, saya langsung bilang ’suka membaca lah’, sambil memilah-milah buku basah dan buku kering.
Setelah aktifitas mengeringkan kamar selesai, saya jadi berpikir ulang, apa benar saya suka membaca? Jika ditilik dari tumpukan buku yang saya miliki berapa banyak yang sudah saya baca? Sepertinya masih 30%nya saja dan aktifitas membaca lebih sering saya lakukan saat weekend atau setiap hari menjelang tidur sebelum akhirnya terlelap dimakan bantal.
Read the rest of this note »
Tags: buku, hobi
Noted down in Baca-Baca, Bazzberry, MyDay | Permanent link
April 20th, 2010
245.
Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.
Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya.
Read the rest of this note »
Tags: keponakan, manusia, odong-odong
Noted down in Bazzberry, MyDay | Permanent link
March 26th, 2010
250.
Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.
Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya.
Read the rest of this note »
Tags: jakarta, jjf, paulo coelho
Noted down in Baca-Baca, Bazzberry, Jalan-Jalan | Permanent link
March 25th, 2010
247.
Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.
Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38.
Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar.
Read the rest of this note »
Tags: jakarta, jjf, kerak telor
Noted down in Bazzberry, Jalan-Jalan, MyDay | Permanent link
March 23rd, 2010
237.
Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu sulit untuk dicerna.
Tapi semua anggapan itu terhapus saat awal Maret lalu saya terbang ke Jakarta untuk menghadiri perhelatan akbar musik Java Jazz 2010, atau lebih populer dengan nama JJF 2010, yang tahun ini mengambil tema Jazzin up Remarkable Indonesia.
Read the rest of this note »
Tags: jakarta, jazz, jjf
Noted down in Jalan-Jalan | Permanent link
February 19th, 2010
230.
Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang pesohor yang menurut saya cukup seksi, dalam kapasitas saya sebagai pengamat (bukan hardly-fans), dan kewajiban membantu rekan kerja saya:
Read the rest of this note »
Tags: pria, seksi
Noted down in MyDay | Permanent link
January 18th, 2010
221.
Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya sambangi saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar.
Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai di berbagai kota. Tapi uceng khas Blitar ini yang mengenalkan ikan kali lebih dari sekedar kudapan bergizi. Kali pertama saya mengenal uceng saat mampir ke warung Anda di daerah Bence, Garum. Warung yang sering saya singgahi saat perjalanan pulang ke Malang ini menyediakan masakan rumahan dengan menu andalan uceng dan udang sungai yang dimakan bersama nasi, sayur atau hanya sebagai cemilan saja.
Read the rest of this note »
Tags: blitar, ikan, uceng
Noted down in Jalan-Jalan | Permanent link