Naik Becak

Namanya Moerdani, usianya di atas 65 tahun, memiliki 4 anak yang semuanya sudah menikah. Tinggal di Muharto, Malang, meski aslinya adalah orang Tulungagung. Tapi sudah merasa jadi orang Malang karena tinggal di Malang selama lebih dari 20 tahun lebih.

Mengayuh becak adalah profesi yang dijalananinya selama 10 tahun terakhir, sejak tahun 2000 yang kala itu masih menarik becak milik juragannya. Tapi pertengahan tahun 2005, Pak Moerdani sudah bisa memiliki becak sendiri dengan jalan mengangsur selama setahun.

Sebelum memilih profesi akhir sebagai tukang becak, Pak Moerdani sempat menjadi kuli bangunan, kuli angkut dan melakukan beberapa pekerjaan kasar yang menggunakan tenaga, karena beliau tak memiliki bekal sekolah untuk dapat pekerjaan yang layak. Beliau hanya merasa beruntung karena ke-4 anaknya berprofesi lebih baik darinya, meski tidak ada yang bisa dibilang cukup kaya untuk membantu keseharian hidup Pak Moerdani, karena mereka sudah sibuk dengan keluarganya.

Pak Moer dan becaknya (by: bazzberry)
Pak Moer dan becaknya (by: bazzberry)

Lalu, apa hubungannya Pak Moerdani dan saya? Tidak ada, yang saya ceritakan di atas hanyalah obrolan saya dengan tukang becak yang mangkal di perempatan pasar Klojen dan kebetulan jasanya saya sewa untuk mengantar saya pulang seminggu yang lalu. Ini juga ceritanya terpaksa, karena saya bawa barang berat dan motor tukang ojek saya ngadat, mau naek mikrolet juga malas berdesakan dengan barang bawaan cukup berat. Naik taksi terlalu mahal, jadilah saya menyewa becak. Dan yang menakjubkan, dari Klojen ke rumah saya di Perumnas Sawojajar, beliau hanya menarik tarif Rp10 ribu, sementara jarak yang ditempuh lebih dari 2km.

Baginya duit Rp10 ribu sudah lebih baik dibanding tidak narik sama sekali, karena sekarang mbecak itu tidak seramai 7 tahun lalu, saat ini orang-orang sudah punya sepeda motor atau lebih memilih naik mikrolet. Becak hanya jadi idola para sesepuh yang menikmati waktu dan memilih transportasi yang santai dan kalem, tidak seperti orang muda (pekerja), yang sering kali dikejar waktu dan naik becak bagi mereka terlalu lama dan tidak efisien (ya, contohnya seperti saya ini :d).

Di sela-sela aktivitas dan kehidupan jalanan yang serba cepat, Pak Moer tetap sabar dan kalem mengayuh becaknya dan bercerita kehidupan masa lalunya. Saya pun sempat sliyer-sliyer mendengarkan dongengnya sambil merasakan semilir angin. Saya juga baru sadar, ini pertama kalinya saya naik becak lagi sejak terakhir mengantarkan bapak berobat ke RS dan itu sudah 9 tahun lalu! Duh, naek becak memang romantis klasik dan asyik *halah*.

One thought on “Naik Becak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *