My Trip to Bromo

Pergantian tahun 2008 ini aku lewati bersama Manus dan klub motor Kawasaki (BKRC) Malang. Meski awalnya hampir mengecewakan, tapi akhirnya everthing goes well dan happy ending. Ya, paling tidak, aku bisa sambang gunung Bromo lagi setelah turing terakhir bersama my best gal.

Planning awal berangkat pukul 3 sore, tapi karena beberapa kendala dan hujan yang terus mengguyur akhirnya kita berangkat hampir pukul 2 dini hari setelah sebelumnya melepas lelah di rumah p.Bambang, salah satu tetua Kawasaki, di daerah Pakis. (wuihh….penantian terpanjang yg pernah aku jalani, hampir 11 jam di jalanan).

Meski hanya tujuh rider plus aku sebagai partisipan, tapi tekad kami turing ke Bromo tetap bulat. Kami mengambil rute Purwodadi, lewat Nongkojajar karena lebih dekat dan kondisi jalannya lumayan bersahabat setelah sebelumnya survei pada 25 Desember lalu.

Sayang, perkiraan kami meleset, karena sepanjang jalan Nongkojajar menuju desa Tosari setelah POM bensin terakhir di sebelah kebun percontohan Strawbery, hancur gara-gara longsor. Dan hujan seharian semakin membuat jalan licin dan penuh kubangan air di kanan kiri jalan…..bisa dibilang tak ada alternatif jalan lain, terlalu ke kiri resiko masuk jurang, ke kanan juga ga mungkin karena sempitnya dinding padas yang licin dan tertutup dahan pohon/semak-semak yang jatuh karena hujan.

Gelapnya malam juga makin menyulitkan perjalanan kami. Lumpur, batu-batu ukuran kecil/besar, kubangan penuh air juga jadi jebakan sepanjang perjalanan kami. Terlebih Manus juga harus membonceng aku, jika aku terlalu banyak gerak dan tak bisa menyeimbangkan diri, bisa2 terlempar dari boncengan. Meski akhirnya kami berdua sempat jatuh juga gara2 sliding. Tapi kali ini jatuhnya lembut banget, karena kami sudah feeling bakal jatuh. Untung jatuh pas di tanah yang kering, ga kebayang deh jatuh di kubangan lumpur, bisa mirip kebo abis bajak sawah :d.

Setelah perjalanan melelahkan dan mendebarkan akhirnya kami tiba di Desa Tosari sekitar pukul 3.15. Masih terlalu pagi, jadi beberapa kios masih banyak yang tutup, tapi di beberapa sudut jalan tampak pengunjung lain yang berdiri atau duduk bergerombol menghangatkan diri.

Kami parkir motor di depan sebuah toko, mencuci kaki, cek kondisi sepeda, dan menuju warung membeli segelas kopi. Sekitar setengah jam kemudian kami menuju Penanjakan, bukan untuk melihat sunrise seperti tradisi wisatawan lainnya, tapi berkunjung ke warung Pak Ikhsan untuk ngopi dan makan mie. Dari info pak Ikhsan, selama empat hari ini kabut cukup tebal dan kondisi cuaca yang buruk membuat sunrise tak bisa terlihat dari Penanjakan, jadi ga bakal rugi jika kita memang tak berniat menuju Penanjakan.

Usai menghangatkan diri dan membuat perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju gurun pasir, padang rumput, tapi minus puncak gunung Bromo ataupun ke gunung Batok. Kami sempatkan photo session di padang alang2 dan menempatkan sepeda masing-masing rider pada photo shot terbaiknya, di tengah alang2, dengan latar belakang pegunungan dan birunya langit. Sebuah penghargaan untuk tunggangan kami, setelah menempuh track yang cukup sulit. Meski ridernya juga tak mau ketinggalan pasang aksi.

Photo shot kembali kami lakukan saat tiba di lautan pasir. Kondisi jalan yang basah dan lembab karena musim hujan membuat padang pasir sama sekali tak berdebu dan sangat bersahabat bagi pengendara sepeda motor. Puas bermain-main dengan motor kami, foto sana foto sini, kami memutuskan untuk pulang.

Perjalanan pulang tak kalah serunya dengan rute saat kita melewati Nongkojajar. Kali ini kita mengambil rute menuju Tumpang. Dari lautan pasir kita menuju ke hamparan padang savana yang menawan, yang selintas mirip dengan perbukitan New Zealand, hanya bedanya ga ada biri-biri yang merumput di sana :d. Aku sangat mengagumi savana ini, dengan harum aroma rumput Adas, ilalang, dan semak-semak khas pegunungan, rasanya sayang untuk menyudahi perjalanan ini.

Kami harus melewati jalan berlumpur dan kubangan air yang cukup dalam dan lebar, yang memaksaku harus berjalan kaki di antara rumput dan semak-semak tebal, dan melanjutkan berkendara dengan motor lagi, sampai akhirnya kami sampai di jalan paving menuju ke Gubugklakah atau Jemplang (kalo aku ga salah baca beberapa tonggak penunjuk jalan), dan melewati jalan menuju Coban Pelangi, dan lurus menuju ke Ponco Kusumo, dan melaju ke Tumpang.

Kami berhenti di pom bensin pasar Lawang, memberi minum kuda kami, dan menunggu undangan makan siang dari mbak Yeni, saudara P.Bambang yang menjamu kita dengan beragam makanan dan keramatamahan khas orang desa. Setelah perjalan yang melelahkan dan perut kosong mulai pagi, segelas kopi, air putih, dan sepiring nasi gerit (nasi jagung), sungguh terasa nikmat.

Usai mengenyangkan diri, membuat diri merasa nyaman, dan saling berkisah tentang perjalanan yang kami lalui, akhirnya kami pamit pulang, dan kembali rumah, menghabiskan sisa tahun baru bersama rasa puas, capek, dan kenangan indah padang savana serta serunya teman-teman BKRC. Thanks u guys, u make my day. Happy New Year, may all this happiness always be with you. GBUs.

10 thoughts on “My Trip to Bromo

  1. 1. turing kok pake sendal to nduk… ndak kesian jempolnya apa?
    2. jalurnya kebalikan sama aku, brgkt dr tumpang plg lwt pasuruan.
    3. ndlosor, ngglundung, gelimpangan di savana sampe motor koit, n ndorong smpe villa. secara pas itu musim kmarau.
    4. poto km keren rit… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *