Membeli Iba

Langit mulai mendung, dengan langkah bergegas dia mulai memasuki minimart yang tak jauh dari rumahnya. Di benaknya hanya ada dua hal, membeli beberapa barang dan pulang. Belum sempat tangannya membuka pintu minimart, matanya melihat seorang pria tua dengan pikulan berisi gambang yang nampaknya belum laku, duduk bersila di sudut minimart, di sebelah tumpukan tabung-tabung gas dan galon air mineral. Dia diam sejenak, mengacuhkannya dan berlalu masuk ke minimart.

Dari dalam minimart, dia melihat seorang ibu menggandeng gadis kecil datang menghampiri si penjual gambang. Ada senyum mengembang di wajah gadis kecil itu. Dia asyik memukul-mukul gambang dengan tongkat pemukul. Tak lama senyum itu menjadi tangis, saat si ibu menyeretnya kembali ke jalan, berlalu meninggalkan gambang-gambang yang berantakan.

Matanya kembali ke penjual gambang. Tak ada rasa kecewa di wajah tuanya, dia tetap tersenyum sambil merapikan gambang kembali ke tempatnya dan memukul merdu tiap lempengan gambang. Suaranya terdengar lirih dari dalam minimart, tapi meneduhkan.

Suara gambang menyihirnya sekilas, hingga dia teringat tujuannya datang ke minimart. Dengan sigap dia kembali mengambil beberapa barang, menuju kasir, membayar dan melangkah menuju pintu.

895d9ae24c6011e38c92125e9fe3ffd9_8

Dia harus segera pulang, langit sudah mendung dan awan terlihat sudah sangat gemuk menopang air di dalamnya. Pasti, sebentar lagi hujan akan turun deras. Lalu bagaimana dengan kakek itu? Sisa uang di saku hanya tinggal 100 ribu, uang untuk bertahan selama 1 minggu ini. Tapi, bagaimana dengan si kakek? mungkin dia butuh uang untuk istrinya, anak atau cucunya? Bagaimana jika ada keluarganya yang sakit dan dia belum menjual satu pun gambang.

Suara gambang itu terus memanggilnya dan memaksanya menghentikan langkahnya menuju skuter yang tak jauh diparkir dekat minimart. Dia kembali menuju minimart dan jongkok di depan si penjual gambang. Memilih beberapa gambang dan memainkannya dengan asal, tapi gambang-gambang itu tetap bersuara merdu.

Dia memutuskan membeli 5 gambang, dengan harga per gambang sekitar Rp15 ribu. Tak ada tawar menawar, dibayarnya uang Rp100ribu, meminta si penjual segera membungkusnya dan memberikan semua sisa kembaliannya. Sesaat akan berdiri, si penjual gambang memegang tangannya. Tangan itu sangat kasar, tapi terasa hangat. Dengan mata berair, si penjual berucap, matur nuwun, gusti allah seng mbalas, sambil tetap menggengam tangannya. Dia hanya bisa membalas, sami-sami mbah, membalas menggenggam tangannya dan melepaskannya sebelum beranjak pergi.

Hujan mulai turun, dingin, tapi terasa sejuk baginya. Sesejuk hatinya usai membeli gambang. Gambang yang kini terbungkus plastik hitam di bawah jok skuternya. Entah, buat apa gambang sebanyak itu, dia belum memikirknya, belum juga berpikir bagaimana dia besok harus hidup. Haruskah dia menahan lapar dan hanya memainkan gambang sepanjang hari sebagai pelipur perut yang perih. Entahlah, dia belum berpikir.

Dia hanya bisa tersenyum, sekaligus menangis. Dia teringat alm.bapaknya, pengrajin gambang yang gulung tikar terlindasĀ beragam mainan plastik yang konon lebih keren dimainkan anak-anak masa kini. Dalam hati dia berujar, ‘Bapak, aku membeli gambangmu…..”

Note: terinspirasi penjual gambang di depan alfamart

One thought on “Membeli Iba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *