Me @ JJF 2010

Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu sulit untuk dicerna.

Tapi semua anggapan itu terhapus saat awal Maret lalu saya terbang ke Jakarta untuk menghadiri perhelatan akbar musik Java Jazz 2010, atau lebih populer dengan nama JJF 2010, yang tahun ini mengambil tema Jazzin up Remarkable Indonesia.

Biasanya saya hanya tahu Lee Ritenour dari mp3 player, sekarang bisa tahu cabikan gitar mas Lee Ritenour saat di atas panggung. Cool, bernyawa lebih dari sekedar petikan dan cabikan gitar gitaris kondang yang saya tahu. Memang saya bukan komentator musik tapi saya sepakat dengan ratusan orang yang sontak melakukan standing applause saat Lee menyudahi performance panggungnya. Luar biasa keren!

Lee Ritenour
Lee Ritenour

Saya ke sana bukan berniat nonton performa Ritenour atau aksi bintang utama John Legend, Tony Braxton atau Diane Warren, tapi sedang menjalankan tugas kantor untuk promosi salah satu fitur baru ke publik penggila jazz yang hadir di JIExpo, Kemayoran selama tiga hari. Dan, hanya bisa mencuri waktu nonton aksi 1,5 jam Ritenour di hari kedua dan SixPax di hari pertama, sisanya keliling JiExpo yang ga kebayang besarnya.

Tak banyak yang bisa saya bagi di event akbar yang menurut saya lebih layak disebut pameran vendor produk kelas A dengan balutan musik Jazz, dibanding gelaran Jazz itu sendiri, mengingat banyak sekali brand-brand kelas A yang mendirikan booth di acara ini. Besarnya venue, ribuan penikmat musik jazz, hingar bingarnya musik dan padatnya acara cukup membuat kaki dan punggung saya pegal-pegal setelah mondar-mandir mulai jam 2 siang sampai jam 2 dini hari selama tiga hari.

Ya, meski capek, setidaknya tiga hari berbaur dengan publik jazz, pedagang, tukang, kuli, EO, SPG, rekan kerja, dan harmoni jazz memberi pengalaman unik yang belum tentu terulang lagi, dan cukup memberi sedikit kesempatan untuk menikmati jazz dengan suasana yang lain.

Me @ JJF 2010
Me @ JJF 2010

Seorang teman sempat berkata, untuk menikmati jazz cuma perlu ketertarikan, didengar, dialami, dihayati dan disimak. Semakin serius kita menyimak semakin tinggi apresiasi kita menikmatinya. Benarkah? Ah, saya masih belum mempercayai teman saya itu, mengingat dari dulu sebelum dan sesudah sambang JJF, selera saya tetap di Level 42 dan Retenour yang notabene bukan pure jazz, tapi kolaborasi pop-rock-jazz-funk yang cukup oke di telinga saya. Untuk menikmati jazz lainnya, sepertinya saya masih butuh waktu lagi…entah kapan. But after all I still thank to jazz for another great free pleasure.

3 thoughts on “Me @ JJF 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *