Manusia Super Kawah Ijen

Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi.

Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.

Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan ‘manusia belerang’ yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.

Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya.

Pak Shodiq
Pak Shodiq - kuli angkut belerang Kawah Ijen

Pak Shodiq sendiri menjadi kuli angkut belerang dengan upah awal 100rp/kgnya pada tahun 1991 hingga saat ini dengan harga 600rp/kg. Sebuah harga yang sangat tidak manusiawi dibanding resiko yang dipertaruhkan untuk mengangkat berkilo-kilo belerang mulai dari bibir kawah hingga pusat pengepulan belerang dan harus menempuh jarak lebih dari 3km.

Bagi pria asal Sumenep ini, menjadi kuli belerang adalah pilihan terbaik dibanding bekerja sebagai kuli tani di Madura dengan hasil yang jauh lebih minim. Dengan berbekal raga yang kuat, sebotol air yang diambil dari WC umum untuk tamu wisatawan, dan dua keranjang, Pak Shodiq mampu mengangkut 67kg belerang dengan rute dari bibir kawah sampai tempat penimbangan. Dulu saat usianya masih muda dan saat masih menjadi tenaga lepas, dia mampu mengangkut 90kg belerang dalam sekali angkut mulai dari bibir kawah sampai penimbangan, dan bisa bolak-balik 3-4 kali dalam seharinya. Kini statusnya adalah kuli tetap yang hanya diijinkan mengangkut 2 kali angkutan belerang dalam seharinya.

Pria yang berharap anak-anaknya kelak tak meneruskan pekerjaannya ini mengaku mendapat hasil tambahan dari berjualan suvenir cetak dari belerang, dan juga menjadi objek foto dari turis-turis mancanegara, dan kadang-kadang mendapat uang saku sekitar 20-40ribu.

Sebagai penghasilan tambahan, dan juga karena status Pak Shodiq yang menjadi kuli tetap, dia bisa menambah penghasilan dengan menjaga pipa-pipa saluran sumber belerang di kawasan penambangan yang terletak di pinggir kawah mulai jam 6 sore – 6 pagi dengan upah 120ribu untuk dua orang. Tugas Pak Shodiq adalah memastikan pipa saluran harus tetap dingin, jika terlalu panas maka dia dan seorang temannya harus sigap menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila terlalu panas pipa saluran belerang akan pecah.

Pak Shodiq dan banyak penambang harus melakukan pekerjaan dramatis ini – seperti mencongkel belerang yang telah padat, memastikan pipa terhindar dari panas, dan juga mengangkutnya – semua dilakukan di tengah kepulan asap yang menyesakkan paru-paru dan memedihkan mata, tanpa perlindungan apa pun, hanya bermodal kain lusuh yang dibasahi air dan digunakan untuk penutup hidung dan mulut.

Untuk mengangkut belerang, terkadang beberapa kuli angkut melakukan cara angkut bergantian. Beberapa dari mereka meletakkan keranjang di tikungan terjal dengan posisi yang memudahkan untuk dipikul. Pikulan kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga. Biasanya para pengangkut yang lebih muda mengangkat di jalur berat sementara yang tua melanjutkannya di jalur ringan. Mereka sesekali duduk merokok sambil melepas lelah dan menormalkan mata yang pedih karena belerang. Rata-rata pengangkut berusia 25-55 tahun, di atas 55 tahun, pemilik penambangan tidak akan mengijinkan untuk menjadi kuli angkut belerang.

Wisatawan dan Kuli Belerang
Wisatawan dan Kuli Belerang

Yang membuat saya heran, Pak Shodiq mengaku tak pernah merasa sakit di paru-paru, mungkin yang sering dia alami dan juga rekan-rekan sekerjanya, adalah linu di bahu dan lutut, dan jika itu terjadi, dia harus libur mengangkut dan menunggu linu di kaki menghilang. Meski biasanya dia tetap memaksakan diri untuk tetap berangkat ‘nguli’ dan dibantu penambang lain yang bisa membantunya mengangkut sampai di pos timbang, dengan cara bagi hasil. Hasilnya kecil, karena rata-rata dalam sehari dia hanya bisa mengangkut 60-67kg/hari dan itu pun harus dibagi lagi jika harus menggunakan tenaga ‘bantuan’ tadi.

Benar-benar sebuah pekerjaan yang memaksa kekuatan maksimal manusia, dan bagi saya mereka adalah manusia-manusia super yang sabar bertahan dari himpitan ekonomi dan perbudakan yang masih berlaku di negara yang katanya makmur ini. Dan saya sangat menyadari jika saya jauh lebih beruntung dari mereka.

2 thoughts on “Manusia Super Kawah Ijen

  1. Apik 🙂
    Seneng moco seng iki, meski agak panjang, tapi enak kok, detail, dan gak narsis 😀
    Dadi pengen nang Ijen, semoga ga bengek 😛

    *menunggu foto-fotonya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *