Kerak Telor Bebek

Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.

Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38.

Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar.

Kerak Telor Kelompok Bapak Omas
Kerak Telor Kelompok Bapak Omas

Cukup banyak orang yang mengantri dan saya ada di urutan ketiga untuk segera menikmati jajanan khas Betawi ini. Sambil menunggu saya melihat si penjual yang masih berusia muda terlihat sigap membalikkan wajan agar permukaan kerak telor terpanggang dan matang merata sambil sesekali dikipas-kipas agar bara api tetap menyala. Satu kerak telor ayam berharga 10ribu dan telor bebek lebih mahal dua ribu rupiah dari telor ayam. Saya pun memilih telor bebek karena lebih besar porsinya.

Tak kurang dari 45 menit kerak telor bebek pesanan saya sudah dibungkus rapi dalam kertas minyak dan tas plastik putih. Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan mencicipi jajanan khas Betawi ini. Sayang keraknya kurang kering, dan beras ketan putihnya masih terasa keras, tapi ebi dan parutan kelapanya terasa cukup gurih.

Apapun rasanya, seporsi kerak telor ini cukup menolong perut yang kosong sejak sore dan setidaknya saya pernah mencicipi masakan khas Betawi selama berkunjung ke Jakarta. Nasib, setiap ke ibu kota tak sekalipun pernah merasakan jajanan khas Jakarta, selalu saja dapat traktiran di resto-resto berbau import. Semoga, saat ke Jakarta lagi bisa makan soto khas Betawi atau jajanan khas lainya. *ngarep traktiran*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *