Hassanku

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang” (Khaled Hosseini, The Kite Runner)

Aku jatuh cinta pada Hassan, Hassan yang lugu, Hassan yang mendewakan persaudaraan, persahabatan, kasih sayang, dan kesetiaan. (sedikit kekaguman pada salah satu tokoh dari sebuah buku yang aku beli beberapa hari lalu).

….
Saat aku menatap ke atas, kulihat sepasang layang-layang, merah dengan ekor panjang berwarna biru, berayun di langit. Kedua layang-layang itu menari jauh tinggi melampaui pepohonan di bagian barat taman itu,di atas kincir angin, melayang berdampingan bagaikan sepasang mata yang memandang ke bawah pada San Fransisco, kota yang sekarang telah menjadi kampung halamanku. Tiba-tiba aku mendengar bisikan Hassan di kepalaku: Untukmu, keseribu kalinya…(Amir Agha. page 25)

Sebuah kisah tentang sepasang karib dengan latar berbeda yang tumbuh dan menghabiskan waktu dalam satu atap. Amir, anak seorang pedagang kaya keturunan Pashtun (mayoritas penganut Sunni, suku yg memiliki derajat jauuuh lbh baik di Afghan). Amir, seorang anak yang melihat dunia dengan sudut pandang hitam-putih, yang lebih suka membunuh waktunya dengan membaca buku, sebagai sebuah cara untuk melarikan diri dari kecuekan Baba.

Tentang Hassan, anak pelayan keluarga Amir bernama Ali keturunan Hazara (penganut Syiah, yang dipandang rendah di Afghan), adalah bocah dengan segala keluguan, berwajah bundar, bermata sipit khas kaum Hazara (keturunan Mongoloid. red), berbibir sumbing, buta huruf, namun sangat antusias mendengarkan dongeng-dongeng yang dibacakan Amir, meski sering kali kisah yang diceritakan Amir hanya serentetan kebohongan belaka (sedihnya kalo ga bisa baca..hiks).

Tentang dua bocah yang menghabiskan waktu dengan seabreg kenakalan, menghabiskan waktu nonton film, melempari orang2 lewat dari atas pohon, pergi ke danau dengan Baba dan Rahim Khan (sobat dan rekan bisnis Baba), sampai akhirnya tiba turnamen layang-layang pada musim dingin 1975. Musim dingin yang juga menandai dimulainya kebekuan hubungan Amir dan Hassan.

Di sebuah gang di hari yang sama, saat puluhan orang berburu layang2 terakhir, Hassan tersenyum dan siap berlari mencari Amir Agha. Belum kering senyum menghiasi wajahnya, tiga pasang kaki menghentikan langkahnya. Kenangan lama akan tragedi di puncak gunung membuat Hassan gemetar. Dengan satu tangan memegang layang2 dan tangan yang lain memegang ketapel, Hassan mencoba tetap tegar.

Sudut gang di belokan pasar pusat kota, menjadi saksi diamnya Hassan, saksi dimulainya kebekuan antara dua sahabat. Untuk terakhir kalinya Hassan berucap: “untukmu, keseribu kalinya Amir Agha…”

Seiring dengan terhempasnya layang-layang terakhir pada turnamen layang-layang, terhempas pula sebuah jalinan persaudaraan. Sebuah titik di mana ikatan persahabatan terkoyak karena layang-layang dan melalui layang-layang juga sebuah dosa akhirnya ditebus. Semua konflik digambarkan Hosseini dengan bahasa yang polos, halus, mendalam, dan unpredictable.

“…Aku memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan.
Satu kesempatan terakhir untuk memutuskan apa jadinya diriku.
Aku bisa melangkah memasuki gang itu, membela Hassan (seperti yang dilakukannya untukku)
dan menerima apa pun yang mungkin terjadi padaku.
Atau aku bisa melarikan diri.
Akhirnya, aku melarikan diri…” (page 123)

Menjadi pengecut adalah manusiawi, karena hidup adalah pilihan. Ketika sebuah pilihan yang keliru telah diambil, boleh jadi sepanjang hidup penyesalan akan terus mengantui kita dan menjadi mimpi buruk setiap kali mata terpejam.

Amir telah melakukan sebuah pilihan yang menghancurkan dirinya, Hassan, Baba, dan Ali. Rasa bersalah yang akan menghantui setiap langkah hidupnya. Sebuah dosa besar telah dilakukan. Sebuah kebohongan telah menghancurkan nilai persaudaraan. Sebuah kesetiaan telah dikhianati. Hanya karena kepengecutan.

Saat Afghan jatuh ketangan Taliban, Amir dan Baba memutuskan mengamankan diri dan memilih Amerika sebagai tempat paling aman buat mereka. Menapaki 20 tahun di Amerika, telepon dari Rahim Khan kembali membangkitkan borok yang pernah tergores dalam diri Amir. Amir kembali dihadapkan pada dua pilihan, memilih Soraya atau menebus dosa masa lalunya.

…Ada jalan untuk kembali menuju kebaikan.
Aku memandang sepasang layang-layang di langit …(page 241)

Amir ternyata bukan banci. Amir memilih sebagai penebus dosa sejati, tergerak mengubur dosa masa lalu dan mengembalikan tidur nyenyaknya jauh dari mimpi2 buruk (ya sejak peristiwa di gang dulu, Amir menjadi pasien insomnia menahun). Amir harus kembali dan berjuang mengembalikan kehidupan seorang anak manusia yang tercuri dari haknya. Meski secara tidak langsung Amir harus mempertaruhkan nyawa dan mencuri seorang suami dari istrinya, sebuah keputusan sulit yang harus membuatnya kembali ke kampung halaman yang carut marut.

Tercuri…mengingatkanku pada sebuah bagian, saat Baba duduk memangku Amir dan memberi wejangan tentang Ketuhanan, dosa, dan omong kosong yang telanjur diserap Amir dari sekolah.

…Mencuri adalah salah satu dosa terbesar yang dilakukan manusia.
Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya.
Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya.
Kalau kau berbohong, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran.
Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan.
Tak ada tindakan yang lebih hina daripada mencuri…

Perjuangan Amir menyelamatkan anak dan menebus dosa masa lalu, benar2 membuatku enggan membaca buku lain, sebelum membuatnya khatam dan sampai pada titik…..”Hanya sebuah senyuman, tidak lebih. Itu tidak membuat segalanya lebih baik. Tidak membuat apa pun lebih baik. Hanya sebuah seyuman. Satu hal kecil. Sehelai daun di tengah hutan, bergetar saat seekor burung tiba-tiba terbang” (the last page)….Ya, hanya sebuah senyuman untuk menempatkan Kite Runner di posisi teratas rak bukuku.

13 thoughts on “Hassanku

  1. Kirain kamu jatuh cinta sama hasan anak pak RT itu, trus meninggalkan si … eh ternyata hasan yang dibuku.. hampir mo kumasukkan di goblog (gosip blog :red) terbaru.

  2. hei…i do like ur review, why u dont keep writing this kind of subject than write bot nonsense

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *