Harapan si Odong-Odong

Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.

Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.

Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya.

Pak odong, begitulah pria ini biasa disapa, bukan karena namanya odong, tapi karena dia tukang odong-odong, jadi ibu-ibu di kompleks perumahan kerap menyapa dengan nama Pak Odong, meski nama sebenarnya adalah Pak Kustadi.

Odong-Odong
Odong-Odong

Perawakannya kurus, tidak juga tinggi, berkulit hitam dan senyumnya ramah. Sambil tetap mengayuh, Pak Kus berkisah tentang pengalamannya menjadi tukang odong-odong yang baru dijalaninya 8 bulan ini. Memilih menjadi pengayuh odong-odong adalah pilihan terbaik dibanding harus jadi kuli bangunan yang pernah dijalaninya 2 tahun lalu. Sebelumnya, Pak Kus juga sempat berjualan minyak tanah menggunakan becak sampai terpaksa harus berhenti jualan minah karena harga minah yang makin mencekik dan tergantikan dengan popularitas kompor gas.

Bagi Pak Kus, menjadi tukang odong-odong cukup menjanjikan, apalagi jika dia bisa memiliki odong-odong sendiri. Saat ini, Pak Kus masih menjalankan odong-odong milik orang lain dan harus setor Rp20ribu setiap harinya. Artinya Pak Kus harus bisa menjual minimal 20 lagu untuk menutup setoran, dengan hitungan satu lagu seharga Rp500. Lagu digunakan sebagai patokan untuk menyewa naik odong-odong, jadi rata-rata lama sewanya ya tergantung dari lamanya lagu diputar, bisa sekitar 2-3 menit.

Pak Kus mulai menarik odong-odong mulai jam 8 pagi sampai menjelang magrib, dan biasanya mendapat hasil yang cukup maksimal saat hari terang, tidak hujan, hari minggu, dan liburan sekolah. Pendapatan bersih per harinya cukup lumayan, sekitar Rp30 – Rp40 ribu dan kadang-kadang bisa sampai Rp80 ribu jika ada panggilan ulang tahun, dengan biaya sewa panggilan ultah sekitar Rp50 ribu, dan tidak ada patokan berapa banyak anak yang akan naik dan berapa banyak lagu diputar. Bisa dibayangkan jika di pesta ultah ada 100 bocah, dan semua berebut naik odong-odong, wew…bisa merana tuh kaki Pak Kus.

Tapi nyatanya tidak, karena Pak Kus pernah mengalami hal itu dan dia tetap mengayuh dan melayani bocah yang berebut naik odong-odong tanpa istirahat sampai pesta selesai. Belum lagi jika ada bocah yang beratnya mencapai 25kg, dan jika keempat tunggangan diisi full bocah dengan berat yang sama, bisa dibayangkan tenaga yang harus dikeluarkan…dan hanya dibayar 50ribu! *sigh*

Dinamo, nyawa kedua si odong-odong
Dinamo, nyawa kedua si odong-odong

Odong-odong yang merupakah hasil modifikasi dari becak ini memanfaatkan dinamo sebagai tenaga penggerak, yang digerakkan dengan mengayuh becak. Otomatis semakin banyak bocah yang naik, Pak Kus harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengayuh pedal. Namun menurut Pak Kus, mengayuh odong-odong dengan bocah di atasnya terasa lebih ringan dibanding mengayuh odong-odong tanpa penumpang, karena saat tidak ada penumpang, dia harus membawa beban utuh dari odong-odong, tanpa laher yang bisa membantu mendorong saat dikayuh.

Dengan total penghasilan rata-rata 800-900ribu per bulan selama full 7 hari kerja, Pak Kus bisa menghidupi keluarganya, sekolah dua anaknya dan membayar cicilan sepeda motor. Dan jika ada uang lebih, Pak Kus berharap bisa membeli odong-odong seharga 2,5 juta untuk menghidupi keluarganya dan siapa tahu kelak bisa menjadi juragan odong-odong.

Impian sederhana, namun sangat diharapkan Pak Kus di setiap kayuhnya mengiringi tawa bocah-bocah yang tertawa girang, beranjut-anjutan naik turun di atas tunggangan dan di tengah hiruk pikuknya lagu-lagu anak-anak yang distel dengan sound system kelas amatiran. Bagi Pak Kus, tawa riang bocah-bocah adalah harapan utamanya meraih hidup yang lebih baik, meski hanya menjadi tukang odong-odong.

2 thoughts on “Harapan si Odong-Odong

  1. its nice looking other person thats below us and compare with our self.
    thats many people not lucky as ours.
    all that makes us grateful.

    keep make the future ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *