Filosofi Kaki

Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial.

Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.

Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang.

Ya, lumrahnya kaki adalah anggota badan yang berfungsi untuk menyangga semua bagian tubuh, karena tubuh tidak hanya butuh berdiri dan duduk tapi juga bergerak, kadang juga melangkah, berjalan, berlari, melompat, berjingkat, merangkak, menendang, menjegal, menginjak, dll sesuai keinginan kita. Jadi jika saya menyukai kaki, itu adalah hal yang sangat wajar, karena fungsi dan pengabdiannya begitu besar.

my leg in black and white
my leg in black and white

Kaki juga tak pernah protes jika saya ajak menginjak tahi, berjalan jauh, mengayuh sepeda, bahkan lupa membersihkan daki di lutut dan kuku. Mereka tak pernah protes, mereka tetap menerima apa adanya perlakuan saya. Bahkan, kaki juga tak pernah protes jika nama mereka dicatut oleh berbagai pihak, mengingat awalnya nama mereka adalah hak cipta resmi mahkluk hidup, tapi dalam perkembangannya, kaki juga di-embat berbagai benda untuk menunjukkan mereka juga punya kaki, bukan manusia atau hewan saja, jadilah ada istilah kaki gunung, kaki mobil, kaki meja, kaki kursi, kaki jembatan, kaki tangan, kaki lima, kaki kursi dan beragam kaki-kaki lainnya yang fungsinya hanya satu, yaitu sebagai penopang/pondasi dan pendukung unsur yang lebih utama di atasnya.

Jadi dengan kompleksibilitas kaki ini, tak salah jika saya mengidolakan kaki dan segala atribut di dalamnya. Yuk kaki, tetaplah kuat dan dukunglah saya sampai tiba saatnya nanti kalian melemah dan memaksa saya harus menggunakan ‘kaki-kaki bantuan berkaki lurus dan berujung melengkung. Nah, ada ‘kaki lain’ lagi di sini :)).

2 thoughts on “Filosofi Kaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *