<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description>nice but not too nice, cool but not ignorance</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 15:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Harapan si Odong-Odong</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[odong-odong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.</p>
<p>Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.</p>
<p>Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya. <span id="more-245"></span></p>
<p>Pak odong, begitulah pria ini biasa disapa, bukan karena namanya odong, tapi karena dia tukang odong-odong, jadi ibu-ibu di kompleks perumahan kerap menyapa dengan nama Pak Odong, meski nama sebenarnya adalah Pak Kustadi.</p>
<div id="attachment_252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0157-od0.jpg" alt="Odong-Odong" title="CIMG0157-od0" width="300" height="225" class="size-full wp-image-252" /><p class="wp-caption-text">Odong-Odong</p></div>
<p>Perawakannya kurus, tidak juga tinggi, berkulit hitam dan senyumnya ramah. Sambil tetap mengayuh, Pak Kus berkisah tentang pengalamannya menjadi tukang odong-odong yang baru dijalaninya 8 bulan ini. Memilih menjadi pengayuh odong-odong adalah pilihan terbaik dibanding harus jadi kuli bangunan yang pernah dijalaninya 2 tahun lalu. Sebelumnya, Pak Kus juga sempat berjualan minyak tanah menggunakan becak sampai terpaksa harus berhenti jualan minah karena harga minah yang makin mencekik dan tergantikan dengan popularitas kompor gas.</p>
<p>Bagi Pak Kus, menjadi tukang odong-odong cukup menjanjikan, apalagi jika dia bisa memiliki odong-odong sendiri. Saat ini, Pak Kus masih menjalankan odong-odong milik orang lain dan harus setor Rp20ribu setiap harinya. Artinya Pak Kus harus bisa menjual minimal 20 lagu untuk menutup setoran, dengan hitungan satu lagu seharga Rp500. Lagu digunakan sebagai patokan untuk menyewa naik odong-odong, jadi rata-rata lama sewanya ya tergantung dari lamanya lagu diputar, bisa sekitar 2-3 menit. </p>
<p>Pak Kus mulai menarik odong-odong mulai jam 8 pagi sampai menjelang magrib, dan biasanya mendapat hasil yang cukup maksimal saat hari terang, tidak hujan, hari minggu, dan liburan sekolah. Pendapatan bersih per harinya cukup lumayan, sekitar Rp30 &#8211; Rp40 ribu dan kadang-kadang bisa sampai Rp80 ribu jika ada panggilan ulang tahun, dengan biaya sewa panggilan ultah sekitar Rp50 ribu, dan tidak ada patokan berapa banyak anak yang akan naik dan berapa banyak lagu diputar. Bisa dibayangkan jika di pesta ultah ada 100 bocah, dan semua berebut naik odong-odong, wew&#8230;bisa merana tuh kaki Pak Kus. </p>
<p>Tapi nyatanya tidak, karena Pak Kus pernah mengalami hal itu dan dia tetap mengayuh dan melayani bocah yang berebut naik odong-odong tanpa istirahat sampai pesta selesai. Belum lagi jika ada bocah yang beratnya mencapai 25kg, dan jika keempat tunggangan diisi full bocah dengan berat yang sama, bisa dibayangkan tenaga yang harus dikeluarkan&#8230;dan hanya dibayar 50ribu! *sigh* </p>
<div id="attachment_256" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0175-01.jpg" alt="Dinamo, nyawa kedua si odong-odong" title="CIMG0175-01" width="300" height="225" class="size-full wp-image-256" /><p class="wp-caption-text">Dinamo, nyawa kedua si odong-odong</p></div>
<p>Odong-odong yang merupakah hasil modifikasi dari becak ini memanfaatkan dinamo sebagai tenaga penggerak, yang digerakkan dengan mengayuh becak. Otomatis semakin banyak bocah yang naik, Pak Kus harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengayuh pedal. Namun menurut Pak Kus, mengayuh odong-odong dengan bocah di atasnya terasa lebih ringan dibanding mengayuh odong-odong tanpa penumpang, karena saat tidak ada penumpang, dia harus membawa beban utuh dari odong-odong, tanpa laher yang bisa membantu mendorong saat dikayuh.</p>
<p>Dengan total penghasilan rata-rata 800-900ribu per bulan selama full 7 hari kerja, Pak Kus bisa menghidupi keluarganya, sekolah dua anaknya dan membayar cicilan sepeda motor. Dan jika ada uang lebih, Pak Kus berharap bisa membeli odong-odong seharga 2,5 juta untuk menghidupi keluarganya dan siapa tahu kelak bisa menjadi juragan odong-odong. </p>
<p>Impian sederhana, namun sangat diharapkan Pak Kus di setiap kayuhnya mengiringi tawa bocah-bocah yang tertawa girang, beranjut-anjutan naik turun di atas tunggangan dan di tengah hiruk pikuknya lagu-lagu anak-anak yang distel dengan sound system kelas amatiran. Bagi Pak Kus, tawa riang bocah-bocah adalah harapan utamanya meraih hidup yang lebih baik, meski hanya menjadi tukang odong-odong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebatang Pensil</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 16:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Baca-Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>
		<category><![CDATA[paulo coelho]]></category>
		<category><![CDATA[pensiil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.</p>
<p>Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya. <span id="more-250"></span></p>
<p>Si bocah sedang melihat neneknya menulis sebuah surat, dan dengan raut muka penasaran si bocah bertanya pada neneknya, apa yang dia tulis. Sambil masih menulis, si nenek menjawab bahwa dia menulis tentang cucunya, tapi yang lebih penting adalah pensil yang sedang dia gunakan untuk menulis, bukan surat yang sedang dia tulis.</p>
<p>&#8220;Mengapa pensil itu begitu penting? Aku lihat sama saja dengan pensil yang lain.&#8221;<br />
Dengan senyum bijak, nenek menjawab: tergantung bagaimana kamu melihat sesuatu? pensil ini seperti halnya hidup kita. </p>
<p>1. Selalu ada tangan yang membimbing pensil (kita) untuk menulis dan berkarya, dan tangan itu adalah tangan Tuhan yang menuntun kita sesuai kehendaknya. </p>
<p>2. Pensil butuh diraut untuk menjadi lebih tajam. Sakit dan menguras tenaga, tapi karya terbaik lahir dari rautan yang tajam.<br />
Seperti halnya kita, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>3. Pensil memberi kebebasan penghapus karet untuk menghapus kesalahan. Begitu juga kita, kita punya hak untuk menghapus kesalahan yang menghalangi jalan kita. Segera setelah kesalahan terhapus kita bisa kembali mengkoreksi dan melanjutkan jalan yang sempat terputus.</p>
<p>4. Bukan kayu pembungkus pensil yang paling utama, tapi granit terbaik yang ada di dalamnya. Pensil dari kayu murahan akan tetap tahan lama dengan granit kualitas terbaik. Seperti halnya kita, yang terpenting adalah apa yang ada dalam diri kita, bukan kain pembungkus raga yang kerap disalah-artikan.</p>
<p>5. Pensil selalu meninggalkan jejak dari apa yang dituliskannya di atas kertas. Sama halnya dengan kita, apa yang kita lakukan selalu meninggalkan jejak, jadi sadarilah dan waspada dengan segala hal pernah/akan kita lakukan.</p>
<p>Filosofi yang cukup menarik, terlebih saat itu saya sedang memegang pensil yang saya ambil dari hotel tempat saya menginap. Pensil dari kayu yang diamplas halus ini terlihat biasa-biasa saja, tapi sejak membaca kisah tadi, pensil ini jadi terlihat mirip saya secara abstrak, tapi secara fisik sangat jauh berbeda, pensilnya langsing sementara saya padat berisi <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Ah..sudahlah, saya capek menulis <del datetime="2010-04-20T16:52:46+00:00">tanpa pensil</del> di Bazzberry, sambil menunggu pesawat yang delay 35 menit. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerak Telor Bebek</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>
		<category><![CDATA[kerak telor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  
Salah satunya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran <a href="http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/">JJF 2010</a> lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  </p>
<p>Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38. </p>
<p>Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar. <span id="more-247"></span></p>
<div id="attachment_248" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0485-jjf3.jpg" alt="Kerak Telor Kelompok Bapak Omas" title="IMG_0485-jjf3" width="250" height="194" class="size-full wp-image-248" /><p class="wp-caption-text">Kerak Telor Kelompok Bapak Omas</p></div>
<p>Cukup banyak orang yang mengantri dan saya ada di urutan ketiga untuk segera menikmati jajanan khas Betawi ini. Sambil menunggu saya melihat si penjual yang masih berusia muda terlihat sigap membalikkan wajan agar permukaan kerak telor terpanggang dan matang merata sambil sesekali dikipas-kipas agar bara api tetap menyala. Satu kerak telor ayam berharga 10ribu dan telor bebek lebih mahal dua ribu rupiah dari telor ayam. Saya pun memilih telor bebek karena lebih besar porsinya.</p>
<p>Tak kurang dari 45 menit kerak telor bebek pesanan saya sudah dibungkus rapi dalam kertas minyak dan tas plastik putih. Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan mencicipi jajanan khas Betawi ini. Sayang keraknya kurang kering, dan beras ketan putihnya  masih terasa keras, tapi ebi dan parutan kelapanya terasa cukup gurih. </p>
<p>Apapun rasanya, seporsi kerak telor ini cukup menolong perut yang kosong sejak sore dan setidaknya saya pernah mencicipi masakan khas Betawi selama berkunjung ke Jakarta. Nasib, setiap ke ibu kota tak sekalipun pernah merasakan jajanan khas Jakarta, selalu saja dapat traktiran di resto-resto berbau import. Semoga, saat ke Jakarta lagi bisa makan soto khas Betawi atau jajanan khas lainya. *ngarep traktiran* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Me @ JJF 2010</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 11:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu sulit untuk dicerna. </p>
<p>Tapi semua anggapan itu terhapus saat awal Maret lalu saya terbang ke Jakarta untuk menghadiri perhelatan akbar musik <a href="http://roadmap.kapanlagi.com/2010/03/kapanlagi-com-di-java-jazz-festival-2010/">Java Jazz 2010</a>, atau lebih populer dengan nama JJF 2010, yang tahun ini mengambil tema <strong>Jazzin up Remarkable Indonesia</strong>. <span id="more-237"></span></p>
<p>Biasanya saya hanya tahu <strong>Lee Ritenour</strong> dari mp3 player, sekarang bisa tahu cabikan gitar mas Lee Ritenour saat di atas panggung. Cool, bernyawa lebih dari sekedar petikan dan cabikan gitar gitaris kondang yang saya tahu. Memang saya bukan komentator musik tapi saya sepakat dengan ratusan orang yang sontak melakukan standing applause saat <strong>Lee</strong> menyudahi performance panggungnya. Luar biasa keren!</p>
<div id="attachment_241" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/03/IMG_0459-jj2.jpg" alt="Lee Ritenour" title="IMG_0459-jj2" width="250" height="188" class="size-full wp-image-241" /><p class="wp-caption-text">Lee Ritenour</p></div>
<p>Saya ke sana bukan berniat nonton performa Ritenour atau aksi bintang utama John Legend, Tony Braxton atau Diane Warren, tapi sedang menjalankan tugas kantor untuk promosi salah satu fitur baru ke publik penggila jazz yang hadir di JIExpo, Kemayoran selama tiga hari. Dan, hanya bisa mencuri waktu nonton aksi 1,5 jam Ritenour di hari kedua dan SixPax di hari pertama, sisanya keliling JiExpo yang ga kebayang besarnya. </p>
<p>Tak banyak yang bisa saya bagi di event akbar yang menurut saya lebih layak disebut pameran vendor produk kelas A dengan balutan musik Jazz, dibanding gelaran Jazz itu sendiri, mengingat banyak sekali brand-brand kelas A yang mendirikan booth di acara ini. Besarnya venue, ribuan penikmat musik jazz, hingar bingarnya musik dan padatnya acara cukup membuat kaki dan punggung saya pegal-pegal setelah mondar-mandir mulai jam 2 siang sampai jam 2 dini hari selama tiga hari. </p>
<p>Ya, meski capek, setidaknya tiga hari berbaur dengan publik jazz, pedagang, tukang, kuli, EO, SPG, rekan kerja, dan harmoni jazz memberi pengalaman unik yang belum tentu terulang lagi, dan cukup memberi sedikit kesempatan untuk menikmati jazz dengan suasana yang lain.</p>
<div id="attachment_242" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/03/IMG_0506-jj1-225x300.jpg" alt="Me @ JJF 2010" title="IMG_0506-jj1" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-242" /><p class="wp-caption-text">Me @ JJF 2010</p></div>
<p>Seorang teman sempat berkata, untuk menikmati jazz cuma perlu ketertarikan, didengar, dialami, dihayati dan disimak. Semakin serius kita menyimak semakin tinggi apresiasi kita menikmatinya. Benarkah? Ah, saya masih belum mempercayai teman saya itu, mengingat dari dulu sebelum dan sesudah sambang JJF, selera saya tetap di Level 42 dan Retenour yang notabene bukan pure jazz, tapi kolaborasi pop-rock-jazz-funk yang cukup oke di telinga saya. Untuk menikmati jazz lainnya, sepertinya saya masih butuh waktu lagi&#8230;entah kapan. But after all I still thank to jazz for another great free pleasure.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Pria Terseksi&#8230;wew!</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 17:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang pesohor yang menurut saya cukup seksi, dalam kapasitas saya sebagai pengamat (bukan hardly-fans), dan kewajiban membantu rekan kerja saya: <span id="more-230"></span></p>
<p>1. <strong>Dik Doank</strong><br />
Saya suka pria ini, bukan karena mirip pacar saya, sama sekali ga! (*ahem*). Tapi pria ini hebat, di saat seleb lain mikir materi dia justru mikir kehidupan sosial terutama pendidikan anak2 dan mendirikan sekolah gratis dengan Kandank Jurank Doank. Dik juga suami dan ayah yang baik bagi 3 anaknya, tidak ada kabar perselingkuhan, keluarganya adem ayem. Dik juga seniman selain entertainer, bahkan tahun 1997an (saat saya masih SMA), Dik adalah creator cover album musisi-musisi kelas A, sebut saja AB Three, Nike Ardila, adalah langganan setia Dik. Dan hebatnya lagi saat ibunya meninggal bbrp bln lalu, dia tidak menangis, tapi tersenyum dengan kepergian sang bunda, bukan berarti durhaka, tapi bagi saya Dik adalah pria tegar dan sanggup menghibur kerabat untuk duka yang paling mendalam. Secara fisik memang Dik kurang seksi tapi bagi saya dia pria hebat sekelas Jon Bon Jovi <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>2. <strong>Nicholas Saputra</strong><br />
Dia bukan bintang murahan, kharismatik, berprinsip dan smart. Aktingnya di AADC cukup ok dan terasah matang saat main di GIE. Tentu Loreal versi Male bukan asal pilih meminang Nicholas Saputra jadi brand ambasador mereka kan? Popular brand never get wrong with their choise.</p>
<p>3. <strong>Choky Sitohang</strong><br />
Keteduhan matanya, cara dia memuja lawan bicara (terutama wanita), pekerja keras, sayang keluarga, tutur bahasanya yang classy dan cerdas, yang tak selalu dimiliki pria metropolis, bahkan selebritis. Urusan seksi ga-nya, coba deh minta dia buka jas, saya yakin dada dan perutnya cukup sixpack bukan family-pack. Try this cool man :d.</p>
<p>4. <strong>Vino G Bastian</strong><br />
Muka boleh polos, tapi akting bisa dibilang sudah tak polos lagi alias matang. Kalau tak salah dia sempat jadi aktor terbaik FFI tahun 2008 untuk film Radit dan Jani. Aktingnya makin terasah saat main di Serigala Terakhir. Ya bukan film roman picisan seperti beberapa film terdahulunya. Urusan tubuh seksi, di beberapa film dia sempat topless dan rasanya ga kurus-kurus amat dan cukup oke lah. Alasan lain mengapa saya pilih Vino adalah, dia putra Bastian Tito yang tak lain adalah pengarang serial Wiro Sableng yang cukup fenomenal tahun 80an, dan saya adalah salah satu penggemarnya :d.</p>
<p>5.  <strong>Benyamin S</strong><br />
Bang Ben atau Benyamin S bisa jadi terlalu jadul, tapi sejak kecil saya melihat beliau unik. Gaya ceplas-ceplos khas Betawai, tingkahnya yang amburadul dan mimik mukanya saat mengolok-ngolok lekat dalam ingatan saya. Ya, bisa karena ibu saya adalah penggemar berat beliau, sampai tak pernah melewatkan semua filmnya plus lagu duetnya dengan Ida Royani. Dan menginjak dewasa saya tak lagi menyebutnya unik, tapi seksi. Mengapa? karena beliau menjadi dirinya sendiri, anti-copycat orang lain, bahkan gayanya yang sering kali dijiplak. Bang Ben cerdik, total dalam berseni, dan yang paling mengagumkan dia rela kerap tampil bego dan <em>ndeso</em> di hampir setiap filmnya dan tak pernah meninggalkan darah Betawinya. Ya, bagi saya, Bang Ben cukup seksi untuk saya pilih, karena beliau adalah pejuang seni Betawai sejati. </p>
<p>*by bazzberry saat lampu mati se-Malang Raya*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uceng, Kuliner Khas Blitar</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 16:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[uceng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya sambangi saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar. 
Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya <em>sambangi</em> saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar. </p>
<p>Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai di berbagai kota. Tapi uceng khas Blitar ini yang mengenalkan ikan kali lebih dari sekedar kudapan bergizi. Kali pertama saya mengenal uceng saat mampir ke warung Anda di daerah Bence, Garum. Warung yang sering saya singgahi saat perjalanan pulang ke Malang ini menyediakan masakan rumahan dengan menu andalan uceng dan udang sungai yang dimakan bersama nasi, sayur atau hanya sebagai cemilan saja. <span id="more-221"></span></p>
<p>Harga per porsinya saat itu sekitar Rp15 ribu, entah jika sekarang mengalami kenaikan. Uceng sering kali disajikan dalam kondisi panas, agar lebih nikmat disantap. Kadang jika ingin dibawa pulang, uceng yang dibungkus mika plastik ini terasa masih hangat bahkan jika membungkusnya tak terlalu rapat, uceng tetap terasa renyah sampai beberapa hari. </p>
<p>Selain di warung Anda, uceng juga menjadi menu utama di warung Sukaria yang terletak di Wlingi. Kabarnya, warung Sukaria ini yang kali pertama menjual uceng di kota Blitar. Jadi tak heran saat saya mampir ke sana, warung Sukaria yang didirikan Haji Sukaria ini lebih dikenal orang dibanding warung uceng lainnya.</p>
<div id="attachment_223" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0672-11-300x225.jpg" alt="lalapan uceng warung Sukaria" title="IMG_0672-1" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-223" /><p class="wp-caption-text">lalapan uceng warung Sukaria</p></div>
<p>Seperti halnya warung Anda, warung uceng Sukaria  juga menyajikan uceng sebagai menu andalan yang dimasak goreng sebagai lalapan atau kuah sebagai sayur. Saya hanya sempat mencoba lalapan uceng, karena saya rasa uceng lebih enak disantap kering. Meski bisa jadi penilaian saya salah, toh banyak juga pelanggan yang membeli sayur uceng.</p>
<p>Bagi beberapa orang uceng warung Sukari berasa lebih gurih, lebih awet meski tidak dihangatkan selama 1 minggu lebih. Tapi beberapa yang lainnya menganggap uceng warung Sukari terasa lebih amis. Entah mana yang lebih dominan, mengingat setiap orang punya selera yang berbeda.</p>
<p>Saya tak ingin membahas selera, saya lebih suka menyoroti uceng, ikan kecil yang dipanen dari kali Lekso yang airnya masih jernih dan mengalir deras dari gunung Kelud. Uceng hanya bisa hidup di air bening tanpa terkontaminasi limbah, karena itu menyantap uceng bagi saya adalah sebuah nilai plus, mengingat saat ini minim sekali kudapan yang masih mengandalkan sumber daya alam yang sehat.</p>
<div id="attachment_224" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0701-2-300x225.jpg" alt="Kesibukan di salah satu sudut warung Sukaria" title="IMG_0701-2" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-224" /><p class="wp-caption-text">Kesibukan di salah satu sudut warung Sukaria</p></div>
<p>Uceng juga termasuk ikan imut, dengan ukuran kira-kira sebesar dr fish, tanpa sisik dan bentuknya bulat memanjang. Cara menangkapnya pun masih tradisional dengan menggunakan bubu yang ditenggelamkan ke sungai dan diambil saat uceng sudah memenuhi isi bubu. Banyak sekali pertanyaan di benak saya, kenapa uceng yang sangat populer di Blitar masih menggunakan cara tradisional, padahal tenaga dan hasil yang didapat juga tidak maksimal. Bisa jadi sudah ada yang pernah memikirkan budidaya uceng tanpa merusak ekosistem sungai dan bisa jadi juga gagal karena harus menggeser SDM yang butuh duit.</p>
<p>Saya belum berpikir ke arah sana, karena saat itu yang ada di benak saya adalah makan uceng dan melihat proses memasak uceng di dapur warung Sukaria yang memang tak memasang sekat antara ruang makan dan tempat mengolahnya. Jadi saya bisa melihat para pegawai menggoreng uceng dan menempatkannya di baskom-baskom ukuran besar, mengepaknya ke dalam plastik dan kardus untuk pemesan yang akan membawanya ke luar kota. </p>
<div id="attachment_225" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0707-3-300x225.jpg" alt="Warung Sukaria - Wlingi, Blitar" title="IMG_0707-3" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-225" /><p class="wp-caption-text">Warung Sukaria - Wlingi, Blitar</p></div>
<p>Proses pembuatan dan penjualannya memang cukup simple, tapi daya tariknya si kecil uceng ini cukup menarik minat banyak orang entah dari Blitar maupun pengunjung dari kota lain. Ya bagi saya, tak ada yang lebih nikmat jalan-jalan ke Blitar tanpa nyemil uceng dan minum es pleret. Hmmm&#8230;..mendadak saya kangen Blitar. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Lenturkah Saya?</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 16:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[resiliansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita. </p>
<p>Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup.  Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri. <span id="more-213"></span></p>
<div id="attachment_214" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG00012-20091129-0901.jpg" alt="captured by bazzberry - 29.11.09" title="IMG00012-20091129-0901" width="300" height="227" class="size-full wp-image-214" /><p class="wp-caption-text">captured by bazzberry - 29.11.09</p></div>
<p>Saya prihatin melihat beliau, dengan memakai tanktop pendek warna abu-abu, celana pendek selutut motif doreng yang pangkalnya ditekuk sampai pinggul dan memperlihatkan celana dalam putihnya, dan juga mengenakan sepatu kets putih. Rambut cepaknya dicat coklat kemerahan, wajahnya oriental, dan kerutan mulai muncul di wajahnya. Saya tak bisa melihatnya dengan jelas, karena jaraknya cukup jauh dari posisi saya berdiri, sementara beliau juga banyak bergerak, menari-nari di tengah jalan, kadang juga melompat, dan akhirnya duduk di sepeda yang diparkir di depan kios penjual pisang, bernyanyi lagu mandarin, sesekali juga dangdut sambil mengangkat dua tangannya, mengacungkan kedua ibu jarinya sambil bergoyang.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang dialami beliau, tapi apa yang dialaminya bisa jadi juga dialami orang lain, terbukti dalam tiga mingu terakhir koran Kompas rubrik konsultasi psikologis juga membahas sulitnya menjalani hidup, dan ujung-ujungnya hilang akal karena tidak tahan dengan cobaan hidup dan kemampuan resiliansinya (daya lenting) rendah. Istilah yang cukup awam bagi saya, meski secara kasar bisa diartikan dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan segala problema hidup walaupun keadaan terasa serba salah. Yah, bisa jadi terpelanting seperti ibu yang saya jumpai di pasar atau bisa jadi bertahan dan jadi pemenang. Mmm&#8230;kira-kira seberapa lentur saya menghadapi tantangan hidup ya? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Kaki</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 14:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial. 
Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial. </p>
<p>Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.</p>
<p>Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang.  <span id="more-171"></span></p>
<p>Ya, lumrahnya kaki adalah anggota badan yang berfungsi untuk menyangga semua bagian tubuh, karena tubuh tidak hanya butuh berdiri dan duduk tapi juga bergerak, kadang juga melangkah, berjalan, berlari, melompat, berjingkat, merangkak, menendang, menjegal, menginjak, dll sesuai keinginan kita.  Jadi jika saya menyukai kaki, itu adalah hal yang sangat wajar,  karena fungsi dan pengabdiannya begitu besar.</p>
<div id="attachment_179" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/n635557191_1012244_1926_bw.jpg" alt="my leg in black and white" title="n635557191_1012244_1926_bw" width="300" height="259" class="size-full wp-image-179" /><p class="wp-caption-text">my leg in black and white</p></div>
<p>Kaki juga tak pernah protes jika saya ajak menginjak tahi, berjalan jauh, mengayuh sepeda, bahkan lupa membersihkan daki di lutut dan kuku. Mereka tak pernah protes, mereka tetap menerima apa adanya perlakuan saya. Bahkan, kaki juga tak pernah protes jika nama mereka dicatut oleh berbagai pihak, mengingat awalnya nama mereka adalah hak cipta resmi mahkluk hidup, tapi dalam perkembangannya, kaki juga di-embat berbagai benda untuk menunjukkan mereka juga punya kaki, bukan manusia atau hewan saja, jadilah ada istilah kaki gunung, kaki mobil, kaki meja, kaki kursi, kaki jembatan, kaki tangan, kaki lima, kaki kursi dan beragam kaki-kaki lainnya yang fungsinya hanya satu, yaitu sebagai penopang/pondasi dan pendukung unsur yang lebih utama di atasnya. </p>
<p>Jadi dengan kompleksibilitas kaki ini, tak salah jika saya mengidolakan kaki dan segala atribut di dalamnya. Yuk kaki, tetaplah kuat dan dukunglah saya sampai tiba saatnya nanti kalian melemah dan memaksa saya harus menggunakan &#8216;kaki-kaki bantuan berkaki lurus dan berujung melengkung. Nah, ada &#8216;kaki lain&#8217; lagi di sini <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Super Kawah Ijen</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 05:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keringetan]]></category>
		<category><![CDATA[ijen]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi. 
Ayunan keranjang yang berderit-derit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi. </p>
<p>Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.</p>
<p>Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan &#8216;manusia belerang&#8217; yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.</p>
<p>Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya. <span id="more-164"></span></p>
<div id="attachment_205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/IMG_0280.jpg" alt="Pak Shodiq" title="IMG_0280" width="300" height="226" class="size-full wp-image-205" /><p class="wp-caption-text">Pak Shodiq - kuli angkut belerang Kawah Ijen</p></div>
<p>Pak Shodiq sendiri menjadi kuli angkut belerang dengan upah awal 100rp/kgnya pada tahun 1991 hingga saat ini dengan harga 600rp/kg. Sebuah harga yang sangat tidak manusiawi dibanding resiko yang dipertaruhkan untuk mengangkat berkilo-kilo belerang mulai dari bibir kawah hingga pusat pengepulan belerang dan harus menempuh jarak lebih dari 3km. </p>
<p>Bagi pria asal Sumenep ini, menjadi kuli belerang adalah pilihan terbaik dibanding bekerja sebagai kuli tani di Madura dengan hasil yang jauh lebih minim. Dengan berbekal raga yang kuat, sebotol air yang diambil dari WC umum untuk tamu wisatawan, dan dua keranjang, Pak Shodiq mampu mengangkut 67kg belerang dengan rute dari bibir kawah sampai tempat penimbangan. Dulu saat usianya masih muda dan saat masih menjadi tenaga lepas, dia mampu mengangkut 90kg belerang dalam sekali angkut mulai dari bibir kawah sampai penimbangan, dan bisa bolak-balik 3-4 kali dalam seharinya. Kini statusnya adalah kuli tetap yang hanya diijinkan mengangkut 2 kali angkutan belerang dalam seharinya.</p>
<p>Pria yang berharap anak-anaknya kelak tak meneruskan pekerjaannya ini mengaku mendapat hasil tambahan dari berjualan suvenir cetak dari belerang, dan juga menjadi objek foto dari turis-turis mancanegara, dan kadang-kadang mendapat uang saku sekitar 20-40ribu. </p>
<p>Sebagai penghasilan tambahan, dan juga karena status Pak Shodiq yang menjadi kuli tetap, dia bisa menambah penghasilan dengan menjaga pipa-pipa saluran sumber belerang di kawasan penambangan yang terletak di pinggir kawah mulai jam 6 sore &#8211; 6 pagi dengan upah 120ribu untuk dua orang. Tugas Pak Shodiq adalah memastikan pipa saluran harus tetap dingin, jika terlalu panas maka dia dan seorang temannya harus sigap menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila terlalu panas pipa saluran belerang akan pecah. </p>
<p>Pak Shodiq dan banyak penambang harus melakukan pekerjaan dramatis ini &#8211; seperti mencongkel belerang yang telah padat, memastikan pipa terhindar dari panas, dan juga mengangkutnya &#8211; semua dilakukan di tengah kepulan asap yang menyesakkan paru-paru dan memedihkan mata, tanpa perlindungan apa pun, hanya bermodal kain lusuh yang dibasahi air dan digunakan untuk penutup hidung dan mulut. </p>
<p>Untuk mengangkut belerang, terkadang beberapa kuli angkut melakukan cara angkut bergantian. Beberapa dari mereka meletakkan keranjang di tikungan terjal dengan posisi yang memudahkan untuk dipikul. Pikulan kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga. Biasanya para pengangkut yang lebih muda mengangkat di jalur berat sementara yang tua melanjutkannya di jalur ringan. Mereka sesekali duduk merokok sambil melepas lelah dan menormalkan mata yang pedih karena belerang. Rata-rata pengangkut berusia 25-55 tahun, di atas 55 tahun, pemilik penambangan tidak akan mengijinkan untuk menjadi kuli angkut belerang. </p>
<div id="attachment_208" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/IMG_0246.jpg" alt="Wisatawan dan Kuli Belerang" title="IMG_0246" width="300" height="225" class="size-full wp-image-208" /><p class="wp-caption-text">Wisatawan dan Kuli Belerang</p></div>
<p>Yang membuat saya heran, Pak Shodiq mengaku tak pernah merasa sakit di paru-paru, mungkin yang sering dia alami dan juga rekan-rekan sekerjanya, adalah linu di bahu dan lutut, dan jika itu terjadi, dia harus libur mengangkut dan menunggu linu di kaki menghilang. Meski biasanya dia tetap memaksakan diri untuk tetap berangkat &#8216;nguli&#8217; dan dibantu penambang lain yang bisa membantunya mengangkut sampai di pos timbang, dengan cara bagi hasil. Hasilnya kecil, karena rata-rata dalam sehari dia hanya bisa mengangkut 60-67kg/hari dan itu pun harus dibagi lagi jika harus menggunakan tenaga &#8216;bantuan&#8217; tadi. </p>
<p>Benar-benar sebuah pekerjaan yang memaksa kekuatan maksimal manusia, dan bagi saya mereka adalah manusia-manusia super yang sabar bertahan dari himpitan ekonomi dan perbudakan yang masih berlaku di negara yang katanya makmur ini. Dan saya sangat menyadari jika saya jauh lebih beruntung dari mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang Parkir</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 15:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[parkir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 &#8211; 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm. 
Tapi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 &#8211; 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm. </p>
<p>Tapi tidak masalah jika saat saya mengambil sepeda, si tukang parkir membantu menarik sepeda saya yang kadang posisinya terhimpit dengan sepeda² di sebelahnya dan cukup menyulitkan saya. Sayangnya tidak semua tukang parkir memiliki kepedulian kepada pelangganya. Ada kalanya mereka justru duduk ngobrol dengan teman mereka dan membiarkan pelanggan susah payah mengeluarkan sepeda miliknya. <span id="more-161"></span></p>
<p>Saya pernah mengalami hal itu, bahkan bisa dibilang sering meski ga sampai di atas hitungan angka 10. Hanya saat menghadapi situasi seperti itu, saya jadi kesal karena mereka sudah dibayar malah duduk ngobrol sementara saya kerepotan mengeluarkan sepeda saya sendiri, padahal saya sudah bayar. </p>
<p>Jika dipikir-pikir, cukup enak jadi tukang parkir. Hanya duduk, menunggu kendaraan datang, dan menerima duit. Ya, pekerjaan ringan dan cepat dapat duit, bahkan saking enaknya hampir semua tempat publik dikapling buat parkiran. Ya mau gimana lagi, karena saya juga ga ingin sepeda saya dibawa kabur maling. Jadi keluar duit 1000, bukan masalah. Tapi ya setidaknya saya sebagai pelanggan parkir juga butuh diperhatikan meski hanya membantu mengeluarkan motor jika motor saya terhimpit. Tapi&#8230;kok ya susah dapat perhatian itu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
