Dilema Roti dan Parkir

Salah satu hal yang membuat saya senang mencoba toko yang baru dibuka adalah bonus promosi. Selain sebagai trigger membuat dagangan mereka dikenal, promosi juga salah satu cara menarik pelanggan baru lebih banyak.

Seperti halnya toko roti Ilo yang baru dibuka sekitar dua minggu yang lalu dan kebetulan letaknya tak jauh dari rumah, tepatnya di jalan utama perumahaan Sawojajar. Dengan harga roti dijual mulai Rp4000an, kita bisa dapat bonus 1 roti. Jadi untuk beberapa items dengan label 2 in 1, kita bisa dapat 2 roti dengan harga 1 roti. Cukup menjangkau di kantong dan nikmat di perut, apalagi yang rasa abon pedas. *nyem*

Sayang saya enggan untuk kembali ke toko roti tersebut, karena beban bea parkir setelah keluar dari toko. Untuk beli roti seharga Rp4000 tak sampai 5-10 menit, saya harus keluar duit Rp1000 rupiah, tanpa kembalian lagi, alias harga pas! Harusnya parkir motor disesuaikan jam, jika hanya 5 – 10 menit free parking, 30 menit – 1 jam lebih ditarik sekitar Rp1000. Ribet memang, tapi adil.

Jika dihitung-hitung saya rugi dengan ongkos parkirnya, dengan jam beli tak sampai 10 menit, sementara harga roti yang saya beli hanya di kisaran Rp4000an, total duit yang saya keluarkan adalah Rp5000. Dengan nilai yang hampir sama, saya bisa beli bubur ayam langganan seharga Rp4000 saja, tanpa parkir. Sisa duit Rp1000 bisa buat beli cemilan.

Saya ga akan bawel dengan tarif parkir jika saya menghabiskan waktu lebih dari sejam di suatu tempat, bisa makan, hangout, renang, sewa warnet dan beragam aktivitas di tempat-tempat yang butuh waktu lebih lama. Dan itu cukup sebanding dengan tarif parkir yang dibebankan. Tapi jika hanya menghabiskan waktu 5 menitan dan harus bayar parkir, saya jadi merasa jadi orang yang terjajah hak kebebasannya menaruh kendaraan barang 5 menitan. Kasusnya sama dengan kena sewa parkir saat ngambil duit di ATM.

Kasihan tempat usaha yang baru dibuka itu kehilangan pelanggan setia seperti saya gara-gara tarif parkir. Meski saya yakin mereka pasti punya alasan sendiri mengapa menggunakan jasa tukang parkir. Bisa jadi karena ingin memberi rasa aman pada pelanggan dari curanmor atau didatangi preman parkiran untuk memberikan lahan parkir baru buat mereka.

Jika memang ingin pelanggan bebas khawatir dari curanmor, bagian welcome guest (entah apa sebutannya, biasanya ada di depan pintu dan menyapa pembeli yang baru datang), bisa difungsikan juga untuk mengawasi motor. Tapi jika preman parkiran yang jadi alasan, yah itu perkara lain. Emang siapa yang berani main-main dengan preman. Lebih baik usaha lancar, meski harus mengapling lahan jadi parkiran. Duh, saya memang rewel, tapi demi uang seribu dan harga diri 5 menitan :)).

3 thoughts on “Dilema Roti dan Parkir

  1. sama…
    cuman melepas bokong tak lebih 3menit ambil duit udah dipepet tukang parkir..

    tapi, aku selalu ingat, ingat om ku yang juga tukang parkir
    yah kuikhlaskan saja, itung2 amal, mungkin rugi di kita, tapi akan membawa berkah bagi orang2 terdekat dan ada disekitar kita…

    toh kalo ikhlas ringan juga,:D

  2. @kapon: yg sudah berlalu sdh kuiklhaskan jadi aku menjauh saja dari tempat2 seperti itu *ngeyel* =)).

    btw, skrg sudah terlampau banyak tukang parkir liar dan tentu merugikan sebagian orang, apalagi tukang parkir yang ga mau atur parkiran bahkan bantu kita mengeluarkan kendaraan. mereka justru berhahahahihihi dengan rekan parkirnya atau hanya duduk2 baca koran. kind of ‘ngeselin’ :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *