Di Rumah Saja

Tak terasa sudah tiga bulan saya jadi orang rumahan. Dulu sebelum bapak sakit, biasanya saya suka jalan², entah hanya ke toko buku, supermarket, wiken ke luar kota, ke rumah teman, dan melakukan aktivitas lain di luar rumah. Tapi kini aktivitas itu harus berkurang, karena sisa waktu saya habis di rumah, selain melewatkan waktu di kantor.

Meski kangen jalan², tapi ga mungkin bisa dilakukan, karena seperti saran dokter selama enam bulan ini status kesehatan bapak masih ‘waspada’, jadi harus ekstra perhatian dan hati². Waktu luang untuk ngobrol bareng bapak juga makin banyak, meski harus nahan diri biar ga emosi dan harus sabar dengan sikap keras kepala bapak. Dan menghabiskan waktu di depan TV selain baca koran dan buku basi.

Entah sampai kapan jadi orang rumahan, hanya mendadak kangen saja bisa off selama dua sampai tiga hari, menikmati dan memanjakan diri sendiri.

7 thoughts on “Di Rumah Saja

  1. mbok ‘masnya’ itu diberdayakan.

    mas, cariin bacaan baru, dong.
    mas, beliin makanan ya.
    mas, koran baru tadi belum tak ambil di loper koran
    mas,……..
    …..
    ….
    😀

    *berharap bapak cepat sehat*

  2. iyah… masnya itu nggak sensitif
    dibeliin PS2 kek, biar bisa ngegame
    lama2 kan jadi BT, hibur kek
    joget2 di depannya

    *lho… kok aq dadi emosi*

  3. langit yang menghilang
    akankah hilang selamanya…???
    dengan ego yang begitu tinggi
    untuk mengatakan “hai pakabar”
    ato untuk disapa “pakabar”
    turut prihatin yu…

    -seng kilangan langit-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *