Dendeng Sapi Berjamur

Siapa yang tak kenal dendeng, daging berbentuk lembaran tipis kaya protein ini cukup populer di kalangan anak kos atau para adventurer karena keawetannya. Menyantap dendeng sapi dengan nasi putih hangat ditemani sambal terasi sungguh terasa nikmat di lidah. Sayang, dendeng yang saya beli minggu lalu tak sesuai dengan harapan.

Tepatnya hari Selasa (17 Juli 2012), saya dan nengbiker, salah seorang teman kantor, jalan-jalan ke supermarket Giant Araya, yang jaraknya tak kurang dari 300 meter dari kantor saya. Kita membeli beberapa barang, termasuk cumi asin dan dendeng sapi gurih yang dipajang di etalase bersuhu dingin.

Waktu itu saya tak terlalu memerhatikan tanggal kedaluwarsanya, karena saya menganggap semua barang yang dipajang di etalase fresh food, selalu ganti setiap hari atau setidaknya selalu rutin dicek oleh pegawainya. Tapi ternyata saya salah. Sesampai di rumah, dendeng yang saya beli ternyata berjamur.

Memang dari luar tidak tampak berjamur, dendeng sapi gurih tetap berwarna merah kecoklatan dengan taburan ketumbar. Ada tiga lapis dendeng dalam satu kemasan seberat 0,245 kg atau sekitar 2 ons lebih. Dua lembar dendeng tidak berjamur, tapi saat membuka satu lembar lainnya, tampak bertaburan jamur berwarna putih kehijauan dan daging dendengnya terasa lembab. Saya coba menggoreng salah satu lembaran yang tak berjamur, dan baunya tengik.

dendeng berjamur
dendeng berjamur

Saya cek lagi kemasan dendengnya, membacanya dengan teliti dan menemukan bahwa dendeng tersebut telah kedaluwarsa sejak tanggal 05 Juli 2012.

Pada kemasan tertulis harga Rp14.700 dan ada dua tanggal. Di bagian atas, tertera tanggal 02/07/12 yang saya duga adalah tanggal dendeng kemasan ini dilabeli harga, sementara di bawah barcode tertera tanggal 05/07/12 yang ternyata adalah tanggal kedaluwarsa.

Saya lihat ada notifikasi text warna merah yang tercetak buram di dalam barcode dengan tulisan ‘gunakan sebelum’. Yang membuat saya heran, kenapa tulisan sepenting ‘Gunakan Sebelum’ ini diletakkan di dalam barcode yang notabene tersusun dari barisan garis-garis hitam yang cukup menipu mata. Saya yakin, tak banyak orang dengan teliti akan membaca notifikasi kedaluwarsa tersebut.

expired 12 hari
expired 12 hari

Kalau dicermati lagi, saya beli dendeng tanggal 17 Juli, sementara tanggal kedaluwarsanya adalah tanggal 05 Juli, yang berarti dendeng kedaluwarsa itu sudah ada di etalase selama 12 hari (hampir 2 minggu!). *deep sigh*

Sebagai pelanggan, saya tentu kecewa, bukan saja gagal makan dendeng :d, tapi karena merasa tertipu dengan pelayanan Giant yang sering beriklan mengutamakan pelayanan dan kesegaran produknya. Nyatanya tidak demikian.

Saya coba kontak Giant via akun Twitter dan FB resmi mereka, dapat respon baik dan katanya akan difollow-up oleh team terkait. Tapi hampir satu minggu, tak ada pihak Giant yang menghubungi saya sekedar cross check dengan komplain saya terhadap mutu barang mereka.

Tiga hari sejak membeli daging berjamur, saya kembali jalan-jalan ke Giant bersama teman kantor yang sama. Kita sempatkan mampir ke etalase dingin yang memajang beragam makanan hewani, dan masih menemukan produk dendeng dengan tanggal label harga dan tanggal kedaluwarsa yang sama dengan yang saya beli. Bedanya hanya terletak di harga dan berat dagingnya, yaitu Rp13.500 untuk berat 0.225 kg.

captured pada 20/07/12
captured pada 20/07/12
expired 05/07/12
expired 05/07/12

Saya jadi makin heran, bagaimana supermarket sebesar Giant sangat sembrono dengan produk mereka. Mungkin tidak di semua Giant, setidaknya di Giant yang kerap saya kunjungi ini kualitas kontrolnya sangat parah.

Gara-gara dendeng berjamur, kini saya jadi lebih aware dan selektif memilih produk dan juga melihat tanggal kedaluwarsa. Jika bukan customer sendiri yang care dengan barang yang dibelinya, lalu siapa? Pemilik toko? jangan harap bisa membantu jika hanya untung yang mereka cari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *