Deadline!

Deadline…deadeline…deadline! Ternyata bukan hutang saja yang membuat waktu terasa pendek, tapi juga deadline pekerjaan. Di satu sisi saya suka di-deadline, karena membuat pekerjaan lebih teratur dan bisa mikir kreatif, tapi di sisi lain saya jadi menggampangkan waktu, karena merasa waktu bekerja masih lama, jadi sekarang santai-santai dulu deh. Dan ujung-ujungnya, jadi kewalahan.

Ada anggapan jika kepepet, kerja jadi lebih produktif, saat deadline kreativitas jadi cemerlang. Saya membenarkan anggapan itu, dan saya yakin banyak yang sehaluan dengan saya, terutama mereka yang bekerja di bidang kreatif.

Tenggat yang mengejar bisa jadi penambah semangat, membuat otak dipaksa mikir cerdas, kita jadi mampu berpikir, berkreasi, dan mengambil keputusan yang sering kali lebih hebat dibanding waktu bekerjanya lebih lama.

Kasarannya seperti ikutan kuis, dengan waktu main hanya kurang 10 detik saja, kita dipaksa berpikir keras. Dan hasilnya bisa jadi sesuai, bisa jadi juga di luar harapan. Tapi proses saat mengambil keputusan jadi lebih singkat.

Tentu dari sisi manajemen waktu, kerja mepet deadline jelas salah karena melanggar planning yang sudah disusun sejak proyek kerja dibuat. Sayangnya, kerja uber deadline dengan waktu mencekik tetap dilakukan sebagian besar orang.

Sebenarnya kerja mepet deadline tak harus jadi kebiasaan, karena intinya adalah kemauan untuk mengerjakan tugas secara bertahap, tidak mepet-mepet deadline dan nyante-nyante. Jadi, jika ada orang yang bisa menyelesaikan tugas sebelum deadline, saya selalu berikan jempol atas kemauannya mengalahkan tenggat waktu. Intinya hanya kemauan saja kok, tidak lebih.

Sayang akhir-akhir ini, saya bermasalah dengan deadline (bukan kantor), hanya karena mati ide, waktunya masih lama dan menganggap kerjaan itu bukan hal penting. Endingnya saat mepet deadline, saya jadi kelimpungan dan rela memangkas jam tidur malam saya. Selesai memang, tapi esoknya saya ngantuk berat :d.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *