Curhat Suami

Pagi masih dingin, matahari sudah beranjak bangun dari selimutnya yang kelam. Aku sudah selesai memandikan si kujang beberapa menit lalu. Mandi di sini hanyalah menyemprotinya dengan air bersih, agar bulunya tetap bersih dan berkilat. Memberinya pelet dan pisang kepok kesukaannya. Aku bersiul, Kujang pun ikut bersiul. Kita memang pasangan yang kompak.

Hari ini aku dan Kujang akan pergi ke lapangan di dekat balai kota, untuk mengadu suara dan bulu. Aku yakin, hari ini Kujang pasti bisa mengalahkan Luli, si murai milik Agus yang selalu jadi primadona. Sementara si Kujang, jenis kenari yang usianya belum 1 tahun, selalu jadi underdog.

Mobil sudah kupanasi, semua perangkat yang dibutuhkan sudah masuk semua di ranger hitamku. Bagian tersulit hanyalah pamit istri. Wanita yang juga ibu dari dua putraku ini ngakunya pengertian, meski aku tahu selalu ada perubahan mood saat aku pamit untuk menikmati duniaku. Oke, dia mengizinkan aku pergi, tapi aku juga paham dia tak rela aku keluar weekend ini.

Sebenarnya apa yang kualami ini juga terjadi di beberapa teman yang sudah menikah. Saat hobi, dan ruang kita untuk menikmati kegemaran saat bujangan jadi tak leluasa lagi. Kadang, sebagai suami aku butuh diacuhkan, butuh waktu mendekam di guaku sendiri, tak perlu bertanya aku sedang apa, karena pasti aku baik-baik saja.

Beberapa teman kantor juga merasa tak nyaman saat ditelpon atau di-sms istri, hanya sekedar bertanya ‘papa di mana?’.

Sementara teman yang lain lebih memilih menghabiskan waktu me-timenya dengan berjam-jam ngoprek mobil di garasi rumah. Memoles velg dengan obat antiabrasif, utak-atik karburator, dan beragam aktivitas lain lebih nyaman dilakukan di rumah, istri senang, dia pun bisa bebas melakukan hobi tanpa perlu melihat istri manyun karena menghabiskan waktu berjam-jam bersama grup otomotifnya di luar rumah. Tapi, sekali waktu dia tetap menyempatkan turing dengan seizin nyonya.

Kita sudah dewasa, bukan lagi pacaran, dan tak ada perselingkuhan yang kita lakukan. Kita hanya ingin menikmati kesunyian bersama hobi kita. Kita pasti pulang dengan rasa bahagia dan semangat baru. Tentu suasana ini juga membuat rumah lebih bahagia kan?

Jadi biarkan aku sesekali menikmati waktu, bermain-main, tanpa kamu dan anak-anak. Saat aku pulang, aku akan melewatkan waktu bersamamu dan anak-anak.

Yakinlah, jika kita memilih bersama teman/hobi kita, kalian bisa bebas melakukan women’s things yang kadang tak selalu kita nikmati. It’s fair enough. Jadi, pahami kita.

Kisah di atas hanya #fiktif, terinspirasi dari seorang ibu muda yang ngedumel tentang hobi suaminya layangan di lapangan Rampal tiap akhir pekan. Dengan muka muka masih ditekuk dia bercerita ke temannya yang kebetulan juga komplain dengan hobi sepeda cross country si suami. Sementara saya, asyik membaca dan dipaksa ikut mendengarkan kisah mereka sambil ngantri giliran creambath di salon dekat rumah. Maklum, mereka duduk tepat di sebelah saya :D.

Saya jadi membayangkan, bagaimana dengan perasaan para suami yang waktu mainnya jadi terbatas? Bisa jadi mereka memang butuh diacuhkan :d.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *