Cerita Sate Bulayak Lombok

Sate Bulayak bisa jadi salah satu makanan khas Lombok yang hanya bisa dijumpai di Lombok, beda dengan ayam taliwang dan plecing kangkung yang sudah umum dijual di berbagai kota.

Mudah sekali menemukan penjual sate bulayak di jalan² besar kota Lombok maupun di  kawasan Senggigi. kebetulan, saya makan sate bulayak di pinggiran  pantai coco beach, area pantai Krendengan, Senggigi.

Sate bulayak cukup unik dibanding sate pada umumnya. Satenya tetap dari daging ayam, sapi, jeroan/usus ayam yang dibakar dengan arang dan disajikan dengan bumbu dari kacang yang digiling halus dan rasanya cenderung gurih dan berempah. Menurut saya, bumbunya juara.

Sementara, bulayak sendiri adalah sejenis lontong yang dibungkus daun aren dan dililit memanjang. bentuknya mirip jenang clorot, jajanan khas purworejo yang dibungkus daun kelapa muda secara melingkar dan berulin.

image

Jangan berharap sendok atau sambel yang biasa disajikan para penjual sate. Untuk menyantap sate bulayak, cukup membuka bulayak dari ujung atas dan cocol ke bumbu kacangnya. Jika ingin pedas, tinggal minta potongan cabe rawit dicampur bumbu kacangnya.

Harga jual sate bulayak cukup variatif dan menyesuaikan lokasi. Ya, karena saya beli di kawasan wisata, jadi harganya cukup mahal apalagi potongan daging satenya yg cukup imut. Satu porsi sate bulayak seharga Rp30 ribu terdiri dari 13 tusuk sate dan 5 bulayak.

Menurut mbak Neti, si penjual sate bulayak, harga sate bulayak di beberapa tempat bisa jadi berbeda tapi di satu lokasi harga sate selalu sama, karena ada kesepakatan harga antar pedagang. Mbak Neti sendiri mengaku tak bisa membuat bulayak, karena membuat bulayak itu bukan hal mudah. Dari bahan dan juga kemasannya tak semua orang bisa membuatnya. Wanita bertubuh subur ini lebih memilih kulakan di pasar, lebih murah dan hemat waktu.

mbak Neti yang malam itu lagi happy karena dagangannya laris
mbak Neti yang malam itu lagi happy karena dagangannya laris

Bagi Neti, sate bulayak adalah jualan yang digemari pengunjung, dan dari sate pun dia dapat untung cukup banyak apalagi saat ada event di area pantai. Saat event, dalam satu hari dia bisa menjual lebih dari 100 tusuk sate dengan pendapatan bersih tak lebih dari Rp50ribu per hari. Sementara jika tak ada event, sate yang dijual tak sampai 10 porsi. Tak heran, jika ada event, mbak Neti dan kakaknya lebih memilih tidur di kios sampai acara berakhir. 

Mungkin bulayak hanya sekedar kuliner baru buat saya, tapi bagi mbak Neti, bulayak sudah menjadi suami yang menghidupinya lebih dari 5 tahun ini. Maklum, di usia matangnya ini Mbak Neti masih membujang dan tak lelah mencari jodoh di setiap kipasan sate bulayaknya. Sementara saya hanya bisa mengamini doanya dan kembali menyantap sate bersama teman² di bawah langit malam pantai Krendengan. 

Lombok, 5 Maret 2015

Posted from WordPress for Android