Category Archives: Teh Hangat

Harapan si Odong-Odong

Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.

Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.

Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya. Continue reading Harapan si Odong-Odong

Sebatang Pensil

Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.

Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya. Continue reading Sebatang Pensil

Seberapa Lenturkah Saya?

Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek.

Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita.

Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup. Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri. Continue reading Seberapa Lenturkah Saya?

Filosofi Kaki

Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial.

Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.

Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang. Continue reading Filosofi Kaki

Manusia Super Kawah Ijen

Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi.

Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.

Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan ‘manusia belerang’ yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.

Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya. Continue reading Manusia Super Kawah Ijen