<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz &#187; MyDay</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/category/myday/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description>nice but not too nice, cool but not ignorance</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 15:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Harapan si Odong-Odong</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[odong-odong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.</p>
<p>Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.</p>
<p>Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya. <span id="more-245"></span></p>
<p>Pak odong, begitulah pria ini biasa disapa, bukan karena namanya odong, tapi karena dia tukang odong-odong, jadi ibu-ibu di kompleks perumahan kerap menyapa dengan nama Pak Odong, meski nama sebenarnya adalah Pak Kustadi.</p>
<div id="attachment_252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0157-od0.jpg" alt="Odong-Odong" title="CIMG0157-od0" width="300" height="225" class="size-full wp-image-252" /><p class="wp-caption-text">Odong-Odong</p></div>
<p>Perawakannya kurus, tidak juga tinggi, berkulit hitam dan senyumnya ramah. Sambil tetap mengayuh, Pak Kus berkisah tentang pengalamannya menjadi tukang odong-odong yang baru dijalaninya 8 bulan ini. Memilih menjadi pengayuh odong-odong adalah pilihan terbaik dibanding harus jadi kuli bangunan yang pernah dijalaninya 2 tahun lalu. Sebelumnya, Pak Kus juga sempat berjualan minyak tanah menggunakan becak sampai terpaksa harus berhenti jualan minah karena harga minah yang makin mencekik dan tergantikan dengan popularitas kompor gas.</p>
<p>Bagi Pak Kus, menjadi tukang odong-odong cukup menjanjikan, apalagi jika dia bisa memiliki odong-odong sendiri. Saat ini, Pak Kus masih menjalankan odong-odong milik orang lain dan harus setor Rp20ribu setiap harinya. Artinya Pak Kus harus bisa menjual minimal 20 lagu untuk menutup setoran, dengan hitungan satu lagu seharga Rp500. Lagu digunakan sebagai patokan untuk menyewa naik odong-odong, jadi rata-rata lama sewanya ya tergantung dari lamanya lagu diputar, bisa sekitar 2-3 menit. </p>
<p>Pak Kus mulai menarik odong-odong mulai jam 8 pagi sampai menjelang magrib, dan biasanya mendapat hasil yang cukup maksimal saat hari terang, tidak hujan, hari minggu, dan liburan sekolah. Pendapatan bersih per harinya cukup lumayan, sekitar Rp30 &#8211; Rp40 ribu dan kadang-kadang bisa sampai Rp80 ribu jika ada panggilan ulang tahun, dengan biaya sewa panggilan ultah sekitar Rp50 ribu, dan tidak ada patokan berapa banyak anak yang akan naik dan berapa banyak lagu diputar. Bisa dibayangkan jika di pesta ultah ada 100 bocah, dan semua berebut naik odong-odong, wew&#8230;bisa merana tuh kaki Pak Kus. </p>
<p>Tapi nyatanya tidak, karena Pak Kus pernah mengalami hal itu dan dia tetap mengayuh dan melayani bocah yang berebut naik odong-odong tanpa istirahat sampai pesta selesai. Belum lagi jika ada bocah yang beratnya mencapai 25kg, dan jika keempat tunggangan diisi full bocah dengan berat yang sama, bisa dibayangkan tenaga yang harus dikeluarkan&#8230;dan hanya dibayar 50ribu! *sigh* </p>
<div id="attachment_256" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0175-01.jpg" alt="Dinamo, nyawa kedua si odong-odong" title="CIMG0175-01" width="300" height="225" class="size-full wp-image-256" /><p class="wp-caption-text">Dinamo, nyawa kedua si odong-odong</p></div>
<p>Odong-odong yang merupakah hasil modifikasi dari becak ini memanfaatkan dinamo sebagai tenaga penggerak, yang digerakkan dengan mengayuh becak. Otomatis semakin banyak bocah yang naik, Pak Kus harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengayuh pedal. Namun menurut Pak Kus, mengayuh odong-odong dengan bocah di atasnya terasa lebih ringan dibanding mengayuh odong-odong tanpa penumpang, karena saat tidak ada penumpang, dia harus membawa beban utuh dari odong-odong, tanpa laher yang bisa membantu mendorong saat dikayuh.</p>
<p>Dengan total penghasilan rata-rata 800-900ribu per bulan selama full 7 hari kerja, Pak Kus bisa menghidupi keluarganya, sekolah dua anaknya dan membayar cicilan sepeda motor. Dan jika ada uang lebih, Pak Kus berharap bisa membeli odong-odong seharga 2,5 juta untuk menghidupi keluarganya dan siapa tahu kelak bisa menjadi juragan odong-odong. </p>
<p>Impian sederhana, namun sangat diharapkan Pak Kus di setiap kayuhnya mengiringi tawa bocah-bocah yang tertawa girang, beranjut-anjutan naik turun di atas tunggangan dan di tengah hiruk pikuknya lagu-lagu anak-anak yang distel dengan sound system kelas amatiran. Bagi Pak Kus, tawa riang bocah-bocah adalah harapan utamanya meraih hidup yang lebih baik, meski hanya menjadi tukang odong-odong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerak Telor Bebek</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>
		<category><![CDATA[kerak telor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  
Salah satunya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran <a href="http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/">JJF 2010</a> lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  </p>
<p>Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38. </p>
<p>Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar. <span id="more-247"></span></p>
<div id="attachment_248" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0485-jjf3.jpg" alt="Kerak Telor Kelompok Bapak Omas" title="IMG_0485-jjf3" width="250" height="194" class="size-full wp-image-248" /><p class="wp-caption-text">Kerak Telor Kelompok Bapak Omas</p></div>
<p>Cukup banyak orang yang mengantri dan saya ada di urutan ketiga untuk segera menikmati jajanan khas Betawi ini. Sambil menunggu saya melihat si penjual yang masih berusia muda terlihat sigap membalikkan wajan agar permukaan kerak telor terpanggang dan matang merata sambil sesekali dikipas-kipas agar bara api tetap menyala. Satu kerak telor ayam berharga 10ribu dan telor bebek lebih mahal dua ribu rupiah dari telor ayam. Saya pun memilih telor bebek karena lebih besar porsinya.</p>
<p>Tak kurang dari 45 menit kerak telor bebek pesanan saya sudah dibungkus rapi dalam kertas minyak dan tas plastik putih. Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan mencicipi jajanan khas Betawi ini. Sayang keraknya kurang kering, dan beras ketan putihnya  masih terasa keras, tapi ebi dan parutan kelapanya terasa cukup gurih. </p>
<p>Apapun rasanya, seporsi kerak telor ini cukup menolong perut yang kosong sejak sore dan setidaknya saya pernah mencicipi masakan khas Betawi selama berkunjung ke Jakarta. Nasib, setiap ke ibu kota tak sekalipun pernah merasakan jajanan khas Jakarta, selalu saja dapat traktiran di resto-resto berbau import. Semoga, saat ke Jakarta lagi bisa makan soto khas Betawi atau jajanan khas lainya. *ngarep traktiran* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Pria Terseksi&#8230;wew!</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 17:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[seksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang rekan kerja bertanya, siapa aktor Indonesia yang paling seksi, yang badannya bisa membuat wanita ngiler dan bahkan lumer. Bagi saya, istilah seksi itu relatif, bisa dari body, otak, attitude, moral dan isi kantong. Nah, tapi akan jadi sulit saat kelima syarat itu ditujukan untuk pesohor. Jika dipaksa memilih, mungkin saya akan memilih 5 orang pesohor yang menurut saya cukup seksi, dalam kapasitas saya sebagai pengamat (bukan hardly-fans), dan kewajiban membantu rekan kerja saya: <span id="more-230"></span></p>
<p>1. <strong>Dik Doank</strong><br />
Saya suka pria ini, bukan karena mirip pacar saya, sama sekali ga! (*ahem*). Tapi pria ini hebat, di saat seleb lain mikir materi dia justru mikir kehidupan sosial terutama pendidikan anak2 dan mendirikan sekolah gratis dengan Kandank Jurank Doank. Dik juga suami dan ayah yang baik bagi 3 anaknya, tidak ada kabar perselingkuhan, keluarganya adem ayem. Dik juga seniman selain entertainer, bahkan tahun 1997an (saat saya masih SMA), Dik adalah creator cover album musisi-musisi kelas A, sebut saja AB Three, Nike Ardila, adalah langganan setia Dik. Dan hebatnya lagi saat ibunya meninggal bbrp bln lalu, dia tidak menangis, tapi tersenyum dengan kepergian sang bunda, bukan berarti durhaka, tapi bagi saya Dik adalah pria tegar dan sanggup menghibur kerabat untuk duka yang paling mendalam. Secara fisik memang Dik kurang seksi tapi bagi saya dia pria hebat sekelas Jon Bon Jovi <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>2. <strong>Nicholas Saputra</strong><br />
Dia bukan bintang murahan, kharismatik, berprinsip dan smart. Aktingnya di AADC cukup ok dan terasah matang saat main di GIE. Tentu Loreal versi Male bukan asal pilih meminang Nicholas Saputra jadi brand ambasador mereka kan? Popular brand never get wrong with their choise.</p>
<p>3. <strong>Choky Sitohang</strong><br />
Keteduhan matanya, cara dia memuja lawan bicara (terutama wanita), pekerja keras, sayang keluarga, tutur bahasanya yang classy dan cerdas, yang tak selalu dimiliki pria metropolis, bahkan selebritis. Urusan seksi ga-nya, coba deh minta dia buka jas, saya yakin dada dan perutnya cukup sixpack bukan family-pack. Try this cool man :d.</p>
<p>4. <strong>Vino G Bastian</strong><br />
Muka boleh polos, tapi akting bisa dibilang sudah tak polos lagi alias matang. Kalau tak salah dia sempat jadi aktor terbaik FFI tahun 2008 untuk film Radit dan Jani. Aktingnya makin terasah saat main di Serigala Terakhir. Ya bukan film roman picisan seperti beberapa film terdahulunya. Urusan tubuh seksi, di beberapa film dia sempat topless dan rasanya ga kurus-kurus amat dan cukup oke lah. Alasan lain mengapa saya pilih Vino adalah, dia putra Bastian Tito yang tak lain adalah pengarang serial Wiro Sableng yang cukup fenomenal tahun 80an, dan saya adalah salah satu penggemarnya :d.</p>
<p>5.  <strong>Benyamin S</strong><br />
Bang Ben atau Benyamin S bisa jadi terlalu jadul, tapi sejak kecil saya melihat beliau unik. Gaya ceplas-ceplos khas Betawai, tingkahnya yang amburadul dan mimik mukanya saat mengolok-ngolok lekat dalam ingatan saya. Ya, bisa karena ibu saya adalah penggemar berat beliau, sampai tak pernah melewatkan semua filmnya plus lagu duetnya dengan Ida Royani. Dan menginjak dewasa saya tak lagi menyebutnya unik, tapi seksi. Mengapa? karena beliau menjadi dirinya sendiri, anti-copycat orang lain, bahkan gayanya yang sering kali dijiplak. Bang Ben cerdik, total dalam berseni, dan yang paling mengagumkan dia rela kerap tampil bego dan <em>ndeso</em> di hampir setiap filmnya dan tak pernah meninggalkan darah Betawinya. Ya, bagi saya, Bang Ben cukup seksi untuk saya pilih, karena beliau adalah pejuang seni Betawai sejati. </p>
<p>*by bazzberry saat lampu mati se-Malang Raya*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/02/lima-pria-terseksi-wew/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Lenturkah Saya?</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 16:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[resiliansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sebagian orang pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat kucing berburu sarapan, tempat petugas kebersihan menimbun sampah, tempat bertanah becek yang membuat ibu-ibu bersandal hak tinggi menggerutu hanya karena hak sandal mereka tenggelam di tanah lembek. Pasar juga jadi forum debat pedagang tempe, tape, jamur, singkong untuk sekedar ngobrol masalah politik dan lingkup terkaitnya. Pasar pun bisa jadi tempat yang ideal bagi pegawai toko sandang dan pembantu RT, saling jatuh cinta (eh, kalau yang ini pengalaman tetangga saya). Apapun bisa terjadi di pasar, sebuah tempat yang memang menjadi ujung pangkal penawaran dan permintaan beragam aktivitas hidup kita. </p>
<p>Tentu saya ga akan ngobrol tentang pasar, tapi lebih tentang seorang ibu yang saya jumpai di pasar dekat rumah beberapa waktu lalu. Saya tak akan menyebut beliau kurang waras, atau gila, karena terdengar kasar bagi saya. Tapi saya lebih memilih menyebut beliau kurang tahan dengan cobaan hidup.  Bisa jadi hutangnya banyak, ditinggal selingkuh suami, feeling distraught for being old, dan beragam problema lain yang ga seorang pun tahu kecuali keluarganya sendiri. <span id="more-213"></span></p>
<div id="attachment_214" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/12/IMG00012-20091129-0901.jpg" alt="captured by bazzberry - 29.11.09" title="IMG00012-20091129-0901" width="300" height="227" class="size-full wp-image-214" /><p class="wp-caption-text">captured by bazzberry - 29.11.09</p></div>
<p>Saya prihatin melihat beliau, dengan memakai tanktop pendek warna abu-abu, celana pendek selutut motif doreng yang pangkalnya ditekuk sampai pinggul dan memperlihatkan celana dalam putihnya, dan juga mengenakan sepatu kets putih. Rambut cepaknya dicat coklat kemerahan, wajahnya oriental, dan kerutan mulai muncul di wajahnya. Saya tak bisa melihatnya dengan jelas, karena jaraknya cukup jauh dari posisi saya berdiri, sementara beliau juga banyak bergerak, menari-nari di tengah jalan, kadang juga melompat, dan akhirnya duduk di sepeda yang diparkir di depan kios penjual pisang, bernyanyi lagu mandarin, sesekali juga dangdut sambil mengangkat dua tangannya, mengacungkan kedua ibu jarinya sambil bergoyang.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang dialami beliau, tapi apa yang dialaminya bisa jadi juga dialami orang lain, terbukti dalam tiga mingu terakhir koran Kompas rubrik konsultasi psikologis juga membahas sulitnya menjalani hidup, dan ujung-ujungnya hilang akal karena tidak tahan dengan cobaan hidup dan kemampuan resiliansinya (daya lenting) rendah. Istilah yang cukup awam bagi saya, meski secara kasar bisa diartikan dengan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan segala problema hidup walaupun keadaan terasa serba salah. Yah, bisa jadi terpelanting seperti ibu yang saya jumpai di pasar atau bisa jadi bertahan dan jadi pemenang. Mmm&#8230;kira-kira seberapa lentur saya menghadapi tantangan hidup ya? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/12/seberapa-lenturkah-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Kaki</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 14:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial. 
Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang salah dengan kaki saya? Kenapa dengan kaki? Sebuah pertanyaan balik yang kerap saya lontarkan pada teman-teman saya yang sering kali bertanya tentang image kaki yang saya pasang di berbagai avatar messenger, email, maupun jejaring sosial. </p>
<p>Ya, dibanding potret diri, saya lebih suka memotret kaki terbungkus sepatu dan kaos kaki. Tidak ada yang aneh bagi saya, hanya terasa unik dan senang melihat kaki yang telah menemani langkah saya selama hampir 30 tahun lebih. Saat bepergian saya tak pernah melewatkan memotret kaki saya, setidaknya sebuah penghargaan bagi dua anggota badan paling bawah ini setelah lelah menopang berat tubuh saya yang memang tidak proporsional.</p>
<p>Bagi saya, kaki adalah sahabat setia yang telah membantu saya beraktivitas mulai dari membuka mata sampai menutup mata. Kaki juga menjadi bagian penting dari secuil kisah hidup saya, yang membawa saya belajar merangkak sampai belajar menendang orang.  <span id="more-171"></span></p>
<p>Ya, lumrahnya kaki adalah anggota badan yang berfungsi untuk menyangga semua bagian tubuh, karena tubuh tidak hanya butuh berdiri dan duduk tapi juga bergerak, kadang juga melangkah, berjalan, berlari, melompat, berjingkat, merangkak, menendang, menjegal, menginjak, dll sesuai keinginan kita.  Jadi jika saya menyukai kaki, itu adalah hal yang sangat wajar,  karena fungsi dan pengabdiannya begitu besar.</p>
<div id="attachment_179" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/n635557191_1012244_1926_bw.jpg" alt="my leg in black and white" title="n635557191_1012244_1926_bw" width="300" height="259" class="size-full wp-image-179" /><p class="wp-caption-text">my leg in black and white</p></div>
<p>Kaki juga tak pernah protes jika saya ajak menginjak tahi, berjalan jauh, mengayuh sepeda, bahkan lupa membersihkan daki di lutut dan kuku. Mereka tak pernah protes, mereka tetap menerima apa adanya perlakuan saya. Bahkan, kaki juga tak pernah protes jika nama mereka dicatut oleh berbagai pihak, mengingat awalnya nama mereka adalah hak cipta resmi mahkluk hidup, tapi dalam perkembangannya, kaki juga di-embat berbagai benda untuk menunjukkan mereka juga punya kaki, bukan manusia atau hewan saja, jadilah ada istilah kaki gunung, kaki mobil, kaki meja, kaki kursi, kaki jembatan, kaki tangan, kaki lima, kaki kursi dan beragam kaki-kaki lainnya yang fungsinya hanya satu, yaitu sebagai penopang/pondasi dan pendukung unsur yang lebih utama di atasnya. </p>
<p>Jadi dengan kompleksibilitas kaki ini, tak salah jika saya mengidolakan kaki dan segala atribut di dalamnya. Yuk kaki, tetaplah kuat dan dukunglah saya sampai tiba saatnya nanti kalian melemah dan memaksa saya harus menggunakan &#8216;kaki-kaki bantuan berkaki lurus dan berujung melengkung. Nah, ada &#8216;kaki lain&#8217; lagi di sini <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/11/filosofi-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang Parkir</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 15:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[parkir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 &#8211; 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm. 
Tapi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak saya untuk menitipkan sepeda pada orang yang tidak saya kenal, tapi hampir setiap hari saya melakukan hal itu. Ya, kasarannya saya parkir sepeda. Tidak gratisan sih, tapi harus membayar sekitar 500 &#8211; 1000 rupiah untuk sekali titip sepeda atau bisa jadi 2000 jika saya juga nitip helm. </p>
<p>Tapi tidak masalah jika saat saya mengambil sepeda, si tukang parkir membantu menarik sepeda saya yang kadang posisinya terhimpit dengan sepeda² di sebelahnya dan cukup menyulitkan saya. Sayangnya tidak semua tukang parkir memiliki kepedulian kepada pelangganya. Ada kalanya mereka justru duduk ngobrol dengan teman mereka dan membiarkan pelanggan susah payah mengeluarkan sepeda miliknya. <span id="more-161"></span></p>
<p>Saya pernah mengalami hal itu, bahkan bisa dibilang sering meski ga sampai di atas hitungan angka 10. Hanya saat menghadapi situasi seperti itu, saya jadi kesal karena mereka sudah dibayar malah duduk ngobrol sementara saya kerepotan mengeluarkan sepeda saya sendiri, padahal saya sudah bayar. </p>
<p>Jika dipikir-pikir, cukup enak jadi tukang parkir. Hanya duduk, menunggu kendaraan datang, dan menerima duit. Ya, pekerjaan ringan dan cepat dapat duit, bahkan saking enaknya hampir semua tempat publik dikapling buat parkiran. Ya mau gimana lagi, karena saya juga ga ingin sepeda saya dibawa kabur maling. Jadi keluar duit 1000, bukan masalah. Tapi ya setidaknya saya sebagai pelanggan parkir juga butuh diperhatikan meski hanya membantu mengeluarkan motor jika motor saya terhimpit. Tapi&#8230;kok ya susah dapat perhatian itu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/10/tukang-parkir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Mimpi Sederhanaku</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 11:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Pohon, jangkrik mengerik, gemericik air adalah romantika masa lalu yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Alangkah nikmatnya bisa memiliki dua hal itu sekaligus dalam satu waktu. Bagi kami, rumah tidak sekedar tempat numpang tidur, tapi juga tempat bertemu keluarga, berbagi cerita, suka dan duka. Rumah juga satu paket dengan alam, lingkungan dan juga tetangga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pohon, jangkrik mengerik, gemericik air adalah romantika masa lalu yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Alangkah nikmatnya bisa memiliki dua hal itu sekaligus dalam satu waktu. Bagi kami, rumah tidak sekedar tempat numpang tidur, tapi juga tempat bertemu keluarga, berbagi cerita, suka dan duka. Rumah juga satu paket dengan alam, lingkungan dan juga tetangga sekitar. </p>
<p>Dan kami sadar menjemput rumah impian dibutuhkan perjuangan yang cukup panjang, setidaknya untuk tinggal di rumah yang baru kita tempati dua bulan yang lalu. Tak hanya memeras keringat, tapi juga memutar otak saat harus mencari pinjaman berbungan lunak untuk DP ngutang ke bank, negosiasi dengan makelar sampai <a href="http://bazzcethol.com/2006/06/x-new-house-tax-and-me/">mengurus tetek bengek</a> berlembar-lembar dokumen hitam di atas putih harus saya lakukan sendiri, tapi semua terbayarkan dengan sebuah rumah yang menjadi impian bapak sejak 20 tahun lalu. </p>
<p>Bukan rumah gedong berpilar tinggi, tapi hanya rumah sederhana dengan halaman cukup luas dengan keteduhan pohon rambutan di sudut kiri rumah. Pohon itu sudah ada di sana sejak kami pindah, dan pemilik rumah lama meminta kami untuk tidak menebang pohon itu, karena banyak kenangan di sana. <span id="more-149"></span></p>
<p>Ya, saya sendiri memang tidak berniat menebangnya, toh puluhan batang dan ratusan daunnya cukup membuat dingin rumah kami, dan kami menyukainya <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Pohon rambutan itu hanya satu dari sekian sudut rumah yang membuat saya jatuh cinta. Halaman belakang seluas 8 x 10 meter cukup memberi tempat beternak selusin bebek untuk menemani bapak menghabiskan waktu senjanya. Sebuah kesibukan yang sangat didambakannya sejak menderita stroke selama 2 tahun lebih.</p>
<p>Masih di halaman belakang, ada sepetak tanah kecil yang bisa dimanfaatkan ibu untuk memupuk beberapa bunga dan tanaman toga yang sudah ditabungnya saat kami menempati rumah kontrakan selama 8 tahun lamanya, dan untunglah rumah baru ini memberi tempat lumayan luas untuk tanaman ibu. </p>
<p>Sementara bagian dalam rumah tak sebagus luarnya, kami masih harus melakukan beberapa perbaikan di sudut langit-langit rumah. Bekas air hujan yang merembes ke dalam tampak membuat noktah yang saling bertautan satu sama lainnya, dan seperti membentuk gugusan rasi bintang. Tentu tidak seindah rasi bintang di kelamnya malam, tapi justru menganggu mata saat menengadah kepala dan melihat kumpulan noda kecoklatan itu. Butuh beberapa polesan semen putih dan memperbaiki genteng retak yang jadi salah satu pemicu noda-noda itu. </p>
<p>Rumah bercat putih yang catnya mulai memudar ini memiliki 4 kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tengah. Dapur cukup besar, dan nantinya akan kami fungsikan menjadi satu paket dengan ruang makannya, toh tidak akan banyak orang yang tinggal di rumah ini, hanya aku, bapak dan ibu. Jadi tidak perlu memiliki ruang makan sendiri, jika kami bisa menyulap dapur menjadi ruang yang multifungsi. Kadang juga buat meja mengiris sayur serta tempat bapak membaca koran dan minum secangkir teh hangat.</p>
<p>Kamarku ada di bagian depan rumah, dengan posisi lebih menjorok dari ruang tamu utama. Ada jendela besar dilengkapi teralis di sudut kiri kamarku, berseberangan langsung dengan pohon rambutan. Yah, pastinya pohon itu akan melindungiku dari sinar matahari saat pagi datang karena kamarku menghadap timur. Setidaknya beberapa rimbun daunnya tak akan mengantarkan sinar matahari langsung ke kamarku dan aku masih bisa menikmati beberapa saat lebih lama meringkuk di selimut hangatku :d.</p>
<p>Sementara kamar bapak dan ibu ada di seberang kamarku, dan tidak ada yang istimewa dari kamar-kamar di rumah ini. Tapi kami sangat menyukainya karena setiap kamar memiliki jendela besar dan ventilasi yang cukup, tak seperti bekas rumah kontrakan kami yang fakir ventilasi. Ya, ciri khas perumahan padat penduduk yang direnovasi total hanya untuk memperluas ruang tinggal tanpa memikirkan sirkulasi udara. </p>
<p>Di halaman depan, di seberang pohon rambutan, masih ada sisa tanah, tidak luas, hanya 5 meter, tapi rencananya nanti akan kita letakkan sebuah pot pendek bermulut lebar. Di dalamnya akan kita isi air, dua daun teratai dan sebuah selang yang akan disambung sedemikian rupa sampai menciptakan pancuran kecil yang bekerja dengan daya listrik. Di sebelahnya, akan kita tempatkan beberapa rimbun tanaman dan satu kursi taman dari kayu dan besi berwarna hitam dan coklat dengan ukiran pada sandaran dan pegangan kursinya. Sebuah kursi manis yang saya lihat seharga 1,5 juta di ace hardware, cukup mahal untuk sebuah kursi taman <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Tapi itu masih jadi angan-angan dan bukan prioritas kami, toh yang harus kami perbaiki masih banyak, seperti memastikan selokan pembuangan kotoran tidak mampet, membuat dua tiang di halaman belakang untuk menjemur baju, mencat pagar dan dinding rumah agar terlihat lebih manis, dan melepas stiker di pintu depan rumah. Hal yang paling aku benci saat pertama kali melihat rumah ini. Semoga dengan bantuan bensin atau alkohol, bekas stiker bandel bergambar singa raksasa itu bisa hilang, sebelum aku mencatnya dengan cat minyak warna coklat muda. </p>
<p>Mungkin setelah melakukan beberapa renovasi kecil di dalam dan luar, waktunya untuk  memikirkan membeli beberapa perabot yang memang sengaja tidak kami beli saat masih mengontrak. Ya, beberapa mebel yang jadi incaranku di lelang barang display masih ada di my wish list, tapi semua harus ngantri, karena budjet bulan ini mulai dialihkan untuk mencicil biaya rumah selama 10 tahun. Waktu yang lama, dan penuh perhitungan untuk mulai berhemat dan berpikir ekonomis. Tapi tak masalah, asal aku bisa melihat ibu menyapu daun-daun jatuh di bawah pohon rambutan dan bapak dengan selusin bebeknya di halaman belakang rumahnya sendiri. Dan itu membuat saya bahagia.</p>
<p>Ya itulah selama lebih dari 10 tahun, yang saat ini belum aku miliki, tapi aku yakin bisa memilikinya dalam waktu dekat ini, entah kapan, karena aku tak bisa meramal nasibku sendiri, tapi aku begitu yakin bisa membuka pintu rumah itu, bersama bapak dan ibu. Amin. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iseng di Saat Pilek</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/03/iseng-di-saat-pilek/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/03/iseng-di-saat-pilek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 13:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[15 menit yang lalu, saya pergi menebus resep ke Apotek di dekat rumah saya. Pembeli yang ada saat ini lumayan banyak, jadi saya harus mengantri di urutan ke enam sebelum obat pesanan saya selesai diramu.
Bisa dimaklumi, selain karena jadi toko obat paling lengkap di Sawojajar, apotek ini juga menjual CD, baby clothes, dan persewaan alat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>15 menit yang lalu, saya pergi menebus resep ke Apotek di dekat rumah saya. Pembeli yang ada saat ini lumayan banyak, jadi saya harus mengantri di urutan ke enam sebelum obat pesanan saya selesai diramu.</p>
<p>Bisa dimaklumi, selain karena jadi toko obat paling lengkap di Sawojajar, apotek ini juga menjual CD, baby clothes, dan persewaan alat pesta. Jadi orang datang ga hanya berburu kesembuhan tapi juga butuh hal lain.</p>
<p>Lumayan lama saya mengantri, akhirnya saya memilih duduk di deretan bangku berwarna merah di samping kotak amal, dan di sebelah kursi yang ada setumpuk majalah &#038; tabloid yang ga tahu milik siapa. <span id="more-141"></span></p>
<p>Iseng saya mengambil satu majalah wanita milik Gramedia Grup. Saya buka halaman per halaman, sampai mata saya sampai di halaman bertuliskan Rahasia Pria di pojok kiri atas, yang memuat sederet kata bertuliskan: &#8220;Ukuran MR.P pria Indonesia ternyata 5cm lebih kecil dibanding milik pria Afrika.&#8221; Di bagian bawah tertulis sumber: Situs Gaya Hidup, KapanLagi.com, 2007.</p>
<p>Dalam hati saya berkata, majalah yang 8 tahun lalu pernah mengacuhkan saya ternyata juga &#8217;sowan ke tempat saya bekerja&#8217;, bahkan rela mengaduk-aduk arsip tahun 2007 hanya demi ukuran Mr.P. Senangnya!</p>
<p>Ya, meski hidung mampet &#038; badan tak sehat, saya merasa bahagia. Tulisan saya dibaca media besar, setidaknya saya tidak lagi menunduk dan merasa kecil tapi sudah bisa menjadi &#8216;teman&#8217; yang diperhatikan. Kita bisa menjadi teman yang membantu majalah sebesar FEMINA menulis secuil artikel untuk edisi Maret 2009.</p>
<p>*Apotik Kamila, BazzBerry®*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/03/iseng-di-saat-pilek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>13 Bulan Lagi</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2008/11/13-bulan-lagi/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2008/11/13-bulan-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 16:03:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Menunggu adalah hal yang membosankan, tapi kadang juga menyenangkan karena ada harapan dan tujuan di sana. Celutukan iseng seorang teman di meja makan beberapa waktu yang lalu memang ada benarnya.
&#8220;Waktu kalau ditunggu selalu lama, tapi jika dijalani ga akan ada rasanya&#8221;&#8230;ya, memang ada benarnya. Terasa banget saat bangun tidur, mandi, bersepeda (jika sempat), ngantor, pulang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menunggu adalah hal yang membosankan, tapi kadang juga menyenangkan karena ada harapan dan tujuan di sana. Celutukan iseng seorang teman di meja makan beberapa waktu yang lalu memang ada benarnya.</p>
<p>&#8220;Waktu kalau ditunggu selalu lama, tapi jika dijalani ga akan ada rasanya&#8221;&#8230;ya, memang ada benarnya. Terasa banget saat bangun tidur, mandi, bersepeda (jika sempat), ngantor, pulang, tidur&#8230;rutinitas yang setiap hari dilakoni, tapi ya itu tadi jadi terasa sangat cepat dan tahu-tahu sudah berganti hari, bulan dan tahun. </p>
<p>Tapi dengan berharap akan suatu penantian, waktu jadi terasa lama. Terlebih penantianku memang cukup lama, 15 Desember 2009. Masih 13 bulan lagi, jadi waktu yang kupunya terasa semakin lamban. </p>
<p>*mencoret-coret kalender*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2008/11/13-bulan-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hampir setahun</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2008/07/hampir-setahun/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2008/07/hampir-setahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 08:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[stroke]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2008/07/27/hampir-setahun/</guid>
		<description><![CDATA[Kurang 12 hari lagi, genap satu tahun bapak menderita stroke. Penyakit yg benar-benar menguji kesabaran pasien dan orang² di sekitarnya. Tidak sedikit pengobatan yg sudah dicoba mulai yg rasional sampai yang &#8216;ajaib&#8217;, semuanya mengalir tanpa hasil maksimal.
Terakhir kali, pengobatan nyeleneh yang didapat bapak dari rujukan salah seorang pasien di sebuah pijat alternatif di dekat rumahku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kurang 12 hari lagi, genap satu tahun bapak menderita stroke. Penyakit yg benar-benar menguji kesabaran pasien dan orang² di sekitarnya. Tidak sedikit pengobatan yg sudah dicoba mulai yg rasional sampai yang &#8216;ajaib&#8217;, semuanya mengalir tanpa hasil maksimal.</p>
<p>Terakhir kali, pengobatan <em>nyeleneh</em> yang didapat bapak dari rujukan salah seorang pasien di sebuah pijat alternatif di dekat rumahku, sebuah pengobatan alternatif dalam bentuk pijat syaraf kaki yang dijalani bapak sekitar 1 bulan ini. Dari info pasien tersebut, bapak dianjurkan merendam kaki/tangannya dalam baskom berisi es batu seberat 1 kg, 2 sendok makan merica bubuk, 1 liter minyak tanah, dan 2 butir air perasan jeruk nipis dicampur jadi satu. Ritual merendam ramuan aneh ini dilakukan 2 x sehari. <span id="more-99"></span></p>
<p>Hasilnya, setelah 1 hari percobaan, tangan dan kaki semakin kaku dan perih, terlebih cuaca dingin turut membuat kaki dan tangan bapak kaku dan sulit digerakkan. Ya, akhirnya bapak menuruti permintaan kami untuk menyudahi pengobatan yg dari awal memang tidak kami ijinkan, tapi apa daya, bapak keras kepala, dan enggan menuruti nasehat kami.  Wew, keras kepala itu memang menyebalkan, terlebih jika pada akhirnya kekeras-kepalaan itu berakhir buruk.</p>
<p>Saat ini, tidak banyak pengobatan yg dilakukan, hanya diet makanan, konsumsi obat rutin dari dokter, menggosok kaki dan tangan dengan jahe/bawang merah + minyak kayu putih (ramuan ajaib lagi), dan tentu membatasi gerak bapak bergerilya ke dapur. Ya, setidaknya bukan hanya bapak, tapi aku juga harus ikut mendukung gerakan bebas makan saat nonton TV/di depan bapak, berat tapi harus tetap dilakukan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2008/07/hampir-setahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
