<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz &#187; Keringetan</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/category/keringetan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 18:25:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Manusia Super Kawah Ijen</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 05:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keringetan]]></category>
		<category><![CDATA[ijen]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi. 
Ayunan keranjang yang berderit-derit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang cukup terik, udara bercampur pekat asap belerang tak menyurutkan langkah Pak Shodiq untuk terus memikul sekeranjang penuh belerang dari bibir kawah Ijen menuju lereng kawah dengan kemiringan sekitar 60-90 derajat. Jalan setapak kecil yang penuh batu tak menyurutkan langkahnya untuk sampai tujuan, sambil sesekali berhenti dan mengelap peluh di dahi. </p>
<p>Ayunan keranjang yang berderit-derit di atas bahunya terdengar harmonis di antara dinginnya angin gunung Ijen saat Minggu lalu saya dan beberapa kawan berkunjung ke gunung yang terletak di kawasan Bondowoso ini. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari perjalanan ini, karena pasti ada rasa senang, capek dan puas karena bisa lepas dari rutinitas untuk sejenak.</p>
<p>Saya lebih senang bisa bercerita tentang Pak Shodiq, salah satu dari ratusan &#8216;manusia belerang&#8217; yang mendulang rejeki dari panasnya kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat sampai pulang bekerja.</p>
<p>Tidak banyak yang saya dapat dari Pak Shodiq yang menemani saya melepas lelah di salah satu jalan setapak menuju arah pulang. Dengan kaos biru bernoda jelaga dan sedikit gosong di sana-sini, pria berusia 45 tahun ini dengan akrab bertutur tentang pekerjaan hariannya. Dengan senyum ramah dan logat Madura yang kental bapak dua anak ini mengawali kisahnya sebagai buruh angkut belerang sejak tahun 1991 menggantikan ayahnya yang sudah tua dan tak mungkin lagi mengangkut belerang. Pak Shodiq melanjutkan kerja ayahnya yang kala itu telah bergabung dengan penambangan sejak mulai awal didirikan yaitu sekitar tahun 1967, dengan upah masih 10rp per kg-nya. <span id="more-164"></span></p>
<div id="attachment_205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/IMG_0280.jpg" alt="Pak Shodiq" title="IMG_0280" width="300" height="226" class="size-full wp-image-205" /><p class="wp-caption-text">Pak Shodiq - kuli angkut belerang Kawah Ijen</p></div>
<p>Pak Shodiq sendiri menjadi kuli angkut belerang dengan upah awal 100rp/kgnya pada tahun 1991 hingga saat ini dengan harga 600rp/kg. Sebuah harga yang sangat tidak manusiawi dibanding resiko yang dipertaruhkan untuk mengangkat berkilo-kilo belerang mulai dari bibir kawah hingga pusat pengepulan belerang dan harus menempuh jarak lebih dari 3km. </p>
<p>Bagi pria asal Sumenep ini, menjadi kuli belerang adalah pilihan terbaik dibanding bekerja sebagai kuli tani di Madura dengan hasil yang jauh lebih minim. Dengan berbekal raga yang kuat, sebotol air yang diambil dari WC umum untuk tamu wisatawan, dan dua keranjang, Pak Shodiq mampu mengangkut 67kg belerang dengan rute dari bibir kawah sampai tempat penimbangan. Dulu saat usianya masih muda dan saat masih menjadi tenaga lepas, dia mampu mengangkut 90kg belerang dalam sekali angkut mulai dari bibir kawah sampai penimbangan, dan bisa bolak-balik 3-4 kali dalam seharinya. Kini statusnya adalah kuli tetap yang hanya diijinkan mengangkut 2 kali angkutan belerang dalam seharinya.</p>
<p>Pria yang berharap anak-anaknya kelak tak meneruskan pekerjaannya ini mengaku mendapat hasil tambahan dari berjualan suvenir cetak dari belerang, dan juga menjadi objek foto dari turis-turis mancanegara, dan kadang-kadang mendapat uang saku sekitar 20-40ribu. </p>
<p>Sebagai penghasilan tambahan, dan juga karena status Pak Shodiq yang menjadi kuli tetap, dia bisa menambah penghasilan dengan menjaga pipa-pipa saluran sumber belerang di kawasan penambangan yang terletak di pinggir kawah mulai jam 6 sore &#8211; 6 pagi dengan upah 120ribu untuk dua orang. Tugas Pak Shodiq adalah memastikan pipa saluran harus tetap dingin, jika terlalu panas maka dia dan seorang temannya harus sigap menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila terlalu panas pipa saluran belerang akan pecah. </p>
<p>Pak Shodiq dan banyak penambang harus melakukan pekerjaan dramatis ini &#8211; seperti mencongkel belerang yang telah padat, memastikan pipa terhindar dari panas, dan juga mengangkutnya &#8211; semua dilakukan di tengah kepulan asap yang menyesakkan paru-paru dan memedihkan mata, tanpa perlindungan apa pun, hanya bermodal kain lusuh yang dibasahi air dan digunakan untuk penutup hidung dan mulut. </p>
<p>Untuk mengangkut belerang, terkadang beberapa kuli angkut melakukan cara angkut bergantian. Beberapa dari mereka meletakkan keranjang di tikungan terjal dengan posisi yang memudahkan untuk dipikul. Pikulan kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga. Biasanya para pengangkut yang lebih muda mengangkat di jalur berat sementara yang tua melanjutkannya di jalur ringan. Mereka sesekali duduk merokok sambil melepas lelah dan menormalkan mata yang pedih karena belerang. Rata-rata pengangkut berusia 25-55 tahun, di atas 55 tahun, pemilik penambangan tidak akan mengijinkan untuk menjadi kuli angkut belerang. </p>
<div id="attachment_208" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2009/11/IMG_0246.jpg" alt="Wisatawan dan Kuli Belerang" title="IMG_0246" width="300" height="225" class="size-full wp-image-208" /><p class="wp-caption-text">Wisatawan dan Kuli Belerang</p></div>
<p>Yang membuat saya heran, Pak Shodiq mengaku tak pernah merasa sakit di paru-paru, mungkin yang sering dia alami dan juga rekan-rekan sekerjanya, adalah linu di bahu dan lutut, dan jika itu terjadi, dia harus libur mengangkut dan menunggu linu di kaki menghilang. Meski biasanya dia tetap memaksakan diri untuk tetap berangkat &#8216;nguli&#8217; dan dibantu penambang lain yang bisa membantunya mengangkut sampai di pos timbang, dengan cara bagi hasil. Hasilnya kecil, karena rata-rata dalam sehari dia hanya bisa mengangkut 60-67kg/hari dan itu pun harus dibagi lagi jika harus menggunakan tenaga &#8216;bantuan&#8217; tadi. </p>
<p>Benar-benar sebuah pekerjaan yang memaksa kekuatan maksimal manusia, dan bagi saya mereka adalah manusia-manusia super yang sabar bertahan dari himpitan ekonomi dan perbudakan yang masih berlaku di negara yang katanya makmur ini. Dan saya sangat menyadari jika saya jauh lebih beruntung dari mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2009/11/manusia-super-kawah-ijen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Funbike Nyungsep 2008</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2008/11/funbike-nyungsep-2008/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2008/11/funbike-nyungsep-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 16:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keringetan]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu jadi pengalaman seru bagiku. Pertama kalinya ikut funbike dan pertama kalinya membuat orang nyungsep ke parit. Funbike yang digelar dalam rangka memperingati HUT TNI dan KOREM 083 Baladika Jaya tahun 2008 ini dilaksanakan di lapangan Rampal, Malang pukul 06.00 sampai selesai. 
Dengan rute Rampal &#8211; Perum Sawojajar &#8211; Gribig &#8211; Wonokoyo &#8211; Puncak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu lalu jadi pengalaman seru bagiku. Pertama kalinya ikut funbike dan pertama kalinya membuat orang nyungsep ke parit. Funbike yang digelar dalam rangka memperingati HUT TNI dan KOREM 083 Baladika Jaya tahun 2008 ini dilaksanakan di lapangan Rampal, Malang pukul 06.00 sampai selesai. </p>
<p>Dengan rute Rampal &#8211; Perum Sawojajar &#8211; Gribig &#8211; Wonokoyo &#8211; Puncak Buring &#8211; Sawojajar &#8211; Rampal, funbike ini benar-benar melelahkan karena jalannya menanjak dan membuat banyak peserta termasuk aku lebih banyak jalan kaki daripada mengayuh saat di tanjakan.</p>
<p>Funbike diikuti peserta dari berbagai kota, segala usia, pria-wanita, dan segala jenis sepeda mulai onthel sampai sepeda karbon yang harganya sekelas tiger :d. Pokoknya, semua pengendara dari yang rookie seperti saya sampai yang profesional berkumpul dan berbagai pengalaman sehatnya bersepeda di acara yang mematok harga tiket sebesar Rp30 ribu ini. <span id="more-112"></span></p>
<p>Sejak start di lapangan utara Rampal, aku selalu deg-degan, karena masih tidak bisa berkendara dengan baik, untung ada <a href="http://picasaweb.google.com/rita.sugihardiyah/FUnBikE#5270706778256828658">teman</a> yang bisa jadi partner funbike yang baik.</p>
<p>Separuh jalan, funbike berjalan mulus sampai tiba di jalan turun yang kondisinya lumayan ancur, aku melakukan hal ceroboh dan menabrak tandem funbike-ku sampai terjungkal ke parit dengan posisi kepala mendarat ke tanah lebih dulu dari badannya. Weeew&#8230;benar2 pendaratan yang menyakitkan <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Alhasil <a href="http://picasaweb.google.com/rita.sugihardiyah/FUnBikE#5270706544243446114">pelipis kanannya lecet</a>, baju dan <a href="http://picasaweb.google.com/rita.sugihardiyah/FUnBikE#5270706312107959826">helm belepotan tanah</a>, dan benar2 dekil penampilannya <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Sementara aku hanya cedera kecil, telapak tangan kiriku lecet tergores aspal, pergelangan tangan terkilir dan lebam2 di kaki kiri, sementara my BTW lecet di bagian depan dan mata kucing di roda depan lepas <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> , benar2 apes deh.</p>
<p>Sekitar pukul 10, kita kembali ke lapangan rampal lewat jalan tembus di Perum Puncak Buring, maklum waktu kita banyak tersita di insiden ceroboh tadi, jadi kita masuk di peserta paling akhir dan dapat keistimewaan dengan memotong rute yang asli :d. </p>
<p>Nyampe di lapangan utara Rampal, kita setor potongan kupon dengan nomor undian, isi perut di salah satu warung makan, dan balik lagi ke area panggung yang dipadati peserta funbike. Ada yang duduk-duduk nunggu drawing pemenang Xenia ataupun sekedar berkemurun di stan Polygon untuk cek kesehatan.</p>
<p>Sampai pengundian berakhir dan tak satupun nomor kita yang keluar sebagai pemenang, kita cabut, karena buru2 mau sowan ke rumah pengantin baru sekitar jam 13an. Sayang niat ini urung dilakukan gara2 badan sakit semua dan akhirnya baru sempat sowan malam harinya, ke rumah mas <a href="http://tiyangsae.wordpress.com/">Sae</a>, yang menyebut kelakuan saya di Funbike sebagai perilaku KDFB (kekerasan dalam FunBike), syukurlah dia tidak menuduhku KDRT <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Minggu lalu benar2 menyenangkan meskipun masih terasa ngilu di pergelangan tangan kiri :d.</p>
<p>*pijitin tangan sendiri*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2008/11/funbike-nyungsep-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Trip to Bromo</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2008/01/my-trip-to-bromo/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2008/01/my-trip-to-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 15:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keringetan]]></category>
		<category><![CDATA[bromo]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2008/01/03/my-trip-to-bromo/</guid>
		<description><![CDATA[Pergantian tahun 2008 ini aku lewati bersama Manus dan klub motor Kawasaki (BKRC) Malang. Meski awalnya hampir mengecewakan, tapi akhirnya everthing goes well dan happy ending. Ya, paling tidak, aku bisa sambang gunung Bromo lagi setelah turing terakhir bersama my best gal.
Planning awal berangkat pukul 3 sore, tapi karena beberapa kendala dan hujan yang terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pergantian tahun 2008 ini aku lewati bersama Manus dan klub motor Kawasaki (BKRC) Malang. Meski awalnya hampir mengecewakan, tapi akhirnya everthing goes well dan happy ending. Ya, paling tidak, aku bisa sambang gunung Bromo lagi setelah turing terakhir bersama <a href="http://www.tutut-79.blogspot.com/">my best gal</a>.</p>
<p>Planning awal berangkat pukul 3 sore, tapi karena beberapa kendala dan hujan yang terus mengguyur akhirnya kita berangkat hampir pukul 2 dini hari setelah sebelumnya melepas lelah di rumah p.Bambang, salah satu tetua Kawasaki, di daerah Pakis. (wuihh&#8230;.penantian terpanjang yg pernah aku jalani, hampir 11 jam di jalanan).<span id="more-96"></span></p>
<p>Meski hanya tujuh rider plus aku sebagai partisipan, tapi tekad kami turing ke Bromo tetap bulat. Kami mengambil rute Purwodadi, lewat Nongkojajar karena lebih dekat dan kondisi jalannya lumayan bersahabat setelah sebelumnya survei pada 25 Desember lalu. </p>
<p>Sayang, perkiraan kami meleset, karena sepanjang jalan Nongkojajar menuju desa Tosari setelah POM bensin terakhir di sebelah kebun percontohan Strawbery, hancur gara-gara longsor. Dan hujan seharian semakin membuat jalan licin dan penuh kubangan air di kanan kiri jalan&#8230;..bisa dibilang tak ada alternatif jalan lain, terlalu ke kiri resiko masuk jurang, ke kanan juga ga mungkin karena sempitnya dinding padas yang licin dan tertutup dahan pohon/semak-semak yang jatuh karena hujan. </p>
<p>Gelapnya malam juga makin menyulitkan perjalanan kami. Lumpur, batu-batu ukuran kecil/besar, kubangan penuh air juga jadi jebakan sepanjang perjalanan kami. Terlebih Manus juga harus membonceng aku, jika aku terlalu banyak gerak dan tak bisa menyeimbangkan diri, bisa2 terlempar dari boncengan. Meski akhirnya kami berdua sempat jatuh juga gara2 sliding. Tapi kali ini jatuhnya lembut banget, karena kami sudah feeling bakal jatuh. Untung  jatuh pas di tanah yang kering, ga kebayang deh jatuh di kubangan lumpur, bisa mirip kebo abis bajak sawah  :d.</p>
<p>Setelah perjalanan melelahkan dan mendebarkan akhirnya kami tiba di Desa Tosari sekitar pukul 3.15. Masih terlalu pagi, jadi beberapa kios masih banyak yang tutup, tapi di beberapa sudut jalan tampak pengunjung lain yang berdiri atau duduk bergerombol menghangatkan diri.</p>
<p>Kami parkir motor di depan sebuah toko, mencuci kaki, cek kondisi sepeda, dan menuju warung membeli segelas kopi. Sekitar setengah jam kemudian kami menuju Penanjakan, bukan untuk melihat sunrise seperti tradisi wisatawan lainnya, tapi berkunjung ke warung Pak Ikhsan untuk ngopi dan makan mie. Dari info pak Ikhsan, selama empat hari ini kabut cukup tebal dan kondisi cuaca yang buruk membuat sunrise tak bisa terlihat dari Penanjakan, jadi ga bakal rugi jika kita memang tak berniat menuju Penanjakan. </p>
<p>Usai menghangatkan diri dan membuat perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju gurun pasir, padang rumput, tapi minus puncak gunung Bromo ataupun ke gunung  Batok. Kami sempatkan <strong><a href="http://picasaweb.google.com/rita.sugihardiyah/TurWithBKRC">photo session</a></strong> di padang alang2 dan menempatkan sepeda masing-masing rider pada photo shot terbaiknya, di tengah alang2, dengan latar belakang pegunungan dan birunya langit. Sebuah penghargaan untuk tunggangan kami, setelah menempuh track yang cukup sulit. Meski ridernya juga tak mau ketinggalan pasang aksi.</p>
<p>Photo shot kembali kami lakukan saat tiba di lautan pasir. Kondisi jalan yang basah dan lembab karena musim hujan membuat padang pasir sama sekali tak berdebu dan sangat bersahabat bagi pengendara sepeda motor. Puas bermain-main dengan motor kami, foto sana foto sini, kami memutuskan untuk pulang. </p>
<p>Perjalanan pulang tak kalah serunya dengan rute saat kita melewati Nongkojajar. Kali ini kita mengambil rute menuju Tumpang. Dari lautan pasir kita menuju ke hamparan padang savana yang menawan, yang selintas mirip dengan perbukitan New Zealand, hanya bedanya ga ada biri-biri yang merumput di sana :d. Aku sangat mengagumi savana ini, dengan harum aroma rumput Adas, ilalang, dan semak-semak khas pegunungan, rasanya sayang untuk menyudahi perjalanan ini.</p>
<p>Kami harus melewati jalan berlumpur dan kubangan air yang cukup dalam dan lebar, yang memaksaku harus berjalan kaki di antara rumput dan semak-semak tebal, dan melanjutkan berkendara dengan motor lagi, sampai akhirnya kami sampai di jalan paving menuju ke Gubugklakah atau Jemplang (kalo aku ga salah baca beberapa tonggak penunjuk jalan), dan melewati jalan menuju Coban Pelangi, dan lurus menuju ke Ponco Kusumo, dan melaju ke Tumpang.</p>
<p>Kami berhenti di pom bensin pasar Lawang, memberi minum kuda kami, dan menunggu undangan makan siang dari mbak Yeni, saudara P.Bambang yang menjamu kita dengan beragam makanan dan keramatamahan khas orang desa. Setelah perjalan yang melelahkan dan perut kosong mulai pagi, segelas kopi, air putih, dan sepiring nasi gerit (nasi jagung), sungguh terasa nikmat.</p>
<p>Usai mengenyangkan diri, membuat diri merasa nyaman, dan saling berkisah tentang perjalanan yang kami lalui, akhirnya kami pamit pulang, dan kembali rumah, menghabiskan sisa tahun baru bersama rasa puas, capek, dan kenangan indah padang savana serta serunya teman-teman BKRC. Thanks u guys, u make my day. Happy New Year, may all this happiness always be with you. GBUs.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2008/01/my-trip-to-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngadem ke Panderman</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 13:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keringetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2007/11/09/ngadem-ke-panderman/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu lalu bersama beberapa teman, aku ngadem ke Panderman. Entah kenapa kali ini bapak mengijinkanku hiking ke gunung walaupun lagi musim hujan, entah karena aku yang ahli merayu dan membuat hati bapak luluh, atau karena beliau kasihan dengan diriku. I dunno, yang pasti aku lega dapat restu camping di musim hujan. 
Aku, Manus, Aryo, Alex, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu lalu bersama beberapa teman, aku ngadem ke Panderman. Entah kenapa kali ini bapak mengijinkanku hiking ke gunung walaupun lagi musim hujan, entah karena aku yang ahli merayu dan membuat hati bapak luluh, atau karena beliau kasihan dengan diriku. I dunno, yang pasti aku lega dapat restu <em>camping</em> di musim hujan. </p>
<p>Aku, Manus, <a href="http://www.mahesajenar.com/">Aryo</a>, Alex, <a href="http://tiyangsae.blogspot.com/">Ryan</a>, dan Pithes mengawali perjalanan tepat tengah malam buta, padahal rencana awal kita berangkat jam 10-11an, tapi karena kesibukan masing-masing personil akhirnya kita berangkat lewat  jam 12 malam. </p>
<p>Kondisi jalan yang becek setelah turun hujan membuat jalanan makin licin, terlebih susana gelap gulita menambah seru perjalanan kami. Dan sangking semangatnya mendaki, Aryo sempat jet lag dan meninggalkan &#8216;bekas lalapan&#8217; di awal jalan menuju ke lokasi tujuan. <span id="more-94"></span></p>
<p>Lebih seru lagi, kita mendarat di tengah perkebunan :d. Tak ada yang perlu disesali meski kita salah arah dan tak bisa mencapai camping ground Latar Ombo. Paling tidak kita sudah hampir mendekati camping ground kedua, Watu Gede, dan pastinya lebih jauh beberapa mil dari camping ground pertama. </p>
<p>Tidur dan melepas lelah di tengah lahan yang kecil dan miring ditemani tenda imut bergambar mickey dan donald, sungguh romantis. Bukan sok imut, tapi memang salah bawa tenda <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). </p>
<p>Tak banyak kegiatan yang kita lakukan, kita mulai bikin perapian, memasang tenda, mengatur matras, jepret sana jepret sini, duduk2 ataupun tidur2an di tanah yg lembab dan miring sambil ngobrol, denger kartolo, melihat bintang, masak mie, nyemil brownisnya ambar, ngemil snacknya Aryo, dan akhirnya sebagian dari kita mulai tertidur karena lelah.</p>
<p>Pagi jam 10 kita berkemas dan siap meninggalkan Panderman. Saat perjalanan pulang, kondisi jalan dan fisik kita jauh lebih baik, dan meski kita harus menambah porsi jalan sampai di luar dusun Sanggrahan dan menanti jemputan di dekat Vila, yang jaraknya lumayan jauh, bukan masalah bagi kita, kecuali rasa haus yang mencekik kerongkongan. </p>
<p>&#8230;and finally we go home, safe and sound. Thanks for Aryo, untuk taftnya, untuk kesediaannya naik bukit demi semangkuk mie, dan untuk snacknya. Meski kamu paling dekil, tapi kamu tetap yang paling dermawan Jo *wink*. Thanks buat Ryan, yang bikin suasana jadi ceria dengan jaket barunya dan aktivitas narsisnya, u look good bro, keep on ur narcissism. Eh, thanks juga buat browniesnya :d. Thanks buat Alex, yang udah mau jadi kuli angkut dan bawa barang paling berat. Aku akui kamu memang paling manol bro, thx for ur guide *wink*. Thanks buat Manus, yang setia mengabadikan momen wiken kita, meski akhirnya potret diri kamu yg paling sedikit :d. Thanks buat Pithes, yang selalu ribet dengan barang bawaannya dan paling rajin bantuin aku bikin mie&#8230;thanks alots guys. U make my day <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

