Category Archives: Kawan

Telat Nikah Itu Aib?

Mukanya kuyu, ada galur² di pipi tembemnya yang terlihat jelas. Sepertinya dia baru menangis. Dia datang di siang yang terik, mengajakku duduk di kafe tak jauh dari tempatnya mengajar. Sambil menyesap es teh, dia berkata, melajang atau ngoyo cari suami?

Mukanya datar dan menunggu jawabanku, tapi aku belum juga berkomentar. Aku masih asyik dengan kue klepon yang alotnya mengalahkan karet ban. Akhirnya kusudahi pertarunganku dengan kue klepon jahanam itu, meneguk es jeruk dan pelan berkata, ikuti saja kata hatimu. Continue reading Telat Nikah Itu Aib?

Cari Suami

Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.

Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke untuk menyandang status sebagai seorang istri dan ibu, tapi apa daya sampai saat ini belum ada pria yang berminat meminangnya. Apa yang salah? Teman saya bukan orang pendiam, dia aktif berorganisasi, ramah dan punya banyak teman, beragam cara cari jodoh dari kopdar ringan macam kenalan di SMS nyasar, sampai di FB juga pernah dicobanya tapi semua berakhir gagal. Continue reading Cari Suami

Omong Kosong

Dulu kita sering jalan bareng
Sekarang aku di sini, kau di sana
dan kita sama-sama sibuk dengan cerita kita

Dulu kita sering beli sepatu bareng
Ukuran, merk dan warna pun sama
Tapi hanya sepatu,
karena ukuran baju kita memang jauh berbeda

Dulu kita sering nyalon bareng
Sama-sama pengen cantik, tapi malah ancur

Dulu kita juga kerja bareng,
Cari ide bareng, koreksi bareng dan saling mencaci

Itu semua dulu…dulu…dan dulu
kau coba menyimpan semua ceritamu, mengingat semua detailnya dan akan membaginya untukku
tapi kau bilang terlalu banyak kisah dan ingatanmu tak sebagus dulu

kita memang mulai menua
kau juga terlalu banyak menghirup uap mesin pencuci piring
atau membeku di dinginnya Bern
dan tak ada waktu untuk mendongeng seperti dulu lagi

Dan aku…
aku jadi menua dan pelupa karena papan kibot
atau terlalu asyik dengan kerumitan hidupku

Kita emang sudah tua
mulai bisa membedakan mana yang omong kosong
dan mana yang patut diobrolin
hanya kau dan aku yang tahu….
dan kita tak perlu lagi bicara seperti dulu…
…dua baris kata di email atau di messenger cukup menguatkan ingatan kita.

aku masih ingat kamu teman 🙂

Dulu..

Tadi siang dapat telp dari teman masa kecil, senang dan sekaligus aneh.

Senang karena hampir 3 tahun kita tidak berjumpa, dan obrolan 20 menit cukup menghangatkan masa lalu kita yang suram. Ya, banyak suka dan duka kita lalui berdua, sampai pada klimaksnya aku dimarahin ayahmu gara-gara kamu jadi ibu dadakan di saat dan waktu yang tak terduga.

Aneh, karena hanya dia satu-satunya teman kecilku yang masih memanggilku ‘mbok’ dari kata Lembok (O dibaca seperti pada kata Ocean), sementara yang lainnya tetap memanggilku Ta, dari nama Rita. Dia tetap memanggilku ‘mbok’, sampai detik kita ngobrol dan saling menanyakan kabar, tak ada yang berubah dengan logat dan intonasi dia mengucapkan kata ‘mbok’, semua tetap sama, hanya suaranya yang terdengar lebih dewasa. Continue reading Dulu..