<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz &#187; Jalan-Jalan</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/category/jalan-jalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description>nice but not too nice, cool but not ignorance</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Apr 2010 15:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebatang Pensil</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 16:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Baca-Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>
		<category><![CDATA[paulo coelho]]></category>
		<category><![CDATA[pensiil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini saya sedang membaca buku Like the Flowing River-nya Paulo Coelho yang saya beli di Periplus saat perjalanan pulang ke Malang. Saya membaca beberapa bab di buku setebal 245 halaman ini dengan gaya suka-suka. Maksudnya dari halaman 1 bisa loncat ke halaman 17, 23, bahkan 147, ya seenaknya saja bacanya. Lebih suka membaca judul yang sekiranya menarik lalu lanjut ke inti ceritanya. Buku ini memang tak seperti buku-buku Coelho yang lain, karena hanya mengisahkan kecil yang menginspirasi Coelho sebelum menulis buku dan setiap babnya mengusuh tema yang berlainan.</p>
<p>Ada satu kisah kecil yang menarik dan jadi bab yang pertama kali saya baca membaca buku ini di bandara sambil menunggu pesawat take-off. Judulnya The Story of The Pencil, dengan pelaku seorang bocah dan neneknya. <span id="more-250"></span></p>
<p>Si bocah sedang melihat neneknya menulis sebuah surat, dan dengan raut muka penasaran si bocah bertanya pada neneknya, apa yang dia tulis. Sambil masih menulis, si nenek menjawab bahwa dia menulis tentang cucunya, tapi yang lebih penting adalah pensil yang sedang dia gunakan untuk menulis, bukan surat yang sedang dia tulis.</p>
<p>&#8220;Mengapa pensil itu begitu penting? Aku lihat sama saja dengan pensil yang lain.&#8221;<br />
Dengan senyum bijak, nenek menjawab: tergantung bagaimana kamu melihat sesuatu? pensil ini seperti halnya hidup kita. </p>
<p>1. Selalu ada tangan yang membimbing pensil (kita) untuk menulis dan berkarya, dan tangan itu adalah tangan Tuhan yang menuntun kita sesuai kehendaknya. </p>
<p>2. Pensil butuh diraut untuk menjadi lebih tajam. Sakit dan menguras tenaga, tapi karya terbaik lahir dari rautan yang tajam.<br />
Seperti halnya kita, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>3. Pensil memberi kebebasan penghapus karet untuk menghapus kesalahan. Begitu juga kita, kita punya hak untuk menghapus kesalahan yang menghalangi jalan kita. Segera setelah kesalahan terhapus kita bisa kembali mengkoreksi dan melanjutkan jalan yang sempat terputus.</p>
<p>4. Bukan kayu pembungkus pensil yang paling utama, tapi granit terbaik yang ada di dalamnya. Pensil dari kayu murahan akan tetap tahan lama dengan granit kualitas terbaik. Seperti halnya kita, yang terpenting adalah apa yang ada dalam diri kita, bukan kain pembungkus raga yang kerap disalah-artikan.</p>
<p>5. Pensil selalu meninggalkan jejak dari apa yang dituliskannya di atas kertas. Sama halnya dengan kita, apa yang kita lakukan selalu meninggalkan jejak, jadi sadarilah dan waspada dengan segala hal pernah/akan kita lakukan.</p>
<p>Filosofi yang cukup menarik, terlebih saat itu saya sedang memegang pensil yang saya ambil dari hotel tempat saya menginap. Pensil dari kayu yang diamplas halus ini terlihat biasa-biasa saja, tapi sejak membaca kisah tadi, pensil ini jadi terlihat mirip saya secara abstrak, tapi secara fisik sangat jauh berbeda, pensilnya langsing sementara saya padat berisi <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Ah..sudahlah, saya capek menulis <del datetime="2010-04-20T16:52:46+00:00">tanpa pensil</del> di Bazzberry, sambil menunggu pesawat yang delay 35 menit. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/sebatang-pensil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerak Telor Bebek</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>
		<category><![CDATA[kerak telor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran JJF 2010 lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  
Salah satunya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musik adalah bahasa universal yang menyatukan individu lintas profesi, generasi dan nasib. Jadi tak heran jika di setiap event musik berskala akbar, beragam kepentingan terkait nasib hidup tumplek blek di satu area. Ya, seperti halnya gelaran <a href="http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/">JJF 2010</a> lalu, banyak pedagang makanan, kaos, tukang parkir, taksi, calo tiket, berebut mencari pelanggan.  </p>
<p>Salah satunya yang mencuri perhatian saya adalah kerak telor. Setiap lewat pedagang kerak telor mata saya selalu tak bisa lepas dari jajanan gepeng yang dibakar di atas tungku ini. Akhirnya di hari terakhir saya menyempatkan diri membeli kerak telor di luar area JExpo Kemayoran. Ada cukup banyak pedagang kerak telor malam itu, dan saya memilih pedagang kerak telor yang berada tak jauh tempat saya berdiri yaitu Pedagang Kerak Telor Kelompok Bapak Omas Depan Lapak Kios C-7 No: 38. </p>
<p>Selintas saya berpikir, panjang sekali nama dagangannya, tak seperti pedagang kaki lima di kota saya yang biasanya hanya menulis 3-4 kata saja untuk melabeli dagangan mereka. Untung antrian kerak telor tak sepanjang tulisan nama dagangan yang terpasang di bagian atas rombong rotan mengingat saya sudah cukup lapar. <span id="more-247"></span></p>
<div id="attachment_248" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/IMG_0485-jjf3.jpg" alt="Kerak Telor Kelompok Bapak Omas" title="IMG_0485-jjf3" width="250" height="194" class="size-full wp-image-248" /><p class="wp-caption-text">Kerak Telor Kelompok Bapak Omas</p></div>
<p>Cukup banyak orang yang mengantri dan saya ada di urutan ketiga untuk segera menikmati jajanan khas Betawi ini. Sambil menunggu saya melihat si penjual yang masih berusia muda terlihat sigap membalikkan wajan agar permukaan kerak telor terpanggang dan matang merata sambil sesekali dikipas-kipas agar bara api tetap menyala. Satu kerak telor ayam berharga 10ribu dan telor bebek lebih mahal dua ribu rupiah dari telor ayam. Saya pun memilih telor bebek karena lebih besar porsinya.</p>
<p>Tak kurang dari 45 menit kerak telor bebek pesanan saya sudah dibungkus rapi dalam kertas minyak dan tas plastik putih. Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan mencicipi jajanan khas Betawi ini. Sayang keraknya kurang kering, dan beras ketan putihnya  masih terasa keras, tapi ebi dan parutan kelapanya terasa cukup gurih. </p>
<p>Apapun rasanya, seporsi kerak telor ini cukup menolong perut yang kosong sejak sore dan setidaknya saya pernah mencicipi masakan khas Betawi selama berkunjung ke Jakarta. Nasib, setiap ke ibu kota tak sekalipun pernah merasakan jajanan khas Jakarta, selalu saja dapat traktiran di resto-resto berbau import. Semoga, saat ke Jakarta lagi bisa makan soto khas Betawi atau jajanan khas lainya. *ngarep traktiran* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/kerak-telor-bebek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Me @ JJF 2010</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 11:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[jjf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jazz? bagaimana cara menikmatinya? bagaimana mencerna apa yang ditangkap telinga dan menjalinnya menjadi sebuah musik yang renyah di hati dan otak. Mengapa jazz hanya terdengar sebagai improvisasi nada-nada tanpa bisa membuat saya menghentakkan kaki atau menggoyangkan tubuh dan membuat libido musik saya meningkat. Saya masih belum bisa menikmati jazz secara utuh karena bagi saya terlalu sulit untuk dicerna. </p>
<p>Tapi semua anggapan itu terhapus saat awal Maret lalu saya terbang ke Jakarta untuk menghadiri perhelatan akbar musik <a href="http://roadmap.kapanlagi.com/2010/03/kapanlagi-com-di-java-jazz-festival-2010/">Java Jazz 2010</a>, atau lebih populer dengan nama JJF 2010, yang tahun ini mengambil tema <strong>Jazzin up Remarkable Indonesia</strong>. <span id="more-237"></span></p>
<p>Biasanya saya hanya tahu <strong>Lee Ritenour</strong> dari mp3 player, sekarang bisa tahu cabikan gitar mas Lee Ritenour saat di atas panggung. Cool, bernyawa lebih dari sekedar petikan dan cabikan gitar gitaris kondang yang saya tahu. Memang saya bukan komentator musik tapi saya sepakat dengan ratusan orang yang sontak melakukan standing applause saat <strong>Lee</strong> menyudahi performance panggungnya. Luar biasa keren!</p>
<div id="attachment_241" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/03/IMG_0459-jj2.jpg" alt="Lee Ritenour" title="IMG_0459-jj2" width="250" height="188" class="size-full wp-image-241" /><p class="wp-caption-text">Lee Ritenour</p></div>
<p>Saya ke sana bukan berniat nonton performa Ritenour atau aksi bintang utama John Legend, Tony Braxton atau Diane Warren, tapi sedang menjalankan tugas kantor untuk promosi salah satu fitur baru ke publik penggila jazz yang hadir di JIExpo, Kemayoran selama tiga hari. Dan, hanya bisa mencuri waktu nonton aksi 1,5 jam Ritenour di hari kedua dan SixPax di hari pertama, sisanya keliling JiExpo yang ga kebayang besarnya. </p>
<p>Tak banyak yang bisa saya bagi di event akbar yang menurut saya lebih layak disebut pameran vendor produk kelas A dengan balutan musik Jazz, dibanding gelaran Jazz itu sendiri, mengingat banyak sekali brand-brand kelas A yang mendirikan booth di acara ini. Besarnya venue, ribuan penikmat musik jazz, hingar bingarnya musik dan padatnya acara cukup membuat kaki dan punggung saya pegal-pegal setelah mondar-mandir mulai jam 2 siang sampai jam 2 dini hari selama tiga hari. </p>
<p>Ya, meski capek, setidaknya tiga hari berbaur dengan publik jazz, pedagang, tukang, kuli, EO, SPG, rekan kerja, dan harmoni jazz memberi pengalaman unik yang belum tentu terulang lagi, dan cukup memberi sedikit kesempatan untuk menikmati jazz dengan suasana yang lain.</p>
<div id="attachment_242" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/03/IMG_0506-jj1-225x300.jpg" alt="Me @ JJF 2010" title="IMG_0506-jj1" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-242" /><p class="wp-caption-text">Me @ JJF 2010</p></div>
<p>Seorang teman sempat berkata, untuk menikmati jazz cuma perlu ketertarikan, didengar, dialami, dihayati dan disimak. Semakin serius kita menyimak semakin tinggi apresiasi kita menikmatinya. Benarkah? Ah, saya masih belum mempercayai teman saya itu, mengingat dari dulu sebelum dan sesudah sambang JJF, selera saya tetap di Level 42 dan Retenour yang notabene bukan pure jazz, tapi kolaborasi pop-rock-jazz-funk yang cukup oke di telinga saya. Untuk menikmati jazz lainnya, sepertinya saya masih butuh waktu lagi&#8230;entah kapan. But after all I still thank to jazz for another great free pleasure.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/03/me-jjf-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uceng, Kuliner Khas Blitar</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 16:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[blitar]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[uceng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya sambangi saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar. 
Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya <em>sambangi</em> saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar. </p>
<p>Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai di berbagai kota. Tapi uceng khas Blitar ini yang mengenalkan ikan kali lebih dari sekedar kudapan bergizi. Kali pertama saya mengenal uceng saat mampir ke warung Anda di daerah Bence, Garum. Warung yang sering saya singgahi saat perjalanan pulang ke Malang ini menyediakan masakan rumahan dengan menu andalan uceng dan udang sungai yang dimakan bersama nasi, sayur atau hanya sebagai cemilan saja. <span id="more-221"></span></p>
<p>Harga per porsinya saat itu sekitar Rp15 ribu, entah jika sekarang mengalami kenaikan. Uceng sering kali disajikan dalam kondisi panas, agar lebih nikmat disantap. Kadang jika ingin dibawa pulang, uceng yang dibungkus mika plastik ini terasa masih hangat bahkan jika membungkusnya tak terlalu rapat, uceng tetap terasa renyah sampai beberapa hari. </p>
<p>Selain di warung Anda, uceng juga menjadi menu utama di warung Sukaria yang terletak di Wlingi. Kabarnya, warung Sukaria ini yang kali pertama menjual uceng di kota Blitar. Jadi tak heran saat saya mampir ke sana, warung Sukaria yang didirikan Haji Sukaria ini lebih dikenal orang dibanding warung uceng lainnya.</p>
<div id="attachment_223" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0672-11-300x225.jpg" alt="lalapan uceng warung Sukaria" title="IMG_0672-1" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-223" /><p class="wp-caption-text">lalapan uceng warung Sukaria</p></div>
<p>Seperti halnya warung Anda, warung uceng Sukaria  juga menyajikan uceng sebagai menu andalan yang dimasak goreng sebagai lalapan atau kuah sebagai sayur. Saya hanya sempat mencoba lalapan uceng, karena saya rasa uceng lebih enak disantap kering. Meski bisa jadi penilaian saya salah, toh banyak juga pelanggan yang membeli sayur uceng.</p>
<p>Bagi beberapa orang uceng warung Sukari berasa lebih gurih, lebih awet meski tidak dihangatkan selama 1 minggu lebih. Tapi beberapa yang lainnya menganggap uceng warung Sukari terasa lebih amis. Entah mana yang lebih dominan, mengingat setiap orang punya selera yang berbeda.</p>
<p>Saya tak ingin membahas selera, saya lebih suka menyoroti uceng, ikan kecil yang dipanen dari kali Lekso yang airnya masih jernih dan mengalir deras dari gunung Kelud. Uceng hanya bisa hidup di air bening tanpa terkontaminasi limbah, karena itu menyantap uceng bagi saya adalah sebuah nilai plus, mengingat saat ini minim sekali kudapan yang masih mengandalkan sumber daya alam yang sehat.</p>
<div id="attachment_224" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0701-2-300x225.jpg" alt="Kesibukan di salah satu sudut warung Sukaria" title="IMG_0701-2" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-224" /><p class="wp-caption-text">Kesibukan di salah satu sudut warung Sukaria</p></div>
<p>Uceng juga termasuk ikan imut, dengan ukuran kira-kira sebesar dr fish, tanpa sisik dan bentuknya bulat memanjang. Cara menangkapnya pun masih tradisional dengan menggunakan bubu yang ditenggelamkan ke sungai dan diambil saat uceng sudah memenuhi isi bubu. Banyak sekali pertanyaan di benak saya, kenapa uceng yang sangat populer di Blitar masih menggunakan cara tradisional, padahal tenaga dan hasil yang didapat juga tidak maksimal. Bisa jadi sudah ada yang pernah memikirkan budidaya uceng tanpa merusak ekosistem sungai dan bisa jadi juga gagal karena harus menggeser SDM yang butuh duit.</p>
<p>Saya belum berpikir ke arah sana, karena saat itu yang ada di benak saya adalah makan uceng dan melihat proses memasak uceng di dapur warung Sukaria yang memang tak memasang sekat antara ruang makan dan tempat mengolahnya. Jadi saya bisa melihat para pegawai menggoreng uceng dan menempatkannya di baskom-baskom ukuran besar, mengepaknya ke dalam plastik dan kardus untuk pemesan yang akan membawanya ke luar kota. </p>
<div id="attachment_225" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_0707-3-300x225.jpg" alt="Warung Sukaria - Wlingi, Blitar" title="IMG_0707-3" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-225" /><p class="wp-caption-text">Warung Sukaria - Wlingi, Blitar</p></div>
<p>Proses pembuatan dan penjualannya memang cukup simple, tapi daya tariknya si kecil uceng ini cukup menarik minat banyak orang entah dari Blitar maupun pengunjung dari kota lain. Ya bagi saya, tak ada yang lebih nikmat jalan-jalan ke Blitar tanpa nyemil uceng dan minum es pleret. Hmmm&#8230;..mendadak saya kangen Blitar. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/01/uceng-kuliner-khas-blitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngadem ke Panderman</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 13:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keringetan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2007/11/09/ngadem-ke-panderman/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu lalu bersama beberapa teman, aku ngadem ke Panderman. Entah kenapa kali ini bapak mengijinkanku hiking ke gunung walaupun lagi musim hujan, entah karena aku yang ahli merayu dan membuat hati bapak luluh, atau karena beliau kasihan dengan diriku. I dunno, yang pasti aku lega dapat restu camping di musim hujan. 
Aku, Manus, Aryo, Alex, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu lalu bersama beberapa teman, aku ngadem ke Panderman. Entah kenapa kali ini bapak mengijinkanku hiking ke gunung walaupun lagi musim hujan, entah karena aku yang ahli merayu dan membuat hati bapak luluh, atau karena beliau kasihan dengan diriku. I dunno, yang pasti aku lega dapat restu <em>camping</em> di musim hujan. </p>
<p>Aku, Manus, <a href="http://www.mahesajenar.com/">Aryo</a>, Alex, <a href="http://tiyangsae.blogspot.com/">Ryan</a>, dan Pithes mengawali perjalanan tepat tengah malam buta, padahal rencana awal kita berangkat jam 10-11an, tapi karena kesibukan masing-masing personil akhirnya kita berangkat lewat  jam 12 malam. </p>
<p>Kondisi jalan yang becek setelah turun hujan membuat jalanan makin licin, terlebih susana gelap gulita menambah seru perjalanan kami. Dan sangking semangatnya mendaki, Aryo sempat jet lag dan meninggalkan &#8216;bekas lalapan&#8217; di awal jalan menuju ke lokasi tujuan. <span id="more-94"></span></p>
<p>Lebih seru lagi, kita mendarat di tengah perkebunan :d. Tak ada yang perlu disesali meski kita salah arah dan tak bisa mencapai camping ground Latar Ombo. Paling tidak kita sudah hampir mendekati camping ground kedua, Watu Gede, dan pastinya lebih jauh beberapa mil dari camping ground pertama. </p>
<p>Tidur dan melepas lelah di tengah lahan yang kecil dan miring ditemani tenda imut bergambar mickey dan donald, sungguh romantis. Bukan sok imut, tapi memang salah bawa tenda <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). </p>
<p>Tak banyak kegiatan yang kita lakukan, kita mulai bikin perapian, memasang tenda, mengatur matras, jepret sana jepret sini, duduk2 ataupun tidur2an di tanah yg lembab dan miring sambil ngobrol, denger kartolo, melihat bintang, masak mie, nyemil brownisnya ambar, ngemil snacknya Aryo, dan akhirnya sebagian dari kita mulai tertidur karena lelah.</p>
<p>Pagi jam 10 kita berkemas dan siap meninggalkan Panderman. Saat perjalanan pulang, kondisi jalan dan fisik kita jauh lebih baik, dan meski kita harus menambah porsi jalan sampai di luar dusun Sanggrahan dan menanti jemputan di dekat Vila, yang jaraknya lumayan jauh, bukan masalah bagi kita, kecuali rasa haus yang mencekik kerongkongan. </p>
<p>&#8230;and finally we go home, safe and sound. Thanks for Aryo, untuk taftnya, untuk kesediaannya naik bukit demi semangkuk mie, dan untuk snacknya. Meski kamu paling dekil, tapi kamu tetap yang paling dermawan Jo *wink*. Thanks buat Ryan, yang bikin suasana jadi ceria dengan jaket barunya dan aktivitas narsisnya, u look good bro, keep on ur narcissism. Eh, thanks juga buat browniesnya :d. Thanks buat Alex, yang udah mau jadi kuli angkut dan bawa barang paling berat. Aku akui kamu memang paling manol bro, thx for ur guide *wink*. Thanks buat Manus, yang setia mengabadikan momen wiken kita, meski akhirnya potret diri kamu yg paling sedikit :d. Thanks buat Pithes, yang selalu ribet dengan barang bawaannya dan paling rajin bantuin aku bikin mie&#8230;thanks alots guys. U make my day <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2007/11/ngadem-ke-panderman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Trip to Yogya  (III)</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-iii/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 02:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2007/07/17/my-trip-to-yogya-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Hari terakhir bangun agak siang (jam 7 bisa dibilang siang ga ya?). Setelah mandi dandan seadanya, meluncur turun untuk breakfast, pergi beli bakpia pathuk di pabrik pembuatannya, dan ke pasar Beringharjo nemenin Koko beli daster buat maminya. Ketemu bentar ma Widi (anak forum KL), balik ke hotel, packing, dan pas jam 11 kita checkout dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari terakhir bangun agak siang (jam 7 bisa dibilang siang ga ya?). Setelah mandi dandan seadanya, meluncur turun untuk breakfast, pergi beli bakpia pathuk di pabrik pembuatannya, dan ke pasar Beringharjo nemenin Koko beli daster buat maminya. Ketemu bentar ma Widi (anak forum KL), balik ke hotel, packing, dan pas jam 11 kita checkout dan menuju ke bandara Adi Sucipto karena pesawat take off jam 12.00. Kali ini kita naik Batavia Air, dan ga ada delay penerbangan, sayang aku duduk satu row dengan seorang bapak2 yang jaketnya lumayan bau, hikss&#8230;bisa dibayangkan selama 40 menit perjalanan aku harus berhemat oksigen dan mencoba tidak pingsan karena bau <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . <span id="more-85"></span></p>
<p>Jam 12.45 kita sampe di Juanda dengan suhu udara mencapai 29 derajad. Uhh&#8230;panas memang, saat keluar dari badan pesawat dan masuk garbarata, udara lumayan sejuk. Call travel dan mengatakan kita udah sampe. Tapi kita ga bisa segera pulang ke Malang karena masih harus menunggu dua orang lagi yang baru datang sekitar jam 14 siang dari penerbangan jurusan Jakarta. Sambil nunggu, makan lagi di salah satu resto di Bandara, and again&#8230;shock dengan rate menu makan yang rasanya minimalis, tapi harganya selangit.  </p>
<p>Pukul 2.15an, pak sopir call me, dan kita siap berangkat. Perjalanan ke Malang ga terlalu macet dengan jarak tempuh sekitar 3 jam, yang kuhabiskan untuk tidur. Sebelum magrib aku sudah sampe di rumah dengan selamat. Capek, tapi juga senang karena bisa melewatkan weekend yang lain dari biasanya. Thanks bos for the trip&#8230;bye Yogya, will be there soon. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My trip to Yogya  (II)</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-ii/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 02:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2007/07/17/my-trip-to-yogya-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Pukul 10.15 kita sampe Bandara Adi Sucipto. Baru kelular dari pintu Exit, kita diserbu sopir2 taksi, tapi demi keamanan finansial, kita memilih taksi bandara dan menuju ke wisma Ananda di jalan Ngadinegaran (wisma yang kita booking sebelumnya). Antara merenung dan mengantuk, aku mencoba menikmati suasana malam di Yogya, meski hanya lewat jendela taksi, tapi Yogya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pukul 10.15 kita sampe Bandara Adi Sucipto. Baru kelular dari pintu Exit, kita diserbu sopir2 taksi, tapi demi keamanan finansial, kita memilih taksi bandara dan menuju ke wisma Ananda di jalan Ngadinegaran (wisma yang kita booking sebelumnya). Antara merenung dan mengantuk, aku mencoba menikmati suasana malam di Yogya, meski hanya lewat jendela taksi, tapi Yogya tetap terlihat cantik dengan jalan2nya yang lebar dan lumayan bersih, meski terbungkus muramnya malam. Tapi badan dan pikiran tetap terfokus pada ranjang yang hangat dan empuk, karena badan dah capek banget. <span id="more-84"></span></p>
<p>Tapi sayang, bayangan akan tidur di ranjang yang nyaman musnah sudah saat kita memasuki wisma tersebut. Kamar kita berdampingan, tepat di depan kolam renang dan tempat parkir sepeda motor. Kamar yang kita dapat pun jauh dari harapan, udaranya sedikit apek, karena mungkin sirkulasi udaranya kurang. Ranjangnya pun tak seempuk yang kubayangkan. Kamar berukuran sekitar 4&#215;3 itu dilengkapi satu lemari, satu TV, AC, dan dua tempat duduk lengkap dengan meja, dan kamar mandi bathup yang udah ga layak pake (tak sebanding dengan rate 200 per malam). Karena udah terlalu malam, dan kondisi badan ga fit (dan juga ilfil liat kamar mandinya), aku memutuskan ga mandi. Hanya membasuh muka dan cuci kaki, dan berharap bisa tidur di kasur keras ini. Sayang aku gagal, dan ga tidur semalaman <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> , pegel tapi juga seneng karena Jefri juga mengalami hal yang sama. Kita berdua ga tidur semalaman :d.</p>
<p>Esoknya., jam 7 pagi kita sudah keluar, memutuskan cari hotel. Niat banget, sampe dibelain jalan kaki dari Ngadinegaran ke Malioboro (lebih dari 10 km), karena kita ga tahu jalan singkatnya, meski udah tanya sana-sini. Seneng meski juga capek, karena setelah perjalanan yang melelahkan dan panasnya udara Yogya, kita akhirnya dapat room di hotel bintang 4, Hotel Mutiara. Hanya satu room, tapi ga masalah, karena double bed, jadi kita sharing room, tapi ga sharing bed.</p>
<p>Karena udah merasa capek, dan dikejar waktu ke acara nikahannya Ruri, pulangnya kita naik becak. Becak di Yogya keren, lebih luas (sampe bisa dipake buat beriklan), murah dan sopirnya ramah2, meski ujung2nya kita selalu dibawa ke toko/gerai yang masuk dalam paguyuban mereka. Duh, gara2 ini naik becak jadi makan waktu 1.5 jam lebih. </p>
<p>Tepat jam 13.00 kita checkout dan meluncur ke pernikahan Rury di daerah UPN (arah menuju ke Sleman). Perjalanan ini juga tak semulus yang kita kira, sopir taksinya juga ga tahu alamat yang dituju, akhirnya kita kesasar, dan sampe tujuan jam 14.30. Ga begitu lama di sana, selain ditunggu taksi dan Rury juga tampak sibuk banget (bisa dimaklumi karena ini hari H-nya). Alhasil dari yang awalnya pengen makan siang di sana akhirnya batal dan kita langsung cabut setelah memberikan upeti dari bos. Ya..tugas utama selesai..now, its time to have fun.</p>
<p>Pulang dari rumah Rury kita mampir ke Rumah Dagadu di jalan Pakuningratan, pusat Dagadu, bukan gerai Dagadu gadungan.  Dari sana langsung meluncur ke Hotel Mutiara, check in, dapat room 315 di lantai tiga, naruh tas dan langsung keluar cari makan, karena perut dan laper banget.</p>
<p>Abis makan di Matahari Mall kita balik ke hotel dengan jalan kaki, karena lokasinya ga begitu jauh. Istirahat bentar dan magrib kita berangkat ke Ambarukmo Mall, nemenin Koko cari Meme2, sayang di sana Meme2nya ga sebanyak di TP Surabaya, dengan kategori display yang juga standar. Tapi ga begitu ngaruh buatku, karena di Ambarukmo masih ada Bread Talk, yang jelas lebih menarik bagiku daripada Meme :d. Jam 20.15an kita kembali hotel, mandi, dan rebahan di hangat dan empuknya kasur hotel..ahh&#8230;lega rasanya setelah seharian capek jalan².</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Trip to Yogya  (I)</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-i/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 02:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.7une.com/2007/07/17/my-trip-to-yogya-i/</guid>
		<description><![CDATA[Ini kali kedua aku datang ke Yogya, bukan sekedar jalan-jalan, tapi untuk menghadiri pernikahan rekan kerja yang belum pernah aku temui. Ya gimana mau ketemu, aku di Malang, dia di Jakarta. Awalnya mau pergi seorang diri, tapi opmanku berkeras harus ada seseorang yang menemaniku. Dan akhirnya aku pergi dengan salah satu teman opisku, lumayan juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini kali kedua aku datang ke Yogya, bukan sekedar jalan-jalan, tapi untuk menghadiri pernikahan rekan kerja yang belum pernah aku temui. Ya gimana mau ketemu, aku di Malang, dia di Jakarta. Awalnya mau pergi seorang diri, tapi opmanku berkeras harus ada seseorang yang menemaniku. Dan akhirnya aku pergi dengan salah satu teman opisku, lumayan juga sih ada teman ngobrol waktu jalanan macet. <span id="more-83"></span></p>
<p>Jumat pagi aku masih ngantor seperti biasanya, dan sekitar jam 13.00 baru pulang, siap2 packing, dan nunggu travel yang rencananya akan jemput jam 14.30. Karena sesuatu hal, travel baru jemput jam 14.30, itupun harus muter2 dulu jemput penumpang lain. Belum cukup dibuat mobil yang jalannya lambat, kita juga dihadang kemacetan gara2 lumpur lapindo. Dan akhirnya kita lewat gang2 tikus yang juga jadi jalan alternatif tembus ke lingkar timur menuju sedati, jalan tembus menuju Juanda. </p>
<p>Makin bete aja, karena udah magrib kita masih aja muter2 di jalan2 tikus, dan perut udah kelaparan banget (belum sempat makan siang), sementara jam 18.30 kita harus boarding. Sibuk menggerutu dan pasang muka masam karena sopir yang terlalu lemot dan kondisi jalan yang tak ramah, akhirnya kita sampai di Juanda pukul 18.25 tepat. Its amazing., ternyata pak sopir punya perhitungan lebih jitu daripada yang selama ini kami bayangkan. Sorry buat pak sopir, karena kita udah berpikir jelek <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Dengan langkah panjang, kita bergegas menuju area penerbangan domestikl, menunjukkan tiket kami dan menuju loket maskapai Lion Air. Untung loket boardingnya masih buka, dan dengan hati lega kita berdiri di antrian penumpang. Sial datang lagi, saat antrian kurang 7 orang, koko baru sadar kalo dompetnya ketinggalan di travel, gara2 saku celananya yang terlalu lebar. Ya..akhirnya kita keluar dari antrian, aku call pak sopirnya (untung beliau masih di loket penerbangan internasional), Koko mengambil kembali dompetnya, dan akhirnya kita kembali ngantri di urutan terakhir dan dapat seat 35 C dan E., seat paling belakang <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Nunggu penerbangan dengan perut lapar, kita berharap bisa segera terbang, membayangkan nasi hangat dan empuknya ranjang hotel. Sial, pesawat delay dan baru fly jam 21.30, sungguh menyebakan, karena kitra harus nunggu 2 jam lebih. Karena udah laper berat, akhirnya kita makan di bandara meski kita sadar harganya sangat tidak manusiawi (bagiku)!!</p>
<p>Dari  beberapa cafe yang kita lewati mulai ujung utara sampe selatan, akhirnya pilihan jatuh ke LA Cafe, yang menurut koko dipilih karena lumayan ramah dari asap rokok (tapi tetap aja bagiku ga ramah di kantong..hiks). Dari semua menu yang ditawarkan kita memilih yang termuarh, dan itupu masih 30 ribu per porsi. Aku makan mie bakso (30 ribu), dan lemon tea panas (18rb), sementara Koko makan soto madura (32 rb) dan capucino (22rb), total plus pajak senilai rp105 rb. (makan siang termahalku).</p>
<p>Usai makan kita mampir ke toko buku di depan cafe, lumayan banyak buku-buku dan majalah impor yang bisa dibaca, tapi ga perlu dibeli, karena aku sadar banget harganya akan membuatku bisa tersenyum :d. Lumayan lama kita di sana, sampai akhirnya capek, beranjak cuci muka, duduk2 bengong, dan akhirnya kita terbang&#8230;.Yogya, I&#8217;m coming.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2007/07/my-trip-to-yogya-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
