<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bazz &#187; Bazzberry</title>
	<atom:link href="http://bazzcethol.com/category/bazzberry/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bazzcethol.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 06:26:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>My Super Samsung Galaxy SII</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/12/my-super-samsung-galaxy-sii/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/12/my-super-samsung-galaxy-sii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 13:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kondisi bazzberry yang tak mampu lagi menampung email yang kian menggemuk, saya memutuskan mempensiunkannya setelah masa bakti 3 tahunan. Kini bazzberry hanya berfungsi sebagai HP biasa dengan BBM yang kadang-kadang aktif, itupun jika lagi mood pengen langganan BIS XL yang lemotnya stabil. 
Peran Bazzberry hanya tergantikan di eksplorasi dunia online saja, sementara komunikasi tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kondisi <a href="http://bazzcethol.com/2011/05/bazzberry-im-getting-older/">bazzberry</a> yang tak mampu lagi menampung email yang kian menggemuk, saya memutuskan mempensiunkannya setelah masa bakti 3 tahunan. Kini bazzberry hanya berfungsi sebagai HP biasa dengan BBM yang kadang-kadang aktif, itupun jika lagi mood pengen langganan BIS XL yang lemotnya stabil. </p>
<p>Peran Bazzberry hanya tergantikan di eksplorasi dunia online saja, sementara komunikasi tetap menggunakan si Bazz. Jadi kini bazzberry resmi ditemani adik tirinya dari species yang jauh berbeda. Dari blackberry kini saya melacur ke Android dengan ditemani <a href="http://www.samsung.com/id/consumer/mobile-devices/smartphone/galaxy/GT-I9100LKAXSE/index.idx?pagetype=prd_detail">Samsung GT I9100 atau Galaxy SII</a>.<span id="more-612"></span></p>
<p>Adik tiri bazz ini dibeli sekitar pertengahan Oktober lalu, dan sampai kini masih belajar mengenalnya. Spesifikasinya terbilang super di kelas hp premium. Layar lebarnya (480 x 800 px) sangat nyaman saat browsing yang memang jadi aktifitas utama saya selain checking mail. </p>
<p>Dengan didukung OS Gingerbread (2.3), processor dual core, RAM 1GB, storage memory dari 16 GB (internal) sampai 32 GB (eksternal) membuat hp ini semakin powerfull. Sangat berasa sekali saat buka browser (multi tab), play video youtube, twitter, youtube, dan ngegame, checking email, download app di Android Market, dan semua aplikasi tersebut masih aktif terbuka. Hanya slide and go saja, dan semuanya berjalan smooth, tanpa khawatir hang. </p>
<p>Bagian paling oke adalah layarnya yang tajam &#038; jernih dengan dukungan 16 juta warna di layar super Amoled plus. Film yang saya coba putar pertama kali adalah CARS 2 (resolusi HD, format mp4), dan terlihat tajam di layar ini, ga kalah dengan kualitas layar LCD. Begitu pun saat ngegame, atau nonton trailer &#038; video klip di Youtube. Semua tampak begitu seksi, meski ga ada cewek berbikini di situ&#8230;hihihi.</p>
<p>The next coolest features adalah camera &#038; video! Dengan didukung dua kamera, 8 MP dengan LED flash di bagian belakang, dan kamera 2 MP di bagian depan, fitur ini terlihat makin seksi. Kamera belakang dilengkapi dengan beragam setting kamera yang ada di kamera saku. Jadi hasil indoor maupun outdoornya selalu oke, asal sesuai dengan seting yang ingin digunakan. </p>
<div id="attachment_613" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2011/12/sample-bazz2.jpg" alt="8 MP, Setting None. Waktu: Subuh" title="sample-bazz2" width="200" height="333" class="size-full wp-image-613" /><p class="wp-caption-text">8 MP, Setting None. Waktu: Subuh</p></div>
<div id="attachment_614" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2011/12/sample-bazz.jpg" alt="2 MP, Setting None. Waktu: Sore" title="sample-bazz" width="200" height="267" class="size-full wp-image-614" /><p class="wp-caption-text">2 MP, Setting None. Waktu: Sore</p></div>
<p>Foto untuk kuliner juga ok, meski cahayanya minimalis. Contoh saat saya makan <a href="http://bazzcethol.com/2011/11/tahu-lontong-blitar/">tahu lontong</a> di kaki lima kota Blitar beberapa waktu lalu. Bergaya di siang hari yang terik dan di bawah sinar matahari, tetap saja ok, karena ada dukungan fitur backlight yang membuat foto tetap cerah tanpa perlu khawatir gelap. Setting backlight saya coba saat di <a href="http://bazzcethol.com/2011/12/drag-race-vespa-jombang/">drag race vespa Jombang</a>.</p>
<p>Video maker juga jadi fitur unggulan yang sering saya gunakan, selain photo editor. Dengan template yang sudah disediakan, tinggal pilih-pilih foto dan lagu sebagai backsound, saya bisa jadi sutradara dari film mini saya *gaya*. </p>
<p>Intinya, tabungan kering terkuras demi Galaxy, ga bikin galau finansial. Karena sampai saat ini, dia bisa menggantikan bazz yang sudah saatnya rehat dari masa baktinya. But, still I have no idea how to call him? Bazzberry sounds good, but what about this galaxy? Do you have any idea?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/12/my-super-samsung-galaxy-sii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Besar Awanmu?</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/07/seberapa-besar-awanmu/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/07/seberapa-besar-awanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 16:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[bapak]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[odong-odong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Siang cukup terik, namun dengan semangat beliau berjalan dengan langkah lebar-lebar. Kedua tangannya saling membenturkan pantat dua bak plastik ukuran sedang yang mengeluarkan bunyi bak buk bak buk yang cukup keras. Sementara kepalanya bertopi sejumlah bak plastik berbagai ukuran yang disusun dari yang terkecil sampai terbesar.
Beliau tak hanya menahan beban hidup dengan berjualan bak dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang cukup terik, namun dengan semangat beliau berjalan dengan langkah lebar-lebar. Kedua tangannya saling membenturkan pantat dua bak plastik ukuran sedang yang mengeluarkan bunyi bak buk bak buk yang cukup keras. Sementara kepalanya bertopi sejumlah bak plastik berbagai ukuran yang disusun dari yang terkecil sampai terbesar.</p>
<p>Beliau tak hanya menahan beban hidup dengan berjualan bak dari kampung ke kampung, tapi juga menahan beban berat setumpuk bak plastik di kepala. <span id="more-443"></span>Suara gaduh dari benturan antar bak itu hanyalah strategi untuk membuat orang tahu jualannya, dan siapa tahu juga berminat membeli, meski ada juga yang pengen nimpuk gara-gara suara berisik. Yah, seperti kakak saya yang sering kali marah-marah karena kaget dengan suara bak yang gaduh. Maklum, dia punya penyakit jantung, jadi sensitif dengan sesuatu yg bisa membuat jantungnya copot.</p>
<p>Melihat penjual bak keliling yang suaranya gaduh ini mengingatkan saya dengan iklan rokok yang beberapa waktu lalu sempat riwa-riwi di tv. Iklannya tentang seorang eksekutif muda yang berpayung awan kecil di atas kepalanya, sementara orang-orang lain yang berjalan di sekitarnya berpayung awan dengan berbagai ukuran. Semakin besar bayangan awannya, semakin suram dan bete wajahnya. Semakin kecil awannya, semakin banyak senyum di wajahnya. </p>
<div id="attachment_444" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2011/07/CIMG0093-bazz.jpg" alt="bapak penjual bak plastik - bazzberry" title="CIMG0093-bazz" width="300" height="335" class="size-full wp-image-444" /><p class="wp-caption-text">bapak penjual bak plastik - bazzberry</p></div>
<p>Awan di atas kepala setiap orang di iklan ini mungkin hanya gambaran dari beban yang kita bawa setiap hari, besar kecilnya tentulah berbeda. Tapi awan bagi si penjual bak plastik itu nyata adanya, beban itu ada di kepala dalam bentuk bak plastik besar yang jumlahnya lebih dari satu. Tapi beban itu juga di dalam kepala, beban memikirkan berapa banyak bak yang bisa dijual, dan berapa duit yang harus dibawa pulang untuk istri di rumah. </p>
<p>Ini hanya sekilas kisah bapak penjual bak yang rutin lewat di depan rumah dengan setumpuk bak di kepalanya. Beliau tetap setia membawa ke manapun &#8216;awan-awannya&#8217;. Nah, bagaimana denganmu, seberapa besar awan yang kamu bawa? Kalau awan saya sih relatif, tapi lebih banyak dalam skala besar, sebesar parabola tetangga depan rumah <img src='http://bazzcethol.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). How about you?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/07/seberapa-besar-awanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bazzberry: I&#8217;m Getting Older</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/05/bazzberry-im-getting-older/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/05/bazzberry-im-getting-older/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 15:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini bazzberry sudah berusia hampir 3 tahun sejak pertama kali saya adopsi dari toko tetangga. Bicara tentang bazzberry, saya boleh berbangga hati karena saya adalah pemilik handphone tipe blackberry pertama kalinya di kantor saya setelah sang CEO. Tapi itu dulu, kini bazzberry jauh tertinggal dari handset blackberry teman sekantor. 
Bazzberry terlahir dari keluarga Bold, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini bazzberry sudah berusia hampir 3 tahun sejak <a href="http://bazzcethol.com/2009/02/tips-blackberry-ala-bazzberry/">pertama kali saya adopsi</a> dari toko tetangga. Bicara tentang bazzberry, saya boleh berbangga hati karena saya adalah pemilik handphone tipe blackberry pertama kalinya di kantor saya setelah sang CEO. Tapi itu dulu, kini bazzberry jauh tertinggal dari handset blackberry teman sekantor. </p>
<p>Bazzberry terlahir dari keluarga Bold, dengan tipe 9000 yang kala itu pamornya melebihi handphone manapun sebelum akhirnya popularitasnya tenggelam oleh saudara-saudaranya yang lain. <span id="more-410"></span></p>
<p>Meski terbilang jadul dan kalah dari Blackberry yang lain dari sisi Application Memorry, saya tetap menyukai bazzberry dengan segala keterbatannya. Bazzberry tetap tampil elegan di masa tuanya, dengan trackball dan bezel hitamnya, Bazzberry tetap Blackberry yang paling anggun sekaligus gagah dari sisi penampilan. Maklum resolusinya saja lebih besar (dimensi 480 x 360, fisik 114 mm x 66 mm x 15 mm dan berat 136 g), dibanding saudara mudanya Onyx2.  </p>
<p>Yang membuat bazzberry tampak tua hanyalah kapasitas application memorynya yang terbatas di 128MB dan hanya tersisa sekitar 20MB setelah digunakan core app dan app urgent lain. Dengan OS masih di level 5.0.0.1.0.3.6 dan sampai saat ini belum ada OS terbaru, bazzberry tetap mampu bertahan, asal rajin bersih-bersih email, cache, history, log dan tetap beretika saat download app. </p>
<p>Dengan masa tuanya yang tak lagi keemasan, bazzberry tetap bertahan, tetap bandel meskipun sering kali di-reload, download-upgrade OS, download dan uninstall app ini dan itu. Bazzberry tetap memahami saya, dan yang paling membuat saya terharu, Bazzberry tetap bertahan dengan battery yang jadi nyawanya. </p>
<p>Karena itu, saya belum berniat mengganti Bazzberry, selain kondisi kantong masih fakir, kebutuhan akan gadget baru belum terasa perlu untuk saat ini. Yah jika ada tuntutan untuk testing produk baru kantor, saya lebih memilih meminjam properti kantor dan jika tidak ada properti yang tersedia, yah terpaksa abstain saja..hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/05/bazzberry-im-getting-older/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Naik Becak</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2011/05/naik-becak/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2011/05/naik-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 16:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[becak]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Moerdani, usianya di atas 65 tahun, memiliki 4 anak yang semuanya sudah menikah. Tinggal di Muharto, Malang, meski aslinya adalah orang Tulungagung. Tapi sudah merasa jadi orang Malang karena tinggal di Malang selama lebih dari 20 tahun lebih. 
Mengayuh becak adalah profesi yang dijalananinya selama 10 tahun terakhir, sejak tahun 2000 yang kala itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya <strong>Moerdani</strong>, usianya di atas 65 tahun, memiliki 4 anak yang semuanya sudah menikah. Tinggal di Muharto, Malang, meski aslinya adalah orang Tulungagung. Tapi sudah merasa jadi orang Malang karena tinggal di Malang selama lebih dari 20 tahun lebih. </p>
<p>Mengayuh becak adalah profesi yang dijalananinya selama 10 tahun terakhir, sejak tahun 2000 yang kala itu masih menarik becak milik juragannya. Tapi pertengahan tahun 2005, Pak Moerdani sudah bisa memiliki becak sendiri dengan jalan mengangsur selama setahun.  <span id="more-392"></span></p>
<p>Sebelum memilih profesi akhir sebagai tukang becak, Pak Moerdani sempat menjadi kuli bangunan, kuli angkut dan melakukan beberapa pekerjaan kasar yang menggunakan tenaga, karena beliau tak memiliki bekal sekolah untuk dapat pekerjaan yang layak. Beliau hanya merasa beruntung karena ke-4 anaknya berprofesi lebih baik darinya, meski tidak ada yang bisa dibilang cukup kaya untuk membantu keseharian hidup Pak Moerdani, karena mereka sudah sibuk dengan keluarganya. </p>
<div id="attachment_393" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2011/05/IMG00007-20110417-1448.jpg" alt="Pak Moer dan becaknya (by: bazzberry)" title="IMG00007-20110417-1448" width="300" height="225" class="size-full wp-image-393" /><p class="wp-caption-text">Pak Moer dan becaknya (by: bazzberry)</p></div>
<p>Lalu, apa hubungannya Pak Moerdani dan saya? Tidak ada, yang saya ceritakan di atas hanyalah obrolan saya dengan tukang becak yang mangkal di perempatan pasar Klojen dan kebetulan jasanya saya sewa untuk mengantar saya pulang seminggu yang lalu. Ini juga ceritanya terpaksa, karena saya bawa barang berat dan motor tukang ojek saya ngadat, mau naek mikrolet juga malas berdesakan dengan barang bawaan cukup berat. Naik taksi terlalu mahal, jadilah saya menyewa becak. Dan yang menakjubkan, dari Klojen ke rumah saya di Perumnas Sawojajar, beliau hanya menarik tarif Rp10 ribu, sementara jarak yang ditempuh lebih dari 2km. </p>
<p>Baginya duit Rp10 ribu sudah lebih baik dibanding tidak narik sama sekali, karena sekarang <em>mbecak</em> itu tidak seramai 7 tahun lalu, saat ini orang-orang sudah punya sepeda motor atau lebih memilih naik mikrolet. Becak hanya jadi idola para sesepuh yang menikmati waktu dan memilih transportasi yang santai dan kalem, tidak seperti orang muda (pekerja), yang sering kali dikejar waktu dan naik becak bagi mereka terlalu lama dan tidak efisien (ya, contohnya seperti saya ini :d). </p>
<p>Di sela-sela aktivitas dan kehidupan jalanan yang serba cepat, Pak Moer tetap sabar dan kalem mengayuh becaknya dan bercerita kehidupan masa lalunya. Saya pun sempat sliyer-sliyer mendengarkan dongengnya sambil merasakan semilir angin. Saya juga baru sadar, ini pertama kalinya saya naik becak lagi sejak terakhir mengantarkan bapak berobat ke RS dan itu sudah 9 tahun lalu! Duh, naek becak memang romantis klasik dan asyik *halah*.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2011/05/naik-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya&#8230;.</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 07:52:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[akta]]></category>
		<category><![CDATA[mangga]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[notaris]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;&#8230;lamaran saya pada 26 Juni lalu berakhir dalam proses akad yang berlangsung tak kurang dari 2 jam.  Bukan sebuah pesta perayaan cinta sepasang kekasih, tapi ikatan hati dan materi antara saya dan mimpi saya, yaitu sebuah rumah tinggal setelah sekian lama menjadi kontraktor. 
Senang, lega dan bangga melebur jadi satu saat saya bisa teken [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;&#8230;lamaran saya pada 26 Juni lalu berakhir dalam proses akad yang berlangsung tak kurang dari 2 jam.  Bukan sebuah pesta perayaan cinta sepasang kekasih, tapi ikatan hati dan materi antara saya dan <a href="http://bazzcethol.com/2009/07/aku-dan-mimpi-sederhanaku/">mimpi saya</a>, yaitu sebuah rumah tinggal setelah sekian lama menjadi kontraktor. </p>
<p>Senang, lega dan bangga melebur jadi satu saat saya bisa teken akta jual beli di hadapan notaris pada Rabu (20-10-2010), sekitar jam 10:15 WIB. Bukan kesengajaan memilih tanggal cantik yang dipilih sebagian orang untuk menikah, tapi hanya sebuah kebetulan karena pemilik rumah baru bisa datang untuk menyelesaikan transaksi jual beli setelah pending selama 5 bulan lamanya dan baru bisa bertemu muka di minggu ketiga Oktober. <span id="more-285"></span></p>
<p>Tidak hanya rumah yang saya dapat, tapi juga pertemanan antara saya dan pemilik rumah lama. Kita menghabiskan waktu sekitar 3 jam di hari pertama berjumpa, tanpa banyak basa-basi, hanya menyelesaikan berkas dan kembali melanjutkan obrolan detail sekitar 2 jam keesokan harinya, sebelum kembali ke Bandung. Saya menyukai mereka sejak pertama kali bertemu. Nice seller, nice couple, and nice house.</p>
<div id="attachment_286" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/11/IMG00146-20100718-1004-22.jpg" alt="Home - season #222" title="IMG00146-20100718-1004-22" width="300" height="225" class="size-full wp-image-286" /><p class="wp-caption-text">Home - season #222</p></div>
<p>Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 222meter ini, bukanlah rumah gedong beratap pilar. Tapi sebuah rumah kecil dengan pohon mangga berbentuk ketapel raksasa yang memberi kesejukan plus bonus daun² yang rajin berjatuhan. Rumah ini bukan hanya tempat numpang tidur, tapi sebuah realitas mimpi untuk membangun mimpi baru lagi dan tentunya juga pemicu semangat agar makin giat bekerja untuk bayar angsuran selama beberapa tahun ke depan. After all, I make it happen :d.</p>
<p>By Bazzberry<br />
Ruko Soekat &#8211; 20102010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/10/akhirnya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah vs Jodoh</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/09/rumah-vs-jodoh/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/09/rumah-vs-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 09:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang bilang membeli rumah sama dengan cari jodoh, mulai dari proses hunting, pdkt, negosiasi, sampai proses akad, secara garis besar sama, sama-sama harus melibatkan hati, meski membeli rumah hanya melibatkan hati di satu pihak, beda dengan jodoh yang butuh sinkronisasi dua hati. 
Awalnya saya sepakat dengan ungkapan tersebut, tapi setelah beberapa waktu berjalan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang bilang membeli rumah sama dengan cari jodoh, mulai dari proses hunting, pdkt, negosiasi, sampai proses akad, secara garis besar sama, sama-sama harus melibatkan hati, meski membeli rumah hanya melibatkan hati di satu pihak, beda dengan jodoh yang butuh sinkronisasi dua hati. </p>
<p>Awalnya saya sepakat dengan ungkapan tersebut, tapi setelah beberapa waktu berjalan dan sampai di tahap keruwetan mengurus tetek bengek rumah saya menyimpulkan jika mengurus rumah beda dengan mencari jodoh. Tentu saya punya alasan untuk argumentasi ini. <span id="more-272"></span></p>
<p>- beli rumah butuh duit banyak, kalau perlu rela utang melebihi anggaran yang ditetapkan. Nah, cari jodoh ga, karena hanya butuh hati, dan ongkos pacaran ditanggung berdua. Rasanya nikmat tanpa harus bikin kening berkerut. </p>
<p>- beli rumah butuh negosiasi dengan birokrasi yang ruwet. Dari yang kelas teri sampai yang baju rapi dan hobi senyum palsu bertopeng duit. Sementara cari jodoh hanya butuh negosiasi hati, dan birokrasi yang lebih nyaman. Ya paling-paling sebatas camer, ipar dan sekian banyak saudara yang harus mulai dihapal namanya. </p>
<p>- beli rumah butuh memantapkan hati lebih dari jodoh. Bagi saya beli rumah sama dengan memangkas kekayaan instan bulanan, tapi di satu sisi memperkaya saya untuk jangka waktu yang panjang. Nah, jodoh justru memperkaya hati saya setiap hari. </p>
<p>- beli rumah bukan sekedar urusan hati, tapi juga logika dan materi. Dari mikir budget, kondisi fisik bangunan, lingkungan, renovasi, dan finansial beberapa puluh tahun ke depan. Sementara jodoh, lebih banyak main hati, urusan fisik, bobot, bebet, peduli apa kata orang, Gombloh pun bilang tai kucing rasa coklat!</p>
<p>- beli rumah, beli masa depan. Toh, 5-10 tahun atau bertahun-tahun nanti harganya pasti melonjak, dan harus pintar-pintar mengatur kondisi dan juga pilih-pilih lokasi. So, kalau kondisi finansinal kepepet, rumah bisa dijual. Jodoh? mana mungkin saya jual suami saya untuk 15 tahun ke depan? :d. </p>
<p>Jadi bagi saya beli rumah dan jodoh ga bisa disamakan secara utuh, karena perbedaan fisik dan juga tujuan. Tapi apa daya, saya harus tetap mantuk-mantuk dan senyum manis jika bapak-ibu, kerabat tua, tetangga, sampai bapak-bapak yang sudah berbaik hati membantu saya mengurus rumah, tak ada hentinya memberi petuah, beli rumah sama dengan cari jodoh, jadi harus hati-hati, telaten dan jangan grusa-grusu. Saya sepakat dengan tiga hal ini saja, yang lainnya tidak. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/09/rumah-vs-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cari Suami</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/09/cari-suami/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/09/cari-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 15:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.
Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.</p>
<p>Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke untuk menyandang status sebagai seorang istri dan ibu, tapi apa daya sampai saat ini belum ada pria yang berminat meminangnya. Apa yang salah? Teman saya bukan orang pendiam, dia aktif berorganisasi, ramah dan punya banyak teman, beragam cara cari jodoh dari kopdar ringan macam kenalan di SMS nyasar, sampai di FB juga pernah dicobanya tapi semua berakhir gagal. <span id="more-270"></span> </p>
<p>Dalam curhatnya dia sempat bertanya, berapa banyak pria yang memandang fisik. Saya bilang 9 dari 10 pria, dan 1 pria itu sudah terlanjur jadi pacar saya, jadi sudah ga ada sisa lagi pria yang ga memandang fisik untuk sebuah ikatan hati. Tentu saya ga serius, saya hanya ingin mengajaknya bercanda dan akhirnya kita bisa tertawa bareng. Ya, berapa banyak pria yang ga memandang fisik? </p>
<p>Gara-gara jodoh yang macet, Lebaran bukan hal teramat indah bagi teman saya, silahturahmi dengan kerabat tua selalu saja jadi musibah. Ungkapan kapan nikah? jangan pilih-pilih, ingat usia, dan beragam tanya lain yang semuanya berarti sama seperti sebuah bom waktu rutin bagi teman saya, dan itu membuatnya sebal. </p>
<p>Sedih? Dia bilang ga, hanya bosan dan merasa jodoh bukan lagi urusan hati tapi kejar target dan lari dari pertanyaan klise kaum tetua. Jika boleh jujur, baginya lebih mudah hidup di jaman Siti Nurbaya, saat stok jodoh sudah dipaketkan untuk setiap gadis di kala muda, dan urusan trisno bisa tumbuh dan berjalan seiring dengan waktu tanpa harus banyak berpikir kerumitan mencari jodoh. </p>
<p>Ah, kala itu saya hanya ingin menjadi pria, melamarnya dan segera menyudahi kegalaunannya. Tapi itu hanya ilusi dan saat saya sadar, teman saya tetap saja menjomblo dan dengan galau bertanya: sampai kapan saya begini ya Rit? Jawab saya, nikmati saja masa lajangmu, sampai masanya tiba. Ya, terus terang saya juga bingung dan ga bisa berjanji mencarikannya pria. *wew* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/09/cari-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung Pangkal Selamat</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 14:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/</guid>
		<description><![CDATA[Saya memang terlahir dengan bakat rajin menabung, sekecil berapun nilainya pasti akan saya tabung tanpa ada tujuan pasti. Kebiasaan ini berlangsung sampai saat ini dan dengan pedenya saya selalu merasa kaya dengan menabung. Tapi keyakinan itu mulai meluntur dengan turunnya nilai uang dibarengi melonjaknya harga barang dan ga sepadan dengan nilai uang yang saya tabung.
Dulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memang terlahir dengan bakat rajin menabung, sekecil berapun nilainya pasti akan saya tabung tanpa ada tujuan pasti. Kebiasaan ini berlangsung sampai saat ini dan dengan pedenya saya selalu merasa kaya dengan menabung. Tapi keyakinan itu mulai meluntur dengan turunnya nilai uang dibarengi melonjaknya harga barang dan ga sepadan dengan nilai uang yang saya tabung.</p>
<p>Dulu saat masih SD saya selalu menyisihkan Rp5-25rp dari uang saku saya, dan berangkat ke Toko Buku Lengkap jika duitnya cukup untuk membeli buku incaran saya. Saat ini kebiasaan menyimpan receh tetap saja jalani, semua koin yang nyangkut di saku baju selalu berakhir di celengan kaleng susu bekas atau kalau ga berakhir di kantong tukang parkir. <span id="more-266"></span></p>
<p>Selain tabungan receh yang berguna buat kerokan, saya juga berinisiatif menabung sekian kecil persen dari hasil keringat saya di bank, tapi bukan untung yang saya dapat, tapi buntung karena saldo yang ga beranjak naik, justru tergencet potongan admin bank yang juga menelan habis bunga bulanan yang sejatinya jadi hak saya. </p>
<p>Berpikir dengan kondisi yang ada, keyakinan masa kecil saya bahwa menabung pangkal kaya rasanya sudah tak tepat lagi diterapkan. Dengan penghasilan yang dipangkas sana sini untuk melunasi tagihan dan mengerem nafsu konsumtif, di akhir bulan masih tersisa beberapa lembar rupiah dan jika ditabung pun belum tentu membuat saya kaya dalam waktu dekat. </p>
<p>Jadi wajar jika saya berujar menabung tak lagi pangkal kaya, karena saya menabung bukan lagi berniat kaya, tapi lebih sebagai simpanan keselamatan jika sewaktu-waktu saya butuh dana dan tak ada teman yang berbaik hati memberi duit cuma-cuma, jadi saya bisa menyelamatkan diri sendiri dan tak perlu lagi pusing berpikir hutang. </p>
<p>Beda dengan mereka yang menabung dengan digit yang nolnya tak terbatas, mungkin ungkapan menabung pangkal kaya masih sangat masuk akal untuk diterapkan. Dan kapankah saldo rekening saya tertera nol-nol tak terbatas itu?  *daydreaming*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/09/menabung-pangkal-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumpul atau Pembaca Buku?</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/08/pengumpul-atau-pembaca-buku/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/08/pengumpul-atau-pembaca-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 08:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Baca-Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Pascabajir lokal di kamar saya pada 21 Agustus lalu, ada satu pertanyaan dari ibu yang kala itu membantu saya membersihkan kamar. Kamu ini suka baca buku atau pengumpul buku? Nah, saya langsung bilang &#8217;suka membaca lah&#8217;, sambil memilah-milah buku basah dan buku kering. 
Setelah aktifitas mengeringkan kamar selesai, saya jadi berpikir ulang, apa benar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pascabajir lokal di kamar saya pada 21 Agustus lalu, ada satu pertanyaan dari ibu yang kala itu membantu saya membersihkan kamar. Kamu ini suka baca buku atau pengumpul buku? Nah, saya langsung bilang &#8217;suka membaca lah&#8217;, sambil memilah-milah buku basah dan buku kering. </p>
<p>Setelah aktifitas mengeringkan kamar selesai, saya jadi berpikir ulang, apa benar saya suka membaca? Jika ditilik dari tumpukan buku yang saya miliki berapa banyak yang sudah saya baca? Sepertinya masih 30%nya saja dan aktifitas membaca lebih sering saya lakukan saat weekend atau setiap hari menjelang tidur sebelum akhirnya terlelap dimakan bantal. <span id="more-267"></span></p>
<p>Melihat ke belakang, tumpukan buku yang ada di lantai, terbungkus kardus di bawah ranjang, terbungkus tas plastik, tas kain, dan terpajang rapi di rak, semua saya beli karena saya suka dan kerap kali karena bursa buku murah dan mendadak jadi hilang akal saat melihat angka-angka berembel-embel persen yang digantung di rak-rak toko buku atau pameran buku. </p>
<div id="attachment_268" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/09/CIMG0028.jpg" alt="menjemur buku" title="CIMG0028" width="300" height="225" class="size-full wp-image-268" /><p class="wp-caption-text">menjemur buku</p></div>
<p>Sering kali saya harus merelakan sekian persen dari uang gajian saya untuk membeli setumpuk buku yang belum tentu akan saya baca dalam waktu dekat. Pun saat jalan-jalan ke toko buku loak, saya rela bersitegang dan menawar harga termurah demi buku yang saya idamkan, meski akhirnya saya kalah dan menyerah dengan harga buku bekas yang kadang harganya tak masuk akal. </p>
<p>Saya sangat menyukai buku dengan kategori sesuai minat saya, dari novel fiksi ilmiah, detektif, history, nature, edukasi, serial jadul enyd blyton, komik bebek, sampai Tintin + Asterix terbitan Indira semua masuk dalam harta yang akan saya jaga dari musibah banjir, lecek bahkan bencana robek. Saya antibuku lecek apalagi meminjamkannya pada mereka yang tak menghargai buku.  </p>
<p>Buku adalah passion saya dari sebuah mimpi kecil memiliki perpustakaan nyaman dengan lantai kayu berkarpet tebal dengan bantal-bantal besar atau hanya sekedar duduk di bangku panjang menempel jendela, membaca buku dan menikmati se-mug coklat panas. Duh, hidup begitu indah dan saya jadi lupa hutang :d. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/08/pengumpul-atau-pembaca-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan si Odong-Odong</title>
		<link>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/</link>
		<comments>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bazz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bazzberry]]></category>
		<category><![CDATA[MyDay]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[odong-odong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bazzcethol.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.
Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tawa kegirangan, teriakan bocah, musik anak-anak, terdengar hiruk pikuk di telinga dan memaksa saya melangkah ke depan rumah untuk melihat asal keramaian instan tersebut. Ternyata keponakan saya yang baru berusia 17 bulan sedang naik odong-odong yang diparkir di teras rumah.</p>
<p>Dengan wajah riang, senyum lebar, liur menetes, dan kadang juga ekspresi ketakutan saat kakinya lepas dari pijakan, ponakan saya tampak begitu menikmati odong-odong sementara tukang odong-odong terlihat cukup lelah sambil sesekali menyeka peluh di dahi.</p>
<p>Sambil melihat tingkah ponakan yang kegirangan dan berayun naik turun di salah satu mainan odong-odong berbentuk bebek, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang odong-odong yang tengah mengayuh sambil mengipas-ngipas badan dengan topinya. <span id="more-245"></span></p>
<p>Pak odong, begitulah pria ini biasa disapa, bukan karena namanya odong, tapi karena dia tukang odong-odong, jadi ibu-ibu di kompleks perumahan kerap menyapa dengan nama Pak Odong, meski nama sebenarnya adalah Pak Kustadi.</p>
<div id="attachment_252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0157-od0.jpg" alt="Odong-Odong" title="CIMG0157-od0" width="300" height="225" class="size-full wp-image-252" /><p class="wp-caption-text">Odong-Odong</p></div>
<p>Perawakannya kurus, tidak juga tinggi, berkulit hitam dan senyumnya ramah. Sambil tetap mengayuh, Pak Kus berkisah tentang pengalamannya menjadi tukang odong-odong yang baru dijalaninya 8 bulan ini. Memilih menjadi pengayuh odong-odong adalah pilihan terbaik dibanding harus jadi kuli bangunan yang pernah dijalaninya 2 tahun lalu. Sebelumnya, Pak Kus juga sempat berjualan minyak tanah menggunakan becak sampai terpaksa harus berhenti jualan minah karena harga minah yang makin mencekik dan tergantikan dengan popularitas kompor gas.</p>
<p>Bagi Pak Kus, menjadi tukang odong-odong cukup menjanjikan, apalagi jika dia bisa memiliki odong-odong sendiri. Saat ini, Pak Kus masih menjalankan odong-odong milik orang lain dan harus setor Rp20ribu setiap harinya. Artinya Pak Kus harus bisa menjual minimal 20 lagu untuk menutup setoran, dengan hitungan satu lagu seharga Rp500. Lagu digunakan sebagai patokan untuk menyewa naik odong-odong, jadi rata-rata lama sewanya ya tergantung dari lamanya lagu diputar, bisa sekitar 2-3 menit. </p>
<p>Pak Kus mulai menarik odong-odong mulai jam 8 pagi sampai menjelang magrib, dan biasanya mendapat hasil yang cukup maksimal saat hari terang, tidak hujan, hari minggu, dan liburan sekolah. Pendapatan bersih per harinya cukup lumayan, sekitar Rp30 &#8211; Rp40 ribu dan kadang-kadang bisa sampai Rp80 ribu jika ada panggilan ulang tahun, dengan biaya sewa panggilan ultah sekitar Rp50 ribu, dan tidak ada patokan berapa banyak anak yang akan naik dan berapa banyak lagu diputar. Bisa dibayangkan jika di pesta ultah ada 100 bocah, dan semua berebut naik odong-odong, wew&#8230;bisa merana tuh kaki Pak Kus. </p>
<p>Tapi nyatanya tidak, karena Pak Kus pernah mengalami hal itu dan dia tetap mengayuh dan melayani bocah yang berebut naik odong-odong tanpa istirahat sampai pesta selesai. Belum lagi jika ada bocah yang beratnya mencapai 25kg, dan jika keempat tunggangan diisi full bocah dengan berat yang sama, bisa dibayangkan tenaga yang harus dikeluarkan&#8230;dan hanya dibayar 50ribu! *sigh* </p>
<div id="attachment_256" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img src="http://bazzcethol.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0175-01.jpg" alt="Dinamo, nyawa kedua si odong-odong" title="CIMG0175-01" width="300" height="225" class="size-full wp-image-256" /><p class="wp-caption-text">Dinamo, nyawa kedua si odong-odong</p></div>
<p>Odong-odong yang merupakah hasil modifikasi dari becak ini memanfaatkan dinamo sebagai tenaga penggerak, yang digerakkan dengan mengayuh becak. Otomatis semakin banyak bocah yang naik, Pak Kus harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengayuh pedal. Namun menurut Pak Kus, mengayuh odong-odong dengan bocah di atasnya terasa lebih ringan dibanding mengayuh odong-odong tanpa penumpang, karena saat tidak ada penumpang, dia harus membawa beban utuh dari odong-odong, tanpa laher yang bisa membantu mendorong saat dikayuh.</p>
<p>Dengan total penghasilan rata-rata 800-900ribu per bulan selama full 7 hari kerja, Pak Kus bisa menghidupi keluarganya, sekolah dua anaknya dan membayar cicilan sepeda motor. Dan jika ada uang lebih, Pak Kus berharap bisa membeli odong-odong seharga 2,5 juta untuk menghidupi keluarganya dan siapa tahu kelak bisa menjadi juragan odong-odong. </p>
<p>Impian sederhana, namun sangat diharapkan Pak Kus di setiap kayuhnya mengiringi tawa bocah-bocah yang tertawa girang, beranjut-anjutan naik turun di atas tunggangan dan di tengah hiruk pikuknya lagu-lagu anak-anak yang distel dengan sound system kelas amatiran. Bagi Pak Kus, tawa riang bocah-bocah adalah harapan utamanya meraih hidup yang lebih baik, meski hanya menjadi tukang odong-odong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bazzcethol.com/2010/04/harapan-si-odong-odong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

