Category Archives: Bazzberry

My Super Samsung Galaxy SII

Sejak kondisi bazzberry yang tak mampu lagi menampung email yang kian menggemuk, saya memutuskan mempensiunkannya setelah masa bakti 3 tahunan. Kini bazzberry hanya berfungsi sebagai HP biasa dengan BBM yang kadang-kadang aktif, itupun jika lagi mood pengen langganan BIS XL yang lemotnya stabil.

Peran Bazzberry hanya tergantikan di eksplorasi dunia online saja, sementara komunikasi tetap menggunakan si Bazz. Jadi kini bazzberry resmi ditemani adik tirinya dari species yang jauh berbeda. Dari blackberry kini saya melacur ke Android dengan ditemani Samsung GT I9100 atau Galaxy SII. Continue reading My Super Samsung Galaxy SII

Bazzberry: I’m Getting Older

Tahun ini bazzberry sudah berusia hampir 3 tahun sejak pertama kali saya adopsi dari toko tetangga. Bicara tentang bazzberry, saya boleh berbangga hati karena saya adalah pemilik handphone tipe blackberry pertama kalinya di kantor saya setelah sang CEO. Tapi itu dulu, kini bazzberry jauh tertinggal dari handset blackberry teman sekantor.

Bazzberry terlahir dari keluarga Bold, dengan tipe 9000 yang kala itu pamornya melebihi handphone manapun sebelum akhirnya popularitasnya tenggelam oleh saudara-saudaranya yang lain. Continue reading Bazzberry: I’m Getting Older

Akhirnya….

……lamaran saya pada 26 Juni lalu berakhir dalam proses akad yang berlangsung tak kurang dari 2 jam. Bukan sebuah pesta perayaan cinta sepasang kekasih, tapi ikatan hati dan materi antara saya dan mimpi saya, yaitu sebuah rumah tinggal setelah sekian lama menjadi kontraktor.

Senang, lega dan bangga melebur jadi satu saat saya bisa teken akta jual beli di hadapan notaris pada Rabu (20-10-2010), sekitar jam 10:15 WIB. Bukan kesengajaan memilih tanggal cantik yang dipilih sebagian orang untuk menikah, tapi hanya sebuah kebetulan karena pemilik rumah baru bisa datang untuk menyelesaikan transaksi jual beli setelah pending selama 5 bulan lamanya dan baru bisa bertemu muka di minggu ketiga Oktober. Continue reading Akhirnya….

Rumah vs Jodoh

Ada yang bilang membeli rumah sama dengan cari jodoh, mulai dari proses hunting, pdkt, negosiasi, sampai proses akad, secara garis besar sama, sama-sama harus melibatkan hati, meski membeli rumah hanya melibatkan hati di satu pihak, beda dengan jodoh yang butuh sinkronisasi dua hati.

Awalnya saya sepakat dengan ungkapan tersebut, tapi setelah beberapa waktu berjalan dan sampai di tahap keruwetan mengurus tetek bengek rumah saya menyimpulkan jika mengurus rumah beda dengan mencari jodoh. Tentu saya punya alasan untuk argumentasi ini. Continue reading Rumah vs Jodoh

Cari Suami

Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.

Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke untuk menyandang status sebagai seorang istri dan ibu, tapi apa daya sampai saat ini belum ada pria yang berminat meminangnya. Apa yang salah? Teman saya bukan orang pendiam, dia aktif berorganisasi, ramah dan punya banyak teman, beragam cara cari jodoh dari kopdar ringan macam kenalan di SMS nyasar, sampai di FB juga pernah dicobanya tapi semua berakhir gagal. Continue reading Cari Suami