Archive for the ‘Baca-Baca’ Category

Winter and Night

Saturday, May 23rd, 2009

Ayahmu itu tidak waras. Dia hampir membunuhmu.
Dia ayahku.
Itu bukan salahmu.
Ternyata tidak berhasil. Adikku tidak pulang.
Tindakanmu tetap benar.
Meskipun tidak berhasil?
Sejak kapan kebenaran diputuskan dengan berhasil atau tidak?

Bill harus hidup dengan semua rasa kebencian itu hampir 30 tahun lamanya. Dan saat dia harus menemukan anak yang hilang, dia seperti terlempar kembali ke masa lalu. Masa di mana orang dewasa mengkhianati anak-anak, yang tak kuasa harus menolak bahkan mereka harus hidup dengan tumpukan kebohongan dan ambisi masa lalu.

Sedikit gambaran tentang novel misteri Winter n Night karya SJ Rozan yang diterbitkan 2006 lalu. Membaca novel yang saya beli dalam edisi hilang akal ini saya seperti melihat film Mystic River. Meski saya tidak pernah membaca novelnya, tapi benang merahnya hampir sepadan, yakni saat dosa masa lalu kembali ditarik ke masa sekarang, dan si tokoh utama harus berhadapan dengan masa lalunya yang kelam. Menyakitkan tapi harus tetap dihadapi. (more…)

for you, a thousand times over…..

Wednesday, February 25th, 2009

Akhirnya saya bisa melihat Hassan setelah hampir setahun menunggu dalam ketidakpastiaan. Thanks buat my best gal yang jauh-jauh dari Swiss terus mampir ke Kuta, Bali untuk beliin Hassan.

Meski sedikit trouble dengan dvd playerku dan terpaksa harus melihat estafet dan manual dari folder video_ts, tapi seneng juga bisa melihat Hassan secara visual. Ada beberapa yang beda dari Hassan versi buku dan layar lebar. Di buku yang saya baca, Hassan yang keturunan Hazara digambarkan sebagai bocah dengan segala keluguan, berwajah bundar, bermata sipit khas kaum Hazara (keturunan Mongoloid. red), berbibir sumbing, lusuh karena memang seorang pembantu. (more…)

My Hassan make a fuss

Wednesday, October 24th, 2007

Desember mendatang ada dua momen yang saya tunggu, yaitu hari libur (idul adha, natal, tahun baru), dan juga rilis buku favorit saya ke dalam sebuah film. Dari source yang saya baca, film yang seharusnya diputar pada 2 November terpaksa diundur pada 14 Desember atau enam minggu lebih lambat dari schedule awal. Ya, seperti kisah klasik lainnya, film yang menyerempet kesukuan ataupun berbau politik selalu melewati sensor ekstra ketat dan kadang juga membuat hidup pemain film di dalamnya menjadi terancam, dan menempatkan Kite Runner jadi one of Hollywood’s most eagerly anticipated movies this year. (more…)

A Father’s Affair

Saturday, April 28th, 2007

Sudah hampir sebulan puasa belanja buku, dan minggu lalu akhirnya pergi ke Gramedia book store. Tidak ada niatan untuk membeli tapi hanya survei dan membuat list buku² apa saja yang akan kubeli jika dana mencukupi.

Seperti biasa, menuju bagian New Release, rak Diskon, sastra, baru ke rak² lainnya. Banyak buku baru dan rata² membuat bernafsu untuk membuka segelnya. Tapi ga jadi karena banyak hari itu penjagaan lebih diperketat dibanding hari biasanya, maklum weekend. (more…)

Hassanku

Saturday, December 9th, 2006

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang” (Khaled Hosseini, The Kite Runner)

Aku jatuh cinta pada Hassan, Hassan yang lugu, Hassan yang mendewakan persaudaraan, persahabatan, kasih sayang, dan kesetiaan. (sedikit kekaguman pada salah satu tokoh dari sebuah buku yang aku beli beberapa hari lalu).
(more…)

Om Khalid

Tuesday, October 31st, 2006

Setelah beberapa bulan penasaran dengan THE KITE RUNNER akhirnya kemarin bisa juga memiliki buku karya Khaled Hosseini, yang lumayan fenomenal di Amerika. Ya mungkin agak sedikit basi baru memiliki novel ini, mengingat novel ini udah beredar Maret 2006 lalu, tapi apa daya, baru bisa beli sekarang.

Seperti biasanya, nafsu selalu naik kalo lihat buku² baru apalagi ada embel2nya best seller, padahal inti utama berkunjung ke book store hanya pengen beli bukunya Om Khaled sekalian ‘cuci mata’, tapi nafsu membuka segel seabreg buku ga juga bisa direm. Alhasil, 5 buah buku sukses lepas dari bungkusnya, meski melakukan aksi ini harus jauh2 dari jangkauan pak satpam dan mbak pelayan toko buku, kalo ga pengen ditegur di tempat.

Ada sedikit rasa bersalah saat menelanjangi mereka, meski aku tahu ga ada peringatan di atas rak yang menyebutkan ‘Membuka segel berarti membeli’, hanya sebuah tulisan “pelaku tindak pencurian akan ditindak secara hukum’, jadi aku pikir sah-sah saja membedah kulit luarnya, untuk meminimalkan rasa kecewa sebelum terlanjur membeli. Tapi ujung2nya, tetap aja mantap beli Pengejar Layang-Layang, meski pengen beli To Kill a Mockingbird dan The Pillars of the Earth-nya Ken Follett.

Belum begitu banyak yg bisa aku ambil dari buku karya imigran Amerika keturunan Afgan ini, baru baca dua bab, udah keduluan bikin liur di bantal. Tapi dari comen² yg tertulis di cover dan di bagian dalamnya, novel ini terasa begitu powerfull, stunning, vivid, startling, dan a haunting morality tale (USA Today).

*rush to go home*

A Story

Thursday, October 12th, 2006

This is a story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody. There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it. Anybody could have done it, but Nobody did it. Somebody got angry about that, because it was Everybody’s job. Everybody thought Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it. It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anyone could have.

Moral of this story: I dont wanna be Somebody again!

Pi…

Wednesday, May 10th, 2006

Baru jumpa kamu kemarin malam, menyapamu sebentar dan akhirnya kuputuskan membawamu pulang. Penuh semangat kulepas pelindungmu, kubiarkan jemariku menjelajah dirimu, lumayan berisi dan halus. Mmmm…rupanya mereka tau bagaimana menciptakan dirimu, dan aku harap ‘isi’ mu sebagus kulitmu. Sebelum jatuh tertidur aku mencoba mengenalmu sebentar, sayang belum begitu lama kita bermesraan aku dah ga kuat…zzzzzzzz….

Pi, hari ini kamu udah berhasil memberiku semangat mematikan pc dan bergegas keluar dari opis. Aku begitu ingin menyentuhmu dan menyatukan diriku dalam imajinasimu. Pi, I miss u :)