Cari Suami

Beberapa minggu ini saya bertemu dengan seorang kawan lama yang sedang gundah gulana karena tak kunjung menemukan jodohnya. Kerjaan oke, tampang (relatif, tapi termasuk cantik karena dia wanita), usia sudah matang, dari keluarga baik-baik, tipikal wanita sayang keluarga, dan juga welas asih dengan sesama, bahkan pandai mengaji.

Ya, bagi saya, kriteria teman saya itu sudah oke untuk menyandang status sebagai seorang istri dan ibu, tapi apa daya sampai saat ini belum ada pria yang berminat meminangnya. Apa yang salah? Teman saya bukan orang pendiam, dia aktif berorganisasi, ramah dan punya banyak teman, beragam cara cari jodoh dari kopdar ringan macam kenalan di SMS nyasar, sampai di FB juga pernah dicobanya tapi semua berakhir gagal.

Dalam curhatnya dia sempat bertanya, berapa banyak pria yang memandang fisik. Saya bilang 9 dari 10 pria, dan 1 pria itu sudah terlanjur jadi pacar saya, jadi sudah ga ada sisa lagi pria yang ga memandang fisik untuk sebuah ikatan hati. Tentu saya ga serius, saya hanya ingin mengajaknya bercanda dan akhirnya kita bisa tertawa bareng. Ya, berapa banyak pria yang ga memandang fisik?

Gara-gara jodoh yang macet, Lebaran bukan hal teramat indah bagi teman saya, silahturahmi dengan kerabat tua selalu saja jadi musibah. Ungkapan kapan nikah? jangan pilih-pilih, ingat usia, dan beragam tanya lain yang semuanya berarti sama seperti sebuah bom waktu rutin bagi teman saya, dan itu membuatnya sebal.

Sedih? Dia bilang ga, hanya bosan dan merasa jodoh bukan lagi urusan hati tapi kejar target dan lari dari pertanyaan klise kaum tetua. Jika boleh jujur, baginya lebih mudah hidup di jaman Siti Nurbaya, saat stok jodoh sudah dipaketkan untuk setiap gadis di kala muda, dan urusan trisno bisa tumbuh dan berjalan seiring dengan waktu tanpa harus banyak berpikir kerumitan mencari jodoh.

Ah, kala itu saya hanya ingin menjadi pria, melamarnya dan segera menyudahi kegalaunannya. Tapi itu hanya ilusi dan saat saya sadar, teman saya tetap saja menjomblo dan dengan galau bertanya: sampai kapan saya begini ya Rit? Jawab saya, nikmati saja masa lajangmu, sampai masanya tiba. Ya, terus terang saya juga bingung dan ga bisa berjanji mencarikannya pria. *wew*

Comments