Bye Room…

Hari ini saya tidur untuk terakhir kalinya di kamar yang sudah 8 tahun saya tinggali. Ada banyak kenangan, pengalaman, rasa takut, keberanian, kekonyolan, dan berbagai kegiatan privasi yang pernah terekam di kamar ini. Bagi saya, kamar ini unik, karena:

– dindingnya hanya dibangun tiga perempat dari tinggi rumah. Jadi saat hujan, rintik air tak jarang masuk dan membuat basah beberapa bagian kamar termasuk buku & barang² yang ada di lantai.
– dindingnya masih batu bata. Alhasil kadang kaki, siku, dan tangan saya lecet², gara² posisi tidur yang terlalu mepet ke dinding.
– atapnya bukan asbes, tapi triplek (plywood) yang kondisi sudah agak melembung karena tikus yang suka berlarian di atasnya. Bagian sudut triplek juga berlobang gara2 dicemili tikus dan juga soak karena rembesan air hujan.
– tanahnya bukan keramik, tapi masih lantai semen yang baru dibuat saat kita pindah rumah. Nah, karena masih semen, jadi cepat sekali berdebu. Dan karena semen biasa, jadi saya ga ragu lagi membuang air bekas cucian softlense dalam sekali lemparan tanpa peduli lantai jadi kotor, karena airnya langsung merembes ke lantai (baca: ini juga karena saya malas keluar kamar :d)
– jika musim panas, ga perlu buka jendela atau pintu saat tidur, karena udara dan angin bebas keluar masuk dari atas dinding yang terbuka di bagian atasnya. Tidur pun jadi lebih nyenyak, meski bangun-bangun, terasa berdebu juga :d

me & my ex-room
di kamar 8 tahun saya

Meski terkesan ala kadarnya, tapi saya menyukai kamar ini karena ini kamar pertama di mana saya tak perlu lagi berbagi tempat dengan saudara. Kamar memang bagian dari rumah, tapi kamar bagi saya punya nilai lebih dari ruang-ruang lain dengan beragam fungsinya. Kamar tetap jadi tempat libur paling normal dari segala rutinitas dan tempat di mana segala mimpi dimulai.

2 thoughts on “Bye Room…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *