Aku dan Mimpi Sederhanaku

Pohon, jangkrik mengerik, gemericik air adalah romantika masa lalu yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Alangkah nikmatnya bisa memiliki dua hal itu sekaligus dalam satu waktu. Bagi kami, rumah tidak sekedar tempat numpang tidur, tapi juga tempat bertemu keluarga, berbagi cerita, suka dan duka. Rumah juga satu paket dengan alam, lingkungan dan juga tetangga sekitar.

Dan kami sadar menjemput rumah impian dibutuhkan perjuangan yang cukup panjang, setidaknya untuk tinggal di rumah yang baru kita tempati dua bulan yang lalu. Tak hanya memeras keringat, tapi juga memutar otak saat harus mencari pinjaman berbungan lunak untuk DP ngutang ke bank, negosiasi dengan makelar sampai mengurus tetek bengek berlembar-lembar dokumen hitam di atas putih harus saya lakukan sendiri, tapi semua terbayarkan dengan sebuah rumah yang menjadi impian bapak sejak 20 tahun lalu.

Bukan rumah gedong berpilar tinggi, tapi hanya rumah sederhana dengan halaman cukup luas dengan keteduhan pohon rambutan di sudut kiri rumah. Pohon itu sudah ada di sana sejak kami pindah, dan pemilik rumah lama meminta kami untuk tidak menebang pohon itu, karena banyak kenangan di sana.

Ya, saya sendiri memang tidak berniat menebangnya, toh puluhan batang dan ratusan daunnya cukup membuat dingin rumah kami, dan kami menyukainya :). Pohon rambutan itu hanya satu dari sekian sudut rumah yang membuat saya jatuh cinta. Halaman belakang seluas 8 x 10 meter cukup memberi tempat beternak selusin bebek untuk menemani bapak menghabiskan waktu senjanya. Sebuah kesibukan yang sangat didambakannya sejak menderita stroke selama 2 tahun lebih.

Masih di halaman belakang, ada sepetak tanah kecil yang bisa dimanfaatkan ibu untuk memupuk beberapa bunga dan tanaman toga yang sudah ditabungnya saat kami menempati rumah kontrakan selama 8 tahun lamanya, dan untunglah rumah baru ini memberi tempat lumayan luas untuk tanaman ibu.

Sementara bagian dalam rumah tak sebagus luarnya, kami masih harus melakukan beberapa perbaikan di sudut langit-langit rumah. Bekas air hujan yang merembes ke dalam tampak membuat noktah yang saling bertautan satu sama lainnya, dan seperti membentuk gugusan rasi bintang. Tentu tidak seindah rasi bintang di kelamnya malam, tapi justru menganggu mata saat menengadah kepala dan melihat kumpulan noda kecoklatan itu. Butuh beberapa polesan semen putih dan memperbaiki genteng retak yang jadi salah satu pemicu noda-noda itu.

Rumah bercat putih yang catnya mulai memudar ini memiliki 4 kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tengah. Dapur cukup besar, dan nantinya akan kami fungsikan menjadi satu paket dengan ruang makannya, toh tidak akan banyak orang yang tinggal di rumah ini, hanya aku, bapak dan ibu. Jadi tidak perlu memiliki ruang makan sendiri, jika kami bisa menyulap dapur menjadi ruang yang multifungsi. Kadang juga buat meja mengiris sayur serta tempat bapak membaca koran dan minum secangkir teh hangat.

Kamarku ada di bagian depan rumah, dengan posisi lebih menjorok dari ruang tamu utama. Ada jendela besar dilengkapi teralis di sudut kiri kamarku, berseberangan langsung dengan pohon rambutan. Yah, pastinya pohon itu akan melindungiku dari sinar matahari saat pagi datang karena kamarku menghadap timur. Setidaknya beberapa rimbun daunnya tak akan mengantarkan sinar matahari langsung ke kamarku dan aku masih bisa menikmati beberapa saat lebih lama meringkuk di selimut hangatku :d.

Sementara kamar bapak dan ibu ada di seberang kamarku, dan tidak ada yang istimewa dari kamar-kamar di rumah ini. Tapi kami sangat menyukainya karena setiap kamar memiliki jendela besar dan ventilasi yang cukup, tak seperti bekas rumah kontrakan kami yang fakir ventilasi. Ya, ciri khas perumahan padat penduduk yang direnovasi total hanya untuk memperluas ruang tinggal tanpa memikirkan sirkulasi udara.

Di halaman depan, di seberang pohon rambutan, masih ada sisa tanah, tidak luas, hanya 5 meter, tapi rencananya nanti akan kita letakkan sebuah pot pendek bermulut lebar. Di dalamnya akan kita isi air, dua daun teratai dan sebuah selang yang akan disambung sedemikian rupa sampai menciptakan pancuran kecil yang bekerja dengan daya listrik. Di sebelahnya, akan kita tempatkan beberapa rimbun tanaman dan satu kursi taman dari kayu dan besi berwarna hitam dan coklat dengan ukiran pada sandaran dan pegangan kursinya. Sebuah kursi manis yang saya lihat seharga 1,5 juta di ace hardware, cukup mahal untuk sebuah kursi taman :(.

Tapi itu masih jadi angan-angan dan bukan prioritas kami, toh yang harus kami perbaiki masih banyak, seperti memastikan selokan pembuangan kotoran tidak mampet, membuat dua tiang di halaman belakang untuk menjemur baju, mencat pagar dan dinding rumah agar terlihat lebih manis, dan melepas stiker di pintu depan rumah. Hal yang paling aku benci saat pertama kali melihat rumah ini. Semoga dengan bantuan bensin atau alkohol, bekas stiker bandel bergambar singa raksasa itu bisa hilang, sebelum aku mencatnya dengan cat minyak warna coklat muda.

Mungkin setelah melakukan beberapa renovasi kecil di dalam dan luar, waktunya untuk memikirkan membeli beberapa perabot yang memang sengaja tidak kami beli saat masih mengontrak. Ya, beberapa mebel yang jadi incaranku di lelang barang display masih ada di my wish list, tapi semua harus ngantri, karena budjet bulan ini mulai dialihkan untuk mencicil biaya rumah selama 10 tahun. Waktu yang lama, dan penuh perhitungan untuk mulai berhemat dan berpikir ekonomis. Tapi tak masalah, asal aku bisa melihat ibu menyapu daun-daun jatuh di bawah pohon rambutan dan bapak dengan selusin bebeknya di halaman belakang rumahnya sendiri. Dan itu membuat saya bahagia.

Ya itulah selama lebih dari 10 tahun, yang saat ini belum aku miliki, tapi aku yakin bisa memilikinya dalam waktu dekat ini, entah kapan, karena aku tak bisa meramal nasibku sendiri, tapi aku begitu yakin bisa membuka pintu rumah itu, bersama bapak dan ibu. Amin.

18 thoughts on “Aku dan Mimpi Sederhanaku

  1. Dasar Gog, sekali nyapa di FB malah suruh komen. Gimana temen2 STIBA? rumahmu di celakat kemana ta?

  2. setiap orang memiliki rumah idaman masing-masing. meskipun saya pun memiliki impian yang muluk dengan rumah yang besar dan mewah full teknologi. dimana semua perangkat terhubung ke komputer dan internet. tapi ya sekedar khayalan. yang terpenting bagi saya rumah itu nyaman dan sehat untuk ditempati sekeluarga. keluarga kecil, bahagia dan cukup lahir batin itu saja.

    oia ditunggu komentar berkualitasnya juga dalam tulisan ‘Rumah Impian…’.cheers..

  3. Gw jg Bro..punya mimpi sederhana yg kurang lebih sama seperti Bro..
    mimpi akan rumah sederhana tempat berbagi suka dan duka..
    mimpi akan rumah tempat menikmati senja dan hari tua..
    mimpi akan rumah tempat menyendiri dari 1001 kesibukan dunia..
    mimpi akan rumah tempat membina rumah tangga dan anak2 yg lucu..

    tapi sampai saat ini belum terwujud..

    Semoga kita dapat mewujudkannya suatu saat nanti..
    Yakinlah kita mampu mewujudkannya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *