Tak terasa sudah tiga bulan saya jadi orang rumahan. Dulu sebelum bapak sakit, biasanya saya suka jalan², entah hanya ke toko buku, supermarket, wiken ke luar kota, ke rumah teman, dan melakukan aktivitas lain di luar rumah. Tapi kini aktivitas itu harus berkurang, karena sisa waktu saya habis di rumah, selain melewatkan waktu di kantor.
Meski kangen jalan², tapi ga mungkin bisa dilakukan, karena seperti saran dokter selama enam bulan ini status kesehatan bapak masih ‘waspada’, jadi harus ekstra perhatian dan hati². Waktu luang untuk ngobrol bareng bapak juga makin banyak, meski harus nahan diri biar ga emosi dan harus sabar dengan sikap keras kepala bapak. Dan menghabiskan waktu di depan TV selain baca koran dan buku basi.
Entah sampai kapan jadi orang rumahan, hanya mendadak kangen saja bisa off selama dua sampai tiga hari, menikmati dan memanjakan diri sendiri.
This entry was posted on Tuesday, October 30th, 2007 at 3:15 pm and is filed under MyDay. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Sampe punya suami.
Kan enak tuh, suamimu suruh tunggui rumah, kamu bisa bebas jalan-jalan.
*memandang prihatin ke manus*
Hmm.. jadi kepikiran suatu tempat…
*Lho, kok replyne parjo sing tak woco*
mbok ‘masnya’ itu diberdayakan.
mas, cariin bacaan baru, dong.
mas, beliin makanan ya.
mas, koran baru tadi belum tak ambil di loper koran
mas,……..
…..
….
*berharap bapak cepat sehat*
iyah… masnya itu nggak sensitif
dibeliin PS2 kek, biar bisa ngegame
lama2 kan jadi BT, hibur kek
joget2 di depannya
*lho… kok aq dadi emosi*
yah, brati hati2 bwt mas2, harus lbi “siaga” rupanya…
langit yang menghilang
akankah hilang selamanya…???
dengan ego yang begitu tinggi
untuk mengatakan “hai pakabar”
ato untuk disapa “pakabar”
turut prihatin yu…
-seng kilangan langit-
podo ae jek, aku yo DRS sejak bulan maret lalu
(