Naik angkot selalu memberi pengalaman tersendiri bagiku. Tadi sore naik angkot yang sopirnya lagi tengkar ma istrinya. Pengennya sih tutup kuping dan ga mau dengar perdebatan mereka, sialnya aku lupa bawa MP3, dan duduk pas di belakang sopir. Ya terpaksa mencerna setiap umpatan dan mendengarkan dengan seksama, karena ga ada pilihan lain, mau turun sayang banget, karena harus buang duit 2 ribu, ya udah milih tetap stay di angkot yang sama dan membiarkan telinga ‘dipaksa’ mendengarkan urusan rumah tangga orang lain.
Awalnya sih kondisi cukup tenang, seperti naik angkot pada umumnya, tapi tepat di per4an Klojen, pak sopir yg usianya sekitar 30thn menyuruh dua teman yang menemaninya nyupir sejak tadi untuk turun dr angkot. Kenapa? Usut punya usut ternyata ada istrinya yang berdiri kaku dengan muka ditekuk di depan Ultras. Ya, kelihatan banget kalau dia lagi marah. (more…)