Dengan rasa enggan aku memasuki ruangan remang-remang dengan beragam gambar organ penampang mata, cart eyes tester, dan bbrp perangkat optikal lainnya. Dipandu seorang opticion aku duduk di sebuah perangkat yang akan memberiku vonis akhir dan penentu ukuran tools yang akan menemaniku menatap hari. Aku merasa seperti pesakitan, rasa marah, pegel, takut, kecewa, dan semua aura negatif memenuhi hatiku. Aku seperti menunggu vonis mati, sementara kamu dengan setia duduk manis, tersenyum melihat gurat cemberut di wajahku, dan seperti sudah siap untuk ‘kumarahi’.
Setelah serangkaian prosesi yang selalu membuatku alergi, akhirnya vonis itu harus kuterima. Iya, bertambah, dan…kecewa, tentu. Aku selalu merasa tolol dengan diriku, yang selalu mengingkari kenyataan. Ga taulah, sepele memang, tapi bagiku itu artinya sebuah kekurangan yang sampai saat ini kadang masih sulit aku terima.