do i kill my pap?

November 30th, 2006
67. 

Hari ini aku mampir ke warung yang biasa aku lewati saat perjalanan pulang atau berangkat, membeli dua pak rokok kretek buat bapak. Sebuah rutinitas yang aku lakukan setiap minggu sekali atau dua kali. Sambil membayar aku sempat berpikir apakah aku membunuh bapak secara perlahan, tentu dengan beberapa batang tembakau padat yang dihisapnya setiap hari.

Iseng2 aku tanya bapak apa ga ada niatan berhenti merokok? Sambil nunjukin ‘peringatan ajaib’ di salah satu sisi kemasan untuk membuatnya merasa ngeri dan kapok. Sayang, bapak hanya ketawa dan bilang, sakit itu sudah nasib, toh buktinya sampai saat ini bapak sehat2 saja, paru2 pun bersih, malah yang ga ngrokok justru bengek. Bapak sudah merokok lebih dari 50 tahun, nah kalau kamu minta bapak berhenti merokok, itu sama artinya mengambil istri kedua bapak.

Duh, bapak benar2 keras kepala, ga pernah mau ngalah dan selalu punya alasan yang pas untuk membuatku bungkam dan akhirnya sepakat dengannya. Meski pegel, namun dalam hati aku salut dengan beliau, yang masih terlihat segar, sehat dan bisa menjaga diri di usinya yang ke 70 tahun. I love u pap, even i kill u smoothly. Do i kill him? as long as i know, i do love him.

Noted down in Uncategorized    |    Permanent link

Biasa

November 30th, 2006
66. 

Awalnya sama sekali ga ada yg istimewa, bahkan jauh dari sosok yang selama ini selalu aku bayangkan akan menemaniku mengisi hari. Dia biasa aja, tinggi juga ga, gemuk juga ga, ganteng juga ga, jelek juga ga. Dia hanya pria biasa dengan pekerjaan biasa, penghasilan biasa, tongkrongan biasa, pengetahuan biasa, teman2 biasa, lingkungan biasa, keluarga biasa, lulusan sekolah biasa, dan, iman biasa2 saja. Ya, tepatnya dia pria biasa dengan kehidupan biasa2 saja, tak ada yang istimewa dari dirinya, tapi dia bisa membuat hari2ku menjadi luar biasa, dan membuat diriku menjadi luar biasa dalam kapasitasku sebagai ‘wanita’. Dan dia memang pria biasa untuk gadis biasa sepertiku. Tak ada yang istimewa, aku mengagumi dan menyukainya karena dia biasa.

Noted down in Uncategorized    |    Permanent link

Muntah, Aibkah?

November 13th, 2006
65. 

Seperti biasa angkot selalu menjadi armada utamaku beraktivitas dari rumah ke kantor ataupun sebaliknya. Tak ada yang istimewa dengan angkot yang aku naikin, tetap berdesak-desakan dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal, tapi hari ini lain. Ada sesuatu yang membuatku berpikir lebih jauh dari sekedar naik angkot, melewatkan kebiasaan melihat teman seperjalanan, mengamati situasi jalanan, ataupun hanya duduk diam melepas lelah.

Saat itu ada enam orang yang duduk di bagian belakang angkot. Aku, seorang pemuda lumayan cakep tapi masih ijo, satu gadis muda yang sibuk SMS-an, satu bapak2, dan seorang ibu muda dengan anak lelakinya yang masih berusia sekitar lima tahunan.

Awalnya tak ada yang istimewa, biasa aja, tapi keadaan menjadi lain saat di perempatan SKI, tiba2 si anak muntah dan cipratannya mengotori celana dan sebagian bajuku, yang duduk tepat di depannya.

Bekas makanan bercampur cairan lambung membasahi bajuku, aroma khas muntah pun mendominasi angkot kami. Sedikit shock, pegel, dan jijik dengan muntahan itu, tapi yang bikin aku kaget saat si ibu muda itu mencubit dan memarahi anaknya, mengumpatinya dengan kata2 kotor yang tidak pantas diucapkan seorang ibu pada anaknya.

Si kecil yang malang hanya bisa menangis, takut, dan pasrah menerima cubitan, jeweran dan makian ibunya. Kami saksi dari kejadian itu tak bisa berbuat apa2, aku sendiri yang kena imbas hanya bisa berkata,” Ga pp mbak, saya ga marah kok, nanti juga bisa ilang kalo dicuci, memintanya agar tak memarahi anaknya.”

Sayang kata2 ku hanya seperti angin lalu, si ibu terus ngomel dan berkata bahwa si kecil patut mendapat hukuman itu, karena dia telah bikin malu dan bersikap tak sopan.

Oh, Tuhan, hanya sebuah muntahan yang mungkin bukan sebuah niat/keinginan yang sengaja ingin dilakukannya tapi si kecil harus menerima perlakuan seperti layaknya dia telah melakukan kejahatan, padahal itu hanya mabuk perjalanan dan bukan perbuatan dosa. Ironis.

Akhirnya aku hanya bisa menahan diri sambil berusaha membersihkan bekas muntahan dengan tisu dan berharap segera pulang dan mencuci bajuku.

Mmmm, sedikit menyadari mungkin banyak orang menganggap muntah mabuk perjalanan (bicara di luar konteks muntah gara2 masuk angin, keracunan atau hamil muda), sebagai sebuah hal yang menjijikkan, bikin muak dan sangat menganggu orang lain (apalagi yg ada di sekitarnya). Mabuk ini pun bisa dialami di manapun, darat, air, maupun udara, dan menjangkiti semua usia. Penyebabnya? Ya mungkin karena tidak terbiasa naik kendaraan atau kondisi badan yang kurang fit saat bepergian.

Tapi bisakah sedikit menyadari kondisi si ‘pemuntah’, pernah kah kita bayangkan rasa pahit di mulut, kerongkongan kering, mual, perut yang seperti di aduk-aduk, pening, dan segala rasa tak nyaman untuk segera mengeluarkan semua isi perut. Bagi mereka, hal itu akan sangat melegakan dan membuat nyaman, tapi bagi orang di sekitar, sebagian besar justru mengolok-olok, memarahi atau justru merasa direpotkan, dan tak segan segera menutup idung.

Yang jelas jika disuruh memilih mereka ga akan mau mabuk perjalanan, bahkan mereka rela minum bertablet2 anti mabok atau menambal pusar dengan tembakau dan salonpas. Mmm, ribetnya…untung aku bukan termasuk golongan ‘pemabuk’.

Noted down in Uncategorized    |    Permanent link

Hi…its me!

November 10th, 2006
1. 

Dear Teman,

Bersama ini diberitahukan bahwa alamat blog: aku-dan-senja.blogspot.com sudah berakhir masa baktinya. Pensiun dini? Bukan! lebih tepatnya dipensiunkan karena sebab yang hanya bisa dijelaskan dalam hati, dalam artian hanya pemilik yang mengetahui alasan di balik berakhirnya blog tersebut.

Bukan hal yang mudah menyudahi sebuah lembar perjalanan, mengingat banyak kisah sedih, bahagia, bahkan memalukan terangkum dalam setiap pagenya. Meski bisa dibilang semuanya hanya postingan yg sifatnya personal, tapi tetap ada sedikit keengganan untuk menyudahinya.

But that’s Ok. Ada akhir, tentu juga ada awal, dan saya secara pribadi mohon maaf jika selama ini ada kesalahan kata, komen, sindiran, postingan atau apapaun yang membuat sakit bagi mereka yg merasa tersakiti, meski itu bukan sebuah kesengajaan, tapi sebuah keseriusan.

Buat Senja, thx banyak atas perjalanan dan kisah yang pernah kamu goreskan. Mungkin kita bisa mengawalinya dengan sesuatu yg jauh lebih indah. Dan aku akan mencoba tetap menjadi langitmu, meski tak lagi seluas yang dulu, tapi aku akan mencoba tetap menjadi langit, meski sekarang sudah ada pelangi.

Buat mereka (parjo, ferdi, penyu, uphiet, venus) yang sudah bersedia mengiklaskan diri memberikan comen, cacian dan pujian , thanks banget, Tuhan memberkati.

cheers,
Bazz

Noted down in Kawan    |    Permanent link

bye

November 6th, 2006
64. 

Today I step into a new world,
say bye to all my old memories
and burn my unfulfilled dreams
today I come out of my box,
no pain and full of fresh hope
goodbyes are part of life
but I reckon for every farewell
there’s always another hello that awaits me

Noted down in MyDay    |    Permanent link