Archive for October, 2006

Om Khalid

Tuesday, October 31st, 2006

Setelah beberapa bulan penasaran dengan THE KITE RUNNER akhirnya kemarin bisa juga memiliki buku karya Khaled Hosseini, yang lumayan fenomenal di Amerika. Ya mungkin agak sedikit basi baru memiliki novel ini, mengingat novel ini udah beredar Maret 2006 lalu, tapi apa daya, baru bisa beli sekarang.

Seperti biasanya, nafsu selalu naik kalo lihat buku² baru apalagi ada embel2nya best seller, padahal inti utama berkunjung ke book store hanya pengen beli bukunya Om Khaled sekalian ‘cuci mata’, tapi nafsu membuka segel seabreg buku ga juga bisa direm. Alhasil, 5 buah buku sukses lepas dari bungkusnya, meski melakukan aksi ini harus jauh2 dari jangkauan pak satpam dan mbak pelayan toko buku, kalo ga pengen ditegur di tempat.

Ada sedikit rasa bersalah saat menelanjangi mereka, meski aku tahu ga ada peringatan di atas rak yang menyebutkan ‘Membuka segel berarti membeli’, hanya sebuah tulisan “pelaku tindak pencurian akan ditindak secara hukum’, jadi aku pikir sah-sah saja membedah kulit luarnya, untuk meminimalkan rasa kecewa sebelum terlanjur membeli. Tapi ujung2nya, tetap aja mantap beli Pengejar Layang-Layang, meski pengen beli To Kill a Mockingbird dan The Pillars of the Earth-nya Ken Follett.

Belum begitu banyak yg bisa aku ambil dari buku karya imigran Amerika keturunan Afgan ini, baru baca dua bab, udah keduluan bikin liur di bantal. Tapi dari comen² yg tertulis di cover dan di bagian dalamnya, novel ini terasa begitu powerfull, stunning, vivid, startling, dan a haunting morality tale (USA Today).

*rush to go home*

my opis

Thursday, October 26th, 2006

Lega deh akhirnya bisa ngantor lagi setelah dua hari menjamur di rumah. Tiba di kantor, belum sempet ngidupin pc, masih saling jabat tangan sama dua temen opis, look around and garuk² kepala liat kondisi kantor yang mengenaskan, duhhh, baru ditinggal buk nah tiga hari kantor bener² amburadul.

Pas jalan masuk sampe mejanya si pw berserakan daun² kering, debu, bungkus permen, kue, koran dan tabloid jumpalitan di beberapa meja dan sofa, isi sampah di bawah papan pengumuman dah berebutan mau keluar, persis di sebelah papan pengumuman tergantung handuk warna biru. Sempet mikir sapa sih yg naruh handuk di situ, harusnya khan ditaruh di belakang, usut punya usut ternyata handuknya si Ipank yg emang nginep di kantor waktu lebaran.

Segera beranjak ke dapur, niat mau ambil sulak bulu ayam buat berisihin meja + PC, ambil mug dan sekalian pee. Gila! ternyata dapur lebih ancur lagi. Bekas bungkus makanan berserakan di lantai, gara² keranjang sampah dah ga muat lagi, bau makanan basi *mual*, piring, garpu, sendok, tumplek blek di tempat cucian, dan yang paling parah, Mug kesayanganku lengket bekas kopi, ga tau habis dipake siapa, yang jelas kondisinya jadi mengenaskan, item di bagian dasarnya, jadi kudu cuci berulang2, sampe bersih dan ilang nodanya.

Duh, kalo gini kita bener² kangen buk nah. Kapan ya balik.

A Story

Thursday, October 12th, 2006

This is a story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody. There was an important job to be done and Everybody was sure that Somebody would do it. Anybody could have done it, but Nobody did it. Somebody got angry about that, because it was Everybody’s job. Everybody thought Anybody could do it, but Nobody realized that Everybody wouldn’t do it. It ended up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anyone could have.

Moral of this story: I dont wanna be Somebody again!

Salahkan Angin

Thursday, October 5th, 2006

Debu jadi partikel yang paling aku benci belakangan ini. Gara-gara debu, kuku-kuku jariku jadi rajin menggaruk-garuk leher, meski aku harus menahan diri untuk ga mengaruk wajah. Mengapa? karena wajah jadi fitur pengenal dariNya yang harus selalu dijaga, meski kualitasnya standar2 aja).

Dua minggu lalu aku meyakini rasa gatal di leher dan wajah gara2 abis makan udang yang dibeliin Lenci, tapi ternyata aku salah. Obat yang aku beli di apotik (3 biji insidal) dan juga 1 lembar obat gatel bapakku, gagal mengusir rasa gatal yang cukup bikin bete.

Sampai Sabtu lalu, akhirnya aku ngeh, rasa gatal ini bukan gara² makanan atau kebersihan badan (yg ini ga mungkin banget, krn aku termasuk orang yg suka mandi, beda banget dengan seorang temanku yg anti air). Ya, rasa gatal ini datang gara² debu, debu bercampur belerang kiriman Gunung Semeru (3.676 mdpl) yang mungkin lebih dari sebulan mengguyur kota Malang.

Tadi pagi di radio, Mbak penyiar bilang kalau hujan debu akan terus mengguyur Malang Raya jika arah angin bertiup ke arah barat. Tapi kalau arah angin menuju selatan, bisa dipastikan daerah Lumajang dan Probolinggo yang terkena imbas hujan debu.

Dalam keterangannya dia juga bilang kalo hujan abu ini adalah dampak dari letupan rutin Gunung Semeru, dan hal itu wajar-wajar saja, mengingat jika Semeru tak meletup, bisa dipastikan akan terjadi letupan yang lebih besar.

Ok, aku bisa maklum kalo Semeru ‘batuk’ selama beberapa waktu, tapi aku ga bisa terima jika angin membawa komponen batuknya ke arah barat, apalagi dalam jumlah berlebih seperti Sabtu lalu. Itu artinya aku mulai rajin menggaruk, rajin cuci muka krn wajah jadi kering dan ngeres, jadi sering2 keramas, rajin bersihin kamar, rajin melap pc, dan yg pasti rasa dahaga jadi terasa banget waktu Ramadhan kali ini.