Archive for May, 2006

Basah…basah..basah Lagi

Tuesday, May 30th, 2006

Dengan menyandang dayung kita naik ke truk yang dibagi dalam dua rombongan. Aku ikut dalam rombongan pertama yang membawa kita ke start poin, yaitu ke dusun Angin-angin, desa Ranu Gedang dimana perahu telah menanti kami. Setelah berjalan melewati jalan setapak sekitar 1-2 km dengan suasana murni pedesaan, kami segera sampai ke tepi sungai yang arusnya ga seberapa deras.

Aku, Reyno, Teddy dan Anton Io sampai lebih dulu di tepi sungai meski nafas udah ngos2san, maklum kami dah lama ga jalan jauh, sementara Erlin dan Moniq jauh tertinggal di belakang.

Akhirnya setelah semua tiba di sungai, kami mulai masuk ke perahu kami masing-masing, untung aku mendapat guide yang OK banget. Usmadi namanya, bisa dibilang dia guide yang benar-benar guide. Kenapa aku bilang begitu, karena selain membimbing kami Uus juga mengenalkan nama dan karakter setiap jeram yang kami lewati. Ga seperti guide di tiga perahu lainnya yang sama sekali tak menjelaskan jeram yang mereka arungi, jadi sampai akhir pengarungan mereka sama sekali ga tahu jeram apa yang telah mereka lewati. Dan kenapa mereka juga ga tanya ya? *sigh*

Ini juga terlihat saat kelompok lain tak memiliki nama, tapi kelompok kami memilikinya, dan kami menyebut diri kami macan, ga ada arti khusus, asal sebut aja, karena kami emang ga siap bikin nama, tapi lebih penasaran dengan jeramnya. Tapi paling ga saat Uus berteriak Macan, kami lansung memukul dayung kami ke air, tanda kami siap kembali melarung.

Saat semua perahu sudah siap, kelompokku yang mengawali start dan petualangan dimulai dengan melalui jeram Selamat Datang (welcome). Arusnya deras banget, dengan kelokan tajam dan karang yang menjorok tajam ke arah sungai, saat melewati jeram ini, Uus teriak boom, sayang aku teledor dan kurang sigap, alhasil terbentur karang dan lebam deh lengan sebelah kiri …hehehe..tapi ga bakal bikin kapok, perjalanan tetap lanjut.

Kerjasama yang solid antar kelompok dan guide yang berpengalaman benar-benar membuat derasnya arus tak begitu terasa, apalagi kita disuguhi aneka ragam flora di kanan kiri sungai dan beberapa fauna liar seperti monyet, biawak, kalong, kelelawar ikut menyapa kehadiran kita…cool banget.

Sungai yang bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan ini memiliki ± 50 jeram, dari penjelasaan Uus, aku hanya sempat mengingat jeram welcome, batu jenggot (karena tebing di pinggir sungainya banyak ditumbuhi tumbuhan menjalar, yang jadi sangat mirip jenggot), pandawa, rajawali, xtravaganza, jeram inul (dimana banyak sekali batu kecil2, sehingga kita harus ngebor agar perahu tak nyangkut di bebatuan) tripple ace, the fly (nah, saat melewati jeram ini, seharusnya kita bediri, agar saat perahu terjun dari jeram jadi serasa seperti terbang), Matador (jeram yang ditengahnya ada holenya, yang membuat perahu kita berputar-putar jika kita tak bisa mengendalikannya), hiu, cucak rowo (katanya sering ada burung cucak), long rapid, lumba-lumba, jeram raden, jeram pipis (karena di pinggir tebingnya ada satu celah yang mengeluarkan air, jadi sepintas mirip pancuran air pipis), dan Good bye.

Ga hanya itu, kita juga melewati tujuh air terjun yang sangat mempesona (kalau ga salah hitung), gua-gua kelelawar, stalagtit dan stalagmit indah hasil ukiran alami. Ada satu air terjun berukuran besar, bagus banget, apalagi kalau airnya menimpa badan, wah seperti dipijat rasanya…seneng banget waktu di sini, sayang bau kotoran kalong dan buah busuk bikin ga betah lama-lama berada di sini.

Setelah beberapa saat beraung jeram, kami beristirahat di rest area, tepatnya di Kedung Adem-adem. Di sana kita disuguhi pisang goreng, susu panas dan teh jahe. Beristirahat dan menghangatkan diri sebentar, kita saling bercerita dan berbagi pengalaman. Setelah beberapa menit, kita kembali melanjutkan perjalanan mengingat langit sudah mulai mendung dan jika hujan turun, bisa dipastikan arus akan bertambah deras.

Kita kembali ke perahu masing-masing dan siap mendayung lagi. Tiba di satu kelokan tajam dengan batu besar di sebelah kanan, yang seperti membentuk sebuah kolam dalam ukuran gede banget, kami berhenti (lebar sungainya sih rata-rata 5-20 meter). Guide menepikan perahu kami dan meminta kami naik ke bukit dan melompat dari ketinggian 5-6 meter. Mereka menyebutnya ‘Fantastic Jump’, meski diancam perjalanan ga bakal dilanjutkan kalau belum melompat (tentu saja gertakan doank), namun ada beberapa anak yang keukeuh ga mau melompat, dengan alasan takut dan ga bisa berenang. Karena aku penasaran, akhirnya aku ikutan melompat, dan yakin ga bakal ada apa2, karena dah pake pelampung jadi nekat aja ikutan lompat dari atas tebing, meski aku tahu sungai ini lumayan dalam (sekitar 1-3 meter). Dan akhirnya….hup…byurrrr….blepp…lega deh, ternyata enak juga, seperti terbang dan rasanya ga bisa dijelasin, walo sedikit merasa deg-degan.

Setelah puas melompat, mengapung, dan mainan air, kita kembali ke perahu dan melanjutkan pelarungan, dan sampailah pada jeram terakhir….jeram Goodbye…hikss…ga nyangka kalo kita harus mengakhiri perjalanan indah ini. Rasanya jarak ±12 kilometer yang ditempuh selama ± 3,5 jam ga terasa sama sekali. Kami harus menyudahi petualangan kami di finish point dusun Gembleng, Desa Pesawahan, dan masih harus berjalan melewati jalan setapak sejauh 1-2 km lagi menuju tempat mangkal truk yang akan membawa kami kembali ke base camp Noars.

Tiba di base camp, kami berfoto sejenak, meski aku lebih memilih ga ikut sesi foto karena mules on the way :d. Setelah membersihkan diri, kami makan dengan lauk yang benar-benar sederhana banget, penyet tempe dan iwak pe, sop, sayur lodeh dan urap-urap. Mmmm…lumayan enak buat perut kami yang sudah keroncongan minta diisi.

Sembari menunggu kenyang mereda, ngobrol sana-sini dan menunggu hujan reda deras, akhirnya kami pamit tuan rumah tepat menjelang magrib tiba.

Karena esok harinya kami masih libur kami memutuskan meneruskan liburan ke Pasir Putih dan menginap di sebuah penginapan pinggir pantai. Ga banyak yang kami lakukan di sini, hanya tidur, sebagian main kartu dan yang lainnya ngobrol.

Pas jam enam pagi, aku dah bangun, jalan2 ke Pantai dan lihat suasana pantai yang tak seindah 8 tahun silam.. Ga ada kesan yang berarti disini. Tepat jam 10 kita check out dan mampir makan siang di sebuah resto dan meluncur ke Malang.

Sekitar jam 15.00 kita nyampe kantor, ada yang langsung pulang, ada yg langsung nyalain PC, ngecek mail, ataupun langsung ngejunk. Aku sendiri langsung kirim mail ke bos kecil di Jakarta, sekalian nyelesein gawean sedikit. Tepat jam empat hengkang dari opis bareng seorang teman, yang emang niat aku temenin, biar ga nyasar lagi sekalian nemenin aku beli es campur.

Setelah jam sekian-sekian akhirnya nyampe rumah, melempar ransel ke pojok kamar, bersihin diri dan akhirnya tewas di kasur hangatku…zzzz……..indahnya hari liburku.

Basah…basah..basah

Tuesday, May 30th, 2006

Liburan Kamis lalu (25/05) ga lagi aku isi dengan mijitin tikus di kantor, seperti halnya kebiasaanku setiap hari libur. Tapi aku dan temen2 opis pergi rafting ke Pekalen, Probolingo. Liburan yang bisa dibilang tanpa persiapan matang, mengingat kita sibuk dengan urusan kerjaan yang semuanya kejar deadline, ditambah lagi ga semua anak ikut liburan. Sial bener tuh XL, ga ngijinin kita libur barang sehari, operator sombong ini ingin tim PIC standby 7×24 jam…puhh…gila banget. Akhirnya minus enam orang kita berangkat rafting dengan hati berat (pada awalnya), meski sampai di sana lupa juga ma teman di kantor, sangking asyiknya berjeram ria.

Tepat pukul 7 tet nyampe kantor, ngecek mail dari bos dan reporter, sekalian ijin bos kecil di Jakarta, ijin sehari ga update news, maklum daerah pedesaan miskin koneksi (alasan biar liburannya plong, ga kebeban gawean). Eh iya sebelum ke kantor ada seorang teman yang sms aku pagi2, tanya rute angkot menuju ke opis. Nah, setelah memberi sedikit penjelasan, yang belakangan baru aku sadar kalau aku telah membuatnya tersesat, akhirnya dia berangkat ke opis dengan perasaan takut nyasar.

Alhasil saat tiba di kantor, dia basah duluan, bukan krn rafting sih, tapi keringatan gara-gara jalan dari Kecamatan Blimbing (Taspen) sampai kantor. Nah, diriku yang tak merasa berdosa cengar-cengir aja lihat dia keringatan, awalnya sih aku kira dia ga sampe jalan segitu jauhnya, eh usut punya usut ternyata aku yang salah kasih direction. Yang seharusnya turun trabasan, dia justru turun cegatan, akhirnya jadi jalan sehat pagi2…..hehehe…maaf pal…paling ga bobot badanmu lumayan susut khan? *ketawa ngakak*

Tepat jam 08.25 kita cabut dari kantor, diiringi tatapan melas Beni, salah satu korban yang ga bisa ikut rafting. Sampai di bus, aku duduk sebangku ma Erlin, sementara ada beberapa teman yang memilih duduk sendirian, karena masih banyak kursi kosong gara2 banyak personil yang ga ikut. Setelah semua menempatkan pantat dan mulai bisa beradaptasi, mbak Wida (salah seorang tur guide dari Aini Tour) mulai mengenalkan diri dan bla…bla…bla…(briefing default para tur guide).

Sekitar jam 10, makan siang mulai dibagi, sayang bukan nasi kotak seperti harapanku, tapi nasgor dalam styrofoam yang rasanya ancur banget, plus air mineral dan 4 biji permen (stttt…I hate this travel agent).

Tanpa kendala apapun, bus dengan mulus memasuki desa Ranu Gedang sekitar jam 11.45, melaju ke tujuan utama, yaitu Noars, base camp utama yang akan membawa kita berpetualang menyapa derasnya sungai Pekalen.

Setelah disambut dengan welcome drink (teh jahe dan air mineral), kita mulai menentukan kelompok pengarungan. Siang itu hanya kelompok kita yang akan mengarungi sungai, karena pagi harinya diisi rafter dari grup lain. Dari ada 18 orang yang ikut dibagi dalam empat kelompok, minus satu teman yang memutuskan ga ikut karena sebuah alasan dan lebih suka menjadi fotografer. Sementara aku sendiri tergabung dalam kelompok imut, dan aku sendiri yang jumbo (Aku, Indra, Anton Io, Satria dan Agus).

Setelah kita ganti baju yang layak buat berbasah-basah, memilih life jacket/pelampung, helm pengaman, dayung, kita mengikuti briefing singkat tentang pengenalan medan dan tata cara survive dalam perahu karet saat mengarungi jeram dalam derasnya arus sungai. Hanya ada tiga kata yang harus kita ingat, yakni, dayung, stop dan boom. Kiri dayung mundur, kanan dayung maju aba-aba untuk bebelok ke arah kiri, dan begitu juga sebaliknya. Stop, jika guide menyuruh kita berhenti mendayung dan boom sebagai aba-aba ada bahaya di depan.

Setelah semua mengangguk-angguk tanda paham atau bisa jadi nervous, akhirnya briefeing bubar dengan diakhiri doa mohon keselamatan. Sebelum dilanjutkan naik pick-up pengangkut sapi, kita sempetin diri berpose sebentar and …c u teman…sayang kamu ga ikut menikmati excitingnya berarung jeram.

Sapi

Wednesday, May 24th, 2006

Kemarin usai makan siang yang menunya default banget, iseng2 pencet2 chanel TV sambil nunggu perut lega sebelum kembali duduk n mencet2 tikus. Selain emang lagi berusaha meminimalkan jumlah ular yang mulai terukir indah di perut cubby ku (katanya sih abis makan langsung duduk bikin perut tambah bunder…bener ga nya, blm tahu pasti karena masih dalam masa trial).

Eh, kembali aktivitas pencet2 remote control, akhirnya aku pilih liat ‘SISI LAINNYA’ TRANS TV, karena di situ lagi nyiarin sapi. Nah, kenapa sapi? kenapa ga nonton India, Ceriwis Yo Wis, acara gosip, or yang lainnya. Alasannya karena aku punya pengalaman manis dengan seekor sapi.

Balik lagi ke topik sapinya Trans, yang mengulas sesuatu yang unik sapi. Tepatnya mereka mengulas tentang hotel Sapi, yang jelas didalamnya ga bakal kita temukan resepsionis, bath up, lounge, mini bar or office boy berbaju rapi plus senyum manis berharap tips. Tapi hotel sapi ini lebih simple banget, dengan kamar sekitar 5×5 meter, kasur alami berwarna ijo, dan suguhan beverage spesial hasil racikan pak Tolani (kalo ga salah denger), yang terbuat dari campuran telor ayam kampung, obat flu, dan bahan2 lain yang membuat si sapi kembali seger lagi and siap melanjutkan perjalanan. Yah..hotel yg terletak di Kabupaten Batang ini memang layak buat transit para pedagang sapi dari daerah yg berniat jualan sapi Brahma ke wilayah jabar.

Lain lagi dengan orang Batak Karo, mereka punya pengalaman bersama sapi yang unik banget, dan jujur baru pertama kali ini aku tahu ada menu spesial ‘Kaldu Kotoran Sapi’….huek…gilani, ajor, hiiiiiiiiiiiiii…….., jijay, haduh bikin pengen muntah…dan berbagai sumpah serapah temen2 yang ikutan liat acara tv.

Ya emang ga nyalahin mereka sih, buat seseorang yang gampang jijik, dan ga terbiasa dengan makanan aneh2, mungkin langsung mual dan ga selera buat lunch, meski ada satu teman yang tetep terlihat santai ikut nonton tv sambil menikmati makan siangnya, dan bertanya ‘daerah mana itu?’ (tanpa pandangan jijik, tapi ga tahu lagi kalo ngempet :p)

Tretes, nama makanan spesial orang Batak Karo, sekilas mirip nama sebuah tempat yg anget2 di Jatim. Wujud makanannya sih seperti sayuran lainnya, hijau kehitam-hitaman. Hijau karena memang masakan ini melibatkan sayur mayur di dalamnya (dulu pendahulu mereka sering menggunakan daun-daunan lebih dari 10 jenis tanaman), tapi sekarang mereka hanya menggunakan daun-daunan seadannya. Selain sayur mereka juga memasukan kotoran sapi yang diambil dari usus sapi (tentu bagian pembuangan), warnanya ijo banget, bukan hijau item seperti tahi sapi yang masih anget keluar dari lubangnya, tapi bener-bener ijo seger, sekilas mirip ijonya rumput di Indie Resto.

Nah, dari situ kotoran sapi diperas, diambil intinya dan direbus sampai menghasilkan kaldu yang benar2 harum dan berbau gurih (katanya sih), sebelum ditambah potongan usus sapi, sayur mayur dan rempah2 penyedap, diaduk-aduk sampai berbau harum dan kuahnya mengental, baru deh sayur kaldu kotoran sapi siap dinikmati…mmmm..enak? *sigh*

Kalau lihat orang Batak Karo makan sayur ini dengan nasi masih mengepul kelihatan enak banget, apalagi makannya dalam nuansa pedesaan yang masih asri (nah, pas waktu itu emang masaknya ga di dapur, tapi di alam bebas, dan kokinya bukan ibu2, tapi 4-5 orang bapak2 dengan peralatan masak ukuran jumbo).

Tretes termasuk jenis makanan wajib saat orang batak karo menggelar sebuah hajatan, so bagi yang berniat traveling ke Batak, dan bukan orang yang suka tantangan, mending lebih hati2 deh, daripada …. u tell me deh

Pi…

Wednesday, May 10th, 2006

Baru jumpa kamu kemarin malam, menyapamu sebentar dan akhirnya kuputuskan membawamu pulang. Penuh semangat kulepas pelindungmu, kubiarkan jemariku menjelajah dirimu, lumayan berisi dan halus. Mmmm…rupanya mereka tau bagaimana menciptakan dirimu, dan aku harap ‘isi’ mu sebagus kulitmu. Sebelum jatuh tertidur aku mencoba mengenalmu sebentar, sayang belum begitu lama kita bermesraan aku dah ga kuat…zzzzzzzz….

Pi, hari ini kamu udah berhasil memberiku semangat mematikan pc dan bergegas keluar dari opis. Aku begitu ingin menyentuhmu dan menyatukan diriku dalam imajinasimu. Pi, I miss u :)

loneranger

Friday, May 5th, 2006
“May God give me…
a rainbow 4 every storm,
a smile 4 every tear,
a blessing 4 every trial,
a sweet song 4 every sigh,
an answer 4 every pray,
…HAPPY B’DAY.. wish me all the best!”
-Amen-

remek

Tuesday, May 2nd, 2006

Udah hampir seminggu lebih badan pegel2 dan serasa tulang lepas dari tempatnya. Baru nyadar kalo dah lima bulan ga pernah gerak badan, badan jadi sering sakit, lemes dan ga bergairah. Sepertinya aku harus segera memutuskan untuk jadi sehat, sebelum benar-benar dihajar ‘5L’.

Dulu, waktu belum nyasar di sini, gerak kaki selama 4 x seminggu abis pulang opis sudah jadi rutinitas wajib. Sayang, sekarang dah ga bisa lagi :( . Kenapa? sibuk! …selalu itu yang jadi alasan, padahal aku sadar banget kalo itu cuman sekedar alasan klasik dari rasa malas tak berujung.

“….kalo selama ini aku selalu punya banyak waktu buat merusak badan, mengapa aku ga bisa meluangkan waktu untuk mengolah badan?”

Huh! sayang berkeringat dalam selimut selalu lebih nikmat ketimbang mengelap peluh usai lari 5 x keliling lapangan…huuuuaaaa…pengen bugar! ayo semangat…..semangat….semangat!!!!